What Coincident

What Coincident

Pertemuan yang kedua ini tak pernah kuduga akan terjadi. Meski kuakui kalau kamu kadang masih melintas dalam benakku.
Aku kembali menjabat tanganmu. Senangnya bahwa kamu, seperti juga manajer personalmu, masih mengingatku. Kita melewatkan hampir tiga jam malam itu. Bersama-sama.  Laugh for the same joke, enjoy the same conversation. Larut dalam kesenangan, kebersamaan, kehangatan dan kenyamanan. I think maybe we can see to the same direction in life. Hohoho.
Kamu  sempat merunduk dekat kakiku untuk mengambil cricket, yang mungkin sengaja kamu jatuhkan. Memangnya mau sinetron-an ya? Untung aku tidak terpancing untuk ikut merunduk mengambilkan, sehingga kita bisa bayangkan adegan berikutnya yang mungkin terjadi. Nice try, guy. But you didn’t succeed for that one.
By the way, di luar usahamu yang lucu itu, aku terkesan saat kamu memakai kupluk putih yang kuberikan. Kubawa empat kupluk untuk keempat personel band yang rencananya umroh dua bulan lagi. Tapi konon berangkat umrohnya mundur sampai pertengahan tahun depan.
Sambil memakai kupluk putih itu, gurauan dan leluconmu kembali menghangatkan suasana. Ceritamu tentang tukang cukur (yang mengingatkan pada ‘perbincangan tak kasat mata’ kita tentang rambutmu), tentang rumah Palembang yang tidak sempat ditengok, tentang usaha empek-empek yang tutup karena mama-mu capek, dan juga rencana novel tentangmu. Kamu minta aku mengirimkan saja pertanyaan-pertanyaan berkaitan dengan novel via email. Yups, tentu saja saat rehat begini paling enak adalah ngobrolin yang santai dan ringan.
Kesopananmu, caramu memanusiakan manusia, nguwongke, menghargai orang lain, keberadaan dan juga pemberian  semakin membuat hatiku jatuh. Kuakui atau tidak kuakui.
**
Kukira aku tak akan rindu. Kupikir rasaku sudah beku. Kusangka tombol off hatiku sudah bekerja dengan baik. Tapi rupanya selang sehari sejak pertemuan kembali itu, justru ada rasa hampa dan rindu mengetuk-ngetuk jiwa.
Kubawa diriku sibuk agar teralihkan rasa tak nyaman ini. Sepertinya dia sudah duluan merasakan ‘kesakitan’ ini. Karena dia berdoa di akun instagram-nya supaya Tuhan mengangkat ‘sakit’nya. Yach, sakit apalagi yang bisa terjadi setelah pertemuan yang sama-sama menahan rasa dan membatasi diri agar jangan sampai saling memandang dan bersirobok mata. Pengalaman terdahulu mengajarkan bahwa mataku bisa menenggalamkan dirinya ke dalam arus yang dalam. Dan demikian pula diriku tak sanggup tidak meleleh saat melihat senyum di bibirnya. Maka yang terjadi adalah kami sama-sama saling menahan justru saat kami berdekatan dan punya kesempatan. Sehingga efeknya yang tertahan waktu itu sekarang ini meminta ruang untuk pelepasannya.  Oh, ya Tuhan. Rindu itu antara enak dan tidak enak. Kayaknya semua orang juga tahu ini. Jadi tidak perlu diperpanjang ya.
**
Yang kutahu, Tuhan mengirimkanmu untukku agar aku belajar sesuatu. You have qualities that I need to be. Dan mungkin juga sebaliknya begitu. I have qualities that you need to be. Mungkin. Karena apa gunanya meninggikan diri sendiri kalau ternyata justru malah merendahkan diri karena sebenarnya tak setinggi itu.
By the way, cinta tak seharusnya dibikin berat. Bikin saja ringan seperti layangan. Bikin saja santai, kayak di pantai. Cinta mustinya tanpa syarat. Cinta itu membelenggu  atau membebaskan? Menyakiti atau menyembuhkan? Menggalaukan atau menenangkan? Meniadakan atau mengadakan?  Atau memang perpaduan keduanya?  Bahwa cinta itu paradoks di samping juga adalah keseimbangan. Atau cinta adalah tidak itu semua. Cinta itu ya cinta saja. Atau seperti postingan status yang ditulis oleh salah satu personel band-mu; Biarkanlah cinta menjadi sebuah cinta.


Komentar