improving writerpreneurship

Post Top Ad

Agustus 07, 2026

‎Minimnya Fasilitas Pendidikan sampai Mood Anak Menjadi Kekhawatiran Wali Murid untuk Melanjutkan Studi Anak-Anaknya

by , in

 *‎Minimnya Fasilitas Pendidikan sampai Mood Anak Menjadi Kekhawatiran Wali Murid untuk Melanjutkan Studi Anak-Anaknya*


‎Sabtu (1/8) lalu, Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) UIN Walisongo Semarang Posko 93 baru saja mengadakan sosialisasi tentang pentingnya pendidikan di SDN 2 Tlogoweru. 

‎Dalam acara tersebut, Mahasiswa KKN Posko 93 menghadirkan Dian Nafiatul Awwaliyah, seorang dosen UNISFAT yang telah lama berkecimpung di dunia pendidikan. 

‎Acara sosialisasi dihadiri oleh seluruh siswa-siswi kelas VI SDN 2 Tlogoweru. Beberapa wali murid juga hadir memenuhi undangan. Karena bagaimanapun, wali murid adalah sosok yang membiayai pendidikan anak-anak tersebut. 

‎"Dengan pendidikan, InsyaAllah dipermudah. Mulai dari memperluas wawasan, menambah relasi, memperbanyak kesempatan, dan banyak hal tak terduga lainnya," cerita Dian Nafi. 

‎Ibu-ibu yang hadir mengangguk. Meskipun hanya ada 14 wali murid dari total 26 yang hadir, sosialisasi tersebut berjalan interaktif. Beberapa ibu mengangkat tangan, mengungkapkan keluhannya tentang melanjutkan pendidikan anaknya. 

‎"Di sini nggak ada SMP, MTs, Bu. Kalau mau melanjutkan pendidikan itu berarti harus keluar desa. Jauh, Bu," ungkap Solehah, salah satu wali murid kelas enam. 

‎"Iya, Bu. Kalau naik sepeda kejauhan, tapi kalau dikasih motor khawatir. Ibunya juga nggak bisa nganterin karena kerja," ujar wali murid lain, Minchatul. 

‎Keluh kesah jarak yang jauh tersebut juga diangguki oleh beberapa wali murid yang lain. Selain itu, biaya pendidikan yang tidak murah juga membuat orang tua berpikir berulang kali untuk melanjutkan pendidikan anak-anaknya. 

‎"Apalagi anak saya sekolahnya nanti kedokteran. Biaya pendidikannya kan tinggi," ujar Jumianti, wali murid sekaligus wali kelas VI SDN 2 Tlogoweru. 

‎"Tapi anak-anaknya juga mood-moodan, Bu. Disuruh belajar sulit," ucap Kasanah, wali murid lain siswa kelas enam. 

‎Menanggapi berbagai kekhawatiran tersebut, Dian Nafiatul Awwaliyah menegaskan bahwa keterbatasan jarak maupun biaya tidak seharusnya menjadi alasan untuk menghentikan pendidikan anak. Ia memperkenalkan sejumlah program bantuan pendidikan yang dapat dimanfaatkan masyarakat, seperti Kartu Indonesia Pintar (KIP), bantuan dari Baznas dan Lazismu, hingga berbagai pondok pesantren yang menyediakan pendidikan dengan biaya terjangkau bahkan gratis.


‎Selain itu, Dian Nafi juga mengajak para orang tua untuk lebih kreatif dalam menerapkan pola asuh (parenting) agar semangat belajar anak tetap terjaga. Menurutnya, setiap anak memiliki karakter dan cara belajar yang berbeda, sehingga orang tua perlu membangun komunikasi yang baik, memberikan apresiasi, serta menciptakan suasana belajar yang menyenangkan agar anak tidak mudah kehilangan motivasi.


‎Melalui sosialisasi ini, Mahasiswa KKN UIN Walisongo Semarang Posko 93 berharap para siswa kelas VI SDN 2 Tlogoweru semakin termotivasi untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Di sisi lain, para orang tua diharapkan semakin memahami pentingnya peran mereka dalam mendukung pendidikan anak, baik melalui pemanfaatan berbagai program bantuan pendidikan maupun dengan menerapkan pola asuh yang mampu menjaga semangat dan mood belajar anak.

Juni 11, 2026

Menyambut Muharram: Tentang Awal yang Tidak Selalu Baru

by , in

 Menyambut Muharram: Tentang Awal yang Tidak Selalu Baru






Setiap kali Muharram datang, selalu ada kalimat yang berulang: tahun baru, semangat baru. Kita seperti diingatkan untuk memulai lagi—menata niat, merapikan langkah, dan diam-diam berharap kali ini semuanya akan berjalan lebih baik.

Tapi semakin ke sini, aku mulai merasa… tidak semua awal benar-benar terasa baru.

Ada hal-hal yang masih sama. Rutinitas yang itu-itu saja. Kebiasaan yang belum juga berubah. Bahkan doa-doa yang masih diulang dengan harapan yang serupa.

Dan mungkin, itu tidak apa-apa.

Muharram tidak selalu harus dirayakan dengan perubahan besar. Kadang, ia datang hanya untuk mengingatkan—bahwa waktu tetap berjalan, dan kita diberi kesempatan lagi, meski dalam kondisi yang belum sepenuhnya siap.

Aku pernah berpikir bahwa memulai tahun baru harus dengan sesuatu yang besar. Resolusi yang jelas. Target yang tinggi. Perubahan yang terlihat.

Tapi nyatanya, hidup tidak selalu bergerak sejauh itu.

Ada tahun-tahun di mana yang bisa kita lakukan hanya bertahan. Menyelesaikan hari dengan cukup baik. Menjaga diri tetap utuh, meskipun tidak banyak yang berubah.

Dan mungkin, itu juga bagian dari perjalanan.

Muharram mengingatkan kita pada hijrah. Tapi hijrah tidak selalu berarti pindah sejauh mungkin. Kadang, ia hanya tentang bergeser sedikit—dari kebiasaan yang tidak baik ke yang sedikit lebih baik. Dari sikap yang terburu-buru ke yang lebih sabar. Dari merasa cukup sendiri, menjadi lebih mau meminta pertolongan.

Hal-hal kecil, yang sering kita anggap tidak berarti.

Padahal justru di sanalah perubahan diam-diam terjadi.

Di awal tahun ini, aku tidak ingin membuat terlalu banyak janji pada diri sendiri. Tidak juga ingin menetapkan target yang terlalu tinggi.

Aku hanya ingin berjalan dengan lebih sadar.

Lebih peka pada apa yang kulakukan. Lebih jujur pada apa yang kurasakan. Dan mungkin, sedikit lebih berani untuk memperbaiki hal-hal yang selama ini dibiarkan.

Karena pada akhirnya, tahun baru bukan tentang seberapa jauh kita melangkah.

Tapi tentang apakah kita benar-benar bergerak, meskipun pelan.

Selamat datang, Muharram.

Semoga kita tidak hanya menghitung waktu yang berlalu, tapi juga memahami apa yang sedang kita jalani.

**

Baca buku-buku bertema menata ulang (reset) dan semacamnya di sini >> https://play.google.com/store/books/series?id=iJiKHAAAABADhM

Maret 13, 2026

Seri Neuro: Enterpreneur Juga Perlu Mengenal Mental

by , in

 Seri Neuro: Enterpreneur Juga Perlu Mengenal Mental 


Menjadi entrepreneur itu seperti menavigasi hutan belantara. Kadang penuh ide segar, kadang tersesat di tengah rintangan yang membingungkan. Pikiranmu bergerak cepat, emosi naik-turun, dan keputusan harus diambil setiap hari.

Di sinilah Seri Neuro – Dian Nafi hadir sebagai kompas dan panduan perjalanan mentalmu. Buku-bukunya membantumu memahami pola pikir, mengelola stres, dan meningkatkan fokus—hal-hal yang sangat dibutuhkan untuk tetap kreatif dan produktif di dunia bisnis.

Seri Neuro mengajarkan bahwa mental yang sehat dan fokus bukan hanya mendukung hidup pribadi, tapi juga menjadi fondasi untuk keberhasilan bisnis. Setiap halaman memberi latihan, refleksi, dan wawasan yang bisa langsung diterapkan dalam membangun ide, memimpin tim, dan mengambil keputusan yang tepat.

✨ Jadi, kalau kamu ingin membangun bisnis dan tetap waras, kreatif, dan fokus, mulai jelajahi pikiranmu dulu. Seri Neuro adalah mentor mentalmu di perjalanan entrepreneur ini.

link buku seri Neuro: https://play.google.com/store/books/series?id=NG2fHAAAABCqcM

#SeriNeuro #DianNafi #EntrepreneurMindset #MindfulBusiness #SelfAwareness #MentalFitness

Maret 12, 2026

ADHD dan Spiritualitas: Panduan Praktis Menemukan Kedekatan dengan Tuhan

by , in

 ADHD dan Spiritualitas: Panduan Praktis Menemukan Kedekatan dengan Tuhan


Apakah Anda atau orang yang Anda dampingi hidup dengan ADHD dan sering merasa sulit konsisten dalam ibadah? Sholat bolong, dzikir jarang, atau tilawah terasa berat? Rasa bersalah sering muncul, membuat spiritualitas terasa lebih seperti beban daripada sumber ketenangan.

Jika ini terdengar familiar, buku “ADHD, Spiritualitas, dan Lailatul Qadar” hadir sebagai jawaban praktis. Buku ini bukan sekadar teori; ia memberikan strategi nyata dan langkah demi langkah untuk membantu orang dengan ADHD membangun ibadah yang konsisten, realistis, dan bermakna.

Mengapa Buku Ini Penting?

Banyak pendekatan spiritual mengasumsikan kemampuan fokus dan konsistensi yang “normal”. Namun, bagi ADHD, itu bisa menjadi sumber rasa gagal. Buku ini mengubah perspektif itu: ADHD bukan penghalang, tapi bisa menjadi kekuatan spiritual.

Lewat halaman-halamannya, pembaca akan menemukan:

  • Tiny Habits & Amalan Kecil: Cara membangun ibadah yang realistis dan konsisten tanpa merasa terbebani.

  • Strategi Emosi & Stres: Mengelola rasa gagal, frustrasi, dan distraksi agar ibadah tetap bermakna.

  • Memanfaatkan Energi ADHD: Fokus dan intensitas ADHD diarahkan menjadi pengalaman spiritual yang mendalam.

  • Panduan Lailatul Qadar: Cara menghadapi malam istimewa ini dengan strategi realistis dan personal.

Siapa yang Bisa Mendapat Manfaat?

  • Individu dengan ADHD yang ingin memperbaiki ritme ibadah sehari-hari.

  • Orang tua, guru, atau pendamping anak ADHD.

  • Siapa saja yang ingin memahami cara menghadapi gangguan, distraksi, dan rasa gagal dalam spiritualitas.


link buku
Januari 28, 2026

Bertumbuh Sebagai Entrepreneur: Ketika Bisnis Jalan, Diri Sendiri Tertinggal

by , in

 

Bertumbuh Sebagai Entrepreneur: Ketika Bisnis Jalan, Diri Sendiri Tertinggal




Entrepreneurship sering digambarkan sebagai perjalanan yang berani, visioner, dan penuh ambisi.
Tapi jarang dibicarakan bagian sunyinya.

Tentang hari-hari ketika bisnis tetap berjalan,
tapi di dalam diri ada lelah yang tidak sempat diproses.

Target harus tercapai.
Keputusan harus diambil cepat.
Tampil yakin, meski ragu.

Dan pelan-pelan, tanpa sadar, kita belajar menunda perasaan sendiri.

Bertumbuh Cepat, Tapi Tidak Selalu Sehat

Dalam dunia bisnis, bertumbuh sering diartikan sebagai:

  • omzet naik,

  • tim bertambah,

  • jangkauan meluas.

Namun, tidak semua pertumbuhan bersifat sehat.

Ada fase ketika kita terlihat berkembang di luar,
tapi terkikis di dalam.

Terbiasa membandingkan progres dengan kompetitor.
Merasa tertinggal karena bisnis orang lain tampak lebih “jadi”.
Menuntut diri untuk selalu kuat dan tahan banting.

Padahal, setiap bisnis lahir dari kondisi, sumber daya, dan luka yang berbeda.

Proses yang Tidak Selalu Bisa Dipamerkan

Tidak semua proses entrepreneur layak diunggah.
Ada kegagalan yang terlalu personal.
Ada keraguan yang tidak bisa dibagikan ke tim.

Belajar menetapkan batas.
Belajar berkata cukup.
Belajar menerima bahwa istirahat bukan kemunduran.

Semua itu jarang disebut sebagai “kesuksesan”,
padahal justru itulah yang membuat perjalanan bisa berlanjut.

Tentang Growing While Healing

Growing While Healing bukan buku bisnis.
Ia tidak berisi strategi pemasaran atau cara scale-up.

Buku ini hadir untuk ruang yang sering terabaikan:
ruang di mana entrepreneur tetap manusia.

Di dalamnya, kamu akan menemukan refleksi tentang:

  • bertumbuh tanpa tuntutan kesempurnaan,

  • menghargai proses pribadi tanpa membandingkan diri,

  • berdamai dengan kegagalan,

  • dan membangun hubungan yang lebih sehat dengan diri sendiri.

Karena bisnis yang bertahan lama
sering kali ditopang oleh individu yang belajar merawat dirinya.

Ketika Bertumbuh Juga Berarti Berhenti Sejenak

Entrepreneurship adalah maraton, bukan sprint.
Dan tidak ada gunanya berlari cepat
jika kita kehilangan diri sendiri di tengah jalan.

Mungkin, keberanian terbesar bukan hanya memulai bisnis,
tetapi mengakui bahwa kita juga perlu pulih.

Jika kamu sedang membangun sesuatu—usaha, mimpi, atau visi—
Growing While Healing bisa menjadi teman refleksi
di sela-sela strategi dan target.

Bukan untuk membuatmu melambat tanpa arah,
tetapi untuk memastikan kamu bertumbuh dengan lebih sadar.

Karena pada akhirnya,
bisnis bisa berkembang berkali-kali lipat,
tapi diri sendirilah yang harus kamu bawa seumur hidup.

**

Baca juga buku growing while healing. Berikut link-nya: 

http://lynk.id/diannafi/mvl17zx4kwgv


http://lynk.id/diannafi/mvl17zx4kwgv/checkout


Post Top Ad