*Minimnya Fasilitas Pendidikan sampai Mood Anak Menjadi Kekhawatiran Wali Murid untuk Melanjutkan Studi Anak-Anaknya*
Sabtu (1/8) lalu, Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) UIN Walisongo Semarang Posko 93 baru saja mengadakan sosialisasi tentang pentingnya pendidikan di SDN 2 Tlogoweru.
Dalam acara tersebut, Mahasiswa KKN Posko 93 menghadirkan Dian Nafiatul Awwaliyah, seorang dosen UNISFAT yang telah lama berkecimpung di dunia pendidikan.
Acara sosialisasi dihadiri oleh seluruh siswa-siswi kelas VI SDN 2 Tlogoweru. Beberapa wali murid juga hadir memenuhi undangan. Karena bagaimanapun, wali murid adalah sosok yang membiayai pendidikan anak-anak tersebut.
"Dengan pendidikan, InsyaAllah dipermudah. Mulai dari memperluas wawasan, menambah relasi, memperbanyak kesempatan, dan banyak hal tak terduga lainnya," cerita Dian Nafi.
Ibu-ibu yang hadir mengangguk. Meskipun hanya ada 14 wali murid dari total 26 yang hadir, sosialisasi tersebut berjalan interaktif. Beberapa ibu mengangkat tangan, mengungkapkan keluhannya tentang melanjutkan pendidikan anaknya.
"Di sini nggak ada SMP, MTs, Bu. Kalau mau melanjutkan pendidikan itu berarti harus keluar desa. Jauh, Bu," ungkap Solehah, salah satu wali murid kelas enam.
"Iya, Bu. Kalau naik sepeda kejauhan, tapi kalau dikasih motor khawatir. Ibunya juga nggak bisa nganterin karena kerja," ujar wali murid lain, Minchatul.
Keluh kesah jarak yang jauh tersebut juga diangguki oleh beberapa wali murid yang lain. Selain itu, biaya pendidikan yang tidak murah juga membuat orang tua berpikir berulang kali untuk melanjutkan pendidikan anak-anaknya.
"Apalagi anak saya sekolahnya nanti kedokteran. Biaya pendidikannya kan tinggi," ujar Jumianti, wali murid sekaligus wali kelas VI SDN 2 Tlogoweru.
"Tapi anak-anaknya juga mood-moodan, Bu. Disuruh belajar sulit," ucap Kasanah, wali murid lain siswa kelas enam.
Menanggapi berbagai kekhawatiran tersebut, Dian Nafiatul Awwaliyah menegaskan bahwa keterbatasan jarak maupun biaya tidak seharusnya menjadi alasan untuk menghentikan pendidikan anak. Ia memperkenalkan sejumlah program bantuan pendidikan yang dapat dimanfaatkan masyarakat, seperti Kartu Indonesia Pintar (KIP), bantuan dari Baznas dan Lazismu, hingga berbagai pondok pesantren yang menyediakan pendidikan dengan biaya terjangkau bahkan gratis.
Selain itu, Dian Nafi juga mengajak para orang tua untuk lebih kreatif dalam menerapkan pola asuh (parenting) agar semangat belajar anak tetap terjaga. Menurutnya, setiap anak memiliki karakter dan cara belajar yang berbeda, sehingga orang tua perlu membangun komunikasi yang baik, memberikan apresiasi, serta menciptakan suasana belajar yang menyenangkan agar anak tidak mudah kehilangan motivasi.
Melalui sosialisasi ini, Mahasiswa KKN UIN Walisongo Semarang Posko 93 berharap para siswa kelas VI SDN 2 Tlogoweru semakin termotivasi untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Di sisi lain, para orang tua diharapkan semakin memahami pentingnya peran mereka dalam mendukung pendidikan anak, baik melalui pemanfaatan berbagai program bantuan pendidikan maupun dengan menerapkan pola asuh yang mampu menjaga semangat dan mood belajar anak.
















