improving writerpreneurship

Post Top Ad

September 18, 2022

Writing Session Women Writers Conference

by , in

Panel lainnya di Women Writers Conference:
  1. Musdah Mulia dan Muslimah Reformis
  2. Faqihuddin Abdul Kodir dan Muslimah Reformis
  3. Musriya dan Muslimah Reformis
  4. Husein Muhammad dan Muslimah Reformis
  5. Kajian Gender Islam Nur Rofiah
  6. Participant Reflection
  7. Perempuan dan Pesantren
  8. Merumuskan Hukum Keluarga Adil Gender
  9. Perjalanan Menuju Mubaadalah
  10. Writing Session
Gambar

writing session Jadi 5 kelompok Tokoh perempuan Isu keluarga Pemberdayaan perempuan Seni dan sastra
Gambar
Partai poligami rame beut
Niswa, penddkn utk PBA utk mhswi Sari, kebijakan RUU PKS Nisa, relasi suis UU perkawinan Hili, kebijakan negara, publik 30% Amy, penddkn seks sejak dini Nursyamsiyah, politik perempuan Irna, perempuan bangjo Putri, perempuan Kalbar Ian, Domestifikasi Naili, gender dlm pddkn

Msg2 py karakter. Soul. Buya husein: tasawuf Kang oci: filsafat,kebudyaan K aril: news,politik,kemanusiaan Zahra: isu perempuan,aktifis, perlindungan anak, sastra Kyai faqih: lugas Tdk hrs pakai ayat dan hadits utk nulis yg py perspektif mubadalah

Materi pembelajaran bhs arab seringkali tdk memgarusutamakan kesetaraan gender

Sesi Reintropeksi Kewirausahaan perempuan Sosiologi, pddkn parenting yg berperspektif mubadalah Politik perempuan, keterwakilan di parlemen Ktdkterpilihan dipengaruhi byk hal. DPD tdk ada yg terpilih. Nomer urut tdk di atas Biaya politik mahal Budaya patriarki Paham keagamaan
Gambar
Solusi Relasi sosial, modal sosial Paradigm Edukasi Menggiatkan Membumikn

Teori gozmen. Kebijakan publik yg baik itu jk adil, universal Dekonstruksi penafsiran ayat dan hadits Konsep mubadalah utk membgn kesetaraan gender berdsr 5 goals SDGS

Membaca ulang ayat iddah Dg adanya Iddah, seorg perempuan bertransisi jd lbh kuat. Masa adaptasi. Belum menemukan tinjauan psikologisnya

Membaca hak2 suara perempuan dlm teks2 hadits yg diriwayatkan perawi perempuan 717 hadits Rasul adl feminis pertama Krn suara perempuan didengarkan sejak ada islam Umar bilang dulu kami tdk dengar suara perempuan Hafsah berargumen pd Rasul Via kisah2 yg akan dikompilasi jd buku


Gambar
Feedback dari bapak mubaadalah indonesia. Rukun utamanya keadilan hakiki. Dakwahkan kebaikannya, jgn problemnya. Memahami problem bagus utk menawarkan solusi kita. Tapi jangan terlalu byk mendekontruksi, jgn terlalu besar porsi kritiknya, krn tawaran solusinya tdk terlalu terlihat.


Gambar
Time for participant reflection Stlh dengar ttg mubaadalah: yulinar: tlsn ttg Dzihar bs digugat oleh perempuan n berani speak up Fadhila: jurnal prodi studi perbandingan agama. Kajian LGBT dr sdt pdg HAM, gaya nusantara. Butuh narasi agamanya Cari narsum utk Isu seksualitas
Gambar
Penddikn seksualitas bs dimulai dg sederhana. Misalnya tdk boleh dicium oleh tantenya kecuali mau. Rencana penulisan: Tlsn populer Tlsn ilmiah, membndgkn dg penddkn seksualitas di korea selatan. Memasukkan perspektif mubaadalah antara anak,ortu,guru Memasukkan referensi2 mbdlh



Lewat game dan role play, anak2 diminta diskusi, mempertanyakan persepsi gendernya. Shg tahu bhw laki2 boleh balet Zakiyah: bu Nyai sadar ketahanan pangan. Ada 28rb pesantren di indonesia dg puluhn juta santri,bs jd cnth. Nanam sendiri, fiqh sosial mitra,mubaadalah Agen gender


Aisiyah: khitan perempuan dlm perspektif hadits. Kajian living hadits di polewali mandar, sulawesi barat. Hadits dhoif. Knapa masy bertahan Tradisi berlaku turun temurun. Pdhl ayahnya antropolog,tp anak tetap dikhitan Melanggar HAM Prosedur masolo Pisaunya berkarat Proses ditutup

Gambar
Laa tunhikii Rasul melarangnya sedikit demi sedikit Ria: jurnal dan modul advokasi Menyoal perempuan, perdamaian dan intoleransi Cara2 dialog, sapa, srawung dst Pepi: relasi suis. Dunia terbalik.
Gambar
Gender sgt kompleks, jd hrs Fokus
Gambar
Menginternasionalkan mubaadalah





September 18, 2022

Kumpul Diskusi Peneliti LIPI dan UI

by , in
Kumpul Diskusi Peneliti LIPI dan UI


Subhanallah alhamdulillah pada akhir November kemarin saya sempat hadir pada kumpul diskusi peneliti LIPI dan UI di Depok.

Berangkat dari daerah Jakarta Timur naik angkot oranye langsung ke daerah sekitaran Universitas Indonesia.

Pagi sampai sore itu di sebuah base camp yang memang sering menjadi tempat kumpul dan diskusi para aktifis, scholar, peneliti, saya bertemu dengan banyak orang hebat dan berdedikasi.

Ada pak Bisri Efendi, sahabat Gus Dur, seorang peneliti LIPI. Beliau alumni Leiden University, jurusan sastra. Jadi kami seolah nostalgia Leiden ketika bertemu. Saya bercerita pengalaman selama dua minggu di Holland Juni 2019 lalu, dan memang waktu yang paling banyak aku habiskan di Leiden. Pak Bisri Efendi bercerita pengalamannya selama menempuh master dan doktor di kota Indah itu.

Pak Alfin Siagian yang debat dengan editor novel Gus, tentang semestinya novel itu tidak perlu diedit. Hehehe.

Cak Tarno yang toko bukunya sering dijadikan tempat diskusi para dosen dan mahasiswa Universitas Indonesia.

Dan beberapa lagi lainnya yang datang hari itu untuk mendiskusikan follow up kegiatan workshop kepenulisan yang digelar beberapa waktu sebelumnya. Juga merancang kegiatan lanjutan serta rancangan strategi untuk pengadaan konten digital maupun buku fisik serta tentu saja riset penelitian yang harus dilakukan ke beberapa lokus sumber data yang mau dituliskan .

Dalam kesempatan itu, pak Bisri Efendi memberiku referensi dan meminjamiku buku miliknya,  yang bicara tentang sejarah Demak. Kamu harus baca ini, kata beliau.

Alhamdulillah kubaca bukunya dari awal sampai akhir, dan memang membukakan banyak insight serta wawasan baru.

Untuk jejaring santri yang mereka bangun dan kembangkan, aku janji mengirimkan lima tulisanku terkait pesantren milik keluarga, paklik, bulik, sepupu dan keponakanku.

Dan cita-citaku untuk menulis novel imajiner tentang perempuan-perempuan di masa kerajaan Demak mendapatkan sambutan baik serta dorongan dari mereka. Ayo lekas ditulis, ditunggu terbitnya.
Semoga bisa segera terwujud ya. Aamiin.

Senang sekali meràsakan ambience brainstorming, suasana diskusi ilmiah para intelektual yang mengalir dinamis dan seru ini. Very inspiring and shifting the paradigm.



September 18, 2022

Cara Membuat Konsep atau Teori

by , in

Laptop, Apel, Macbook, Komputer

Cara Membuat Konsep atau Teori

Beberapa hari lalu aku bertanya di twitter. 

Bagaimana sih caranya kalau mau bikin teori, establish sebuah konsep, yang kita dapat dari asumsi. ie: hybrid paradox.

Bagaimana cara elaborasinya, bagaimana cara pembuktiannya, validasinya dll

lalu beberapa mutual di twitter berbaik hati memberikan penjelasan.

Secara ilmiah harus dimulai dari penelitian. Penelitian yang sahih harus menggunakan kaedah metode ilmiah. Salah satu perintah dari metode itu adanya hipotesis awal. Jadi teori tidak dibangun di atas pondasi asumsi, tapi di atas hipotesis yang sudah divalidasi.

Dari penelitian itu kita ambil kesimpulan, baik secara induksi maupun deduksi. Kesimpulan dari penelitian yang dipakai untuk menerangkan hal lain inilah yang nantinya dinamakan teori.

Untuk menguji sebuah teori, kita bisa menggunakan metode matematika atau melakukan penelitian kembali. Metode matematika ini membalikkan persamaan (teorema) matematis menjadi angka-angka yang rasional. Kalau ingin menguji penerapannya, dilakukan penelitian ilmiah kembali.

Kalau naratif saja gak bisa ya. Hrs matematis pembuktiannya?

Tidak harus matematika. Kalau teori berbentuk persamaan matematika, pembuktian BISA dengan matematika. Idealnya adalah dengan penelitian untuk membuktikan kebenarannya di lapangan. Penelitian kan bisa kualitatif, ga perlu statistik juga.

Tergantung pendekatan Mba. Ada dua penalaran yg biasa kita ketahui: Metode penalaran induktif atau deduktif. Asumsiku klo "bikin teori" cenderung dgn metode pendekatan induktif: mis Grounded Theory karena berfungsi mengembangkan teori. Selain itu juga bergantung pada argumen awal.

Argumen berdasarkan pengamatan atau pengalaman paling baik diungkaokan secara induktif. Sedangkan argumen berdasarkan hipotesis, hukum, aturan, atau prinsip lain paling baik diungkapkan secara deduktif.


ANALISIS

Terus aku yang rebel ini bertanya lagi dong.

Kalau menganalisa, coding, categorizing data berdasar temuan yg ada,tanpa bekal teori/konsep baku yang sdh ada sblmnya sbg pisau bedahnya, boleh apa nggak? Bisa apa nggak?

teman-teman mutual di twitter berbaik hati menyampaikan opini dan masukannya.

Memaparkan temuan bisa berbeda antara kuanti & kuali. Kuanti merujuk tetap pada RQ, dan jgn sekali2 memasukkan bahasa interpretasi di dalamnya. Kuali lazimnya jd satu hasil & diskusi, kita membangun pola dr kata kunci setiap tema, melihat koneksi dgn pisau analisis (teori).

Apakah boleh menggabungkan bbrp teori sbg pisau analisis? Misal teori hybrid, trus teori paradox, dan kita menyebutnya sbg upaya analisis hybrid paradoz approach?

Maksudnya proses sintesis dia teori yg sudah ada, lalu kita mengkonsepkan sendiri? IMHO, tentu saja bisa tp permasalahannya iklim akademik mungkin akan meminta 'surat ijin meneliti' yg diakui utk memvalidasi 'temuan' itu, misalnya harus lulus doktor

*dua, dulu misal, belum banyak konsep soal manajemen komunikasi bencana. Yang ada adalah konsep manajemen dan konsep komunikasi. Lalu melalui perkembangan ilmiah, proses sintesis kedua konsep itu terwujud. lahirlah skrg teori manajemen komunikasi bencana

Betul. Dan ada bbrp versi juga ya pastinya


Dalam riset, ruang itu tersedia Mba di argumentasi novelty dan kontribusi penelitian meski masih melibatkan penelitian2 sebelumnya. Jd selama argumentasi clear brdsrkan kensenjangan, konsep yg coba dikembangkan bisa diterima.

Aku mau dong diajarin bikin dan mengembangkan konsep sekaligus validatingnya

Btw bisa disimak pemaparan Bung Martin ini Mba, kegelisahan kita bersama soal diskusi ini. (aku dikasih link youtube. alhamdulillah)

Laptop, Apel, Macbook, Komputer

Another insight

Harusnya bisa, apalagi analisis kita bisa jadi teori baru ya heuheu. Tapi karena belum dibukukan dan dipublikasi, belum dapat pengakuan, jadi ya tetap kudu pakai konsep/teori yg sudah ada. Maka, jadi gak boleh

Hahaha padahal Geertz (misalnya) juga sebetulnya "salah" dan dikritik ya dg trikotomi santri abangan priyayi. Tapi sempat dipakai terus dan dipercaya. Padahal, kita mustinya jauh lebih tahu dong, salah sendiri gak bikin publikasi.

kalau publikasinya belakangan nyusul gitu gak boleh ya?

Jadinya, balasan. Theory revisited. Kalau di media massa kan ada tuh tulisan opini disanggah dengan opini lain. Banyak akademisi pinter di negeri ini yg bisa bikin teori baru. Tapi jangan cuma diposting di medsos

Iya, musti dielaborasi dan dipublikasikan ke jalur yg seharusnya. Aku ada bbrp abstrak yg ditolak krn ya itu tadi nyoba2 pakai pisau analisis hybrid paradox, yg tentu saja jd pertanyaan hybrid paradox tuh teorinya yg mana (Lah belum kubikin yg formalnya):D

Wah hebaaat. Ntar dirimu pasti sampai ke titik itu, juga karena produktif dan rajin.

(Amiin ya Rabbal alamiin)


Other suggestion

Tergantung pendekatan yang kita gunakan...setiap pendekatan memiliki paradigma yang berbeda mengenai data.

Berarti bisa dan boleh ya, asal pendekatan yg digunakan ada argumennya

September 18, 2022

Kiat Membuat Plot Twist

by , in
Kiat Membuat Plot Twist
Tali, Lama, Pola, Simpul, Tekstur, Baris

cara membaca fiksi, Pasrah. Menebak ending tidak termasuk.
Ada yg caranya sama, ada yg beda, dan ndak masalah. Karena kita mencari hal2 yg beda dr aktivitas membaca. Dan semuanya benar


Kadang, membaca fiksi perlu pasrah. Sama kek dunia nyata, ndak semua hal dalam dunia fiksi harus, perlu, dan bisa dimengerti. Kita boleh dan bisa ndak ngerti. Yang perlu cuma dilewati, dibaca.
Sering, baru belakangan kita bisa ngerti apa maksudnya. Atau, tidak.

"Menebak Ending cerita" memang bawaan mungkin semua orang. Bukan cuma fiksi, tapi semua kejadian apa pun yg mengandung cerita. Misal: ada temen yg malem ujian main PS semaleman. Sometimes, we can't help but guess "Ini anak bakal gak lulus". Ketika dia lulus: Plot twist

Ini sebabnya saya menduga(-duga saja) bahwa cara kita membaca fiksi (bisa) mencerminkan bagaimana cara kita memandang orang lain juga. Dan ini hal wajar. Karena, sbg manusia, kita selalu berusaha utk memahami dunia di sekitar kita.

Kita adalah makhluk yg antisipatif. Berdasarkan sedikit clue n cue kita mencoba menebak seperti apa kejadian berikutnya. Ini bagian dr insting survival kita. Sbnrnya PLOT TWIST itu TIDAK ADA. Yg ada adalah Kita melewatkan tanda2 yg halus atau subtil atau tidak terlalu tampak.
Contoh dr kasus temen yg main PS semaleman dan ternyata lulus (dg nilai tertinggi pulak!). Kesel nggak, sih? Kok dia santai bisa begitu. Plot-twist-nya akan hilang KALAU berikutnya kita tahu trnyt dia punya catatan kecil yg selalu dia bwa di kantong dan dia baca tiap 30 menit.

Mengapa? Ini tergantung pada clue n cue yg bisa kita tangkap dg panca indra kita. Kalau kita cuma (bisa) melihat saat2 temen "pemalas" kita itu main PS, ya, kita akan cenderung menganggap titik plot berikutnya: "dia tidak lulus". Kalau kita tahu kebiasaan dia ya jd wajar.
Tali, Simpul, Terikat, Twisted, Perahu
Membaca Fiksi juga seperti itu. Penulis sbnrnya (dan seharusnya) TIDAK DADAKAN menaruh plot-twist. Butuh keahlian untuk menaruh tanda2 halus, subtil, dan seakan tidak tampak tapi ada di dalam naskah, sebelum plot-twist dijatuhkan. Bacaan lanjut sila search RED HERRING.
Ketika kita menduga2 hasil berdasarkan sedikit petunjuk, sbnrnya apa yg terjadi? Di saat yg sama, pikiran kita akan fokus hnya pd dugaan & pikiran akan menyeleksi clue n cue yg MEMBENARKAN dugaan & menafikan petunjuk yg tidak sejalan. Inilah penyebab PLOT TWIST yg utama.
Jadi, sebenarnya PLOT TWIST tidak sepenuhnya terjadi di naskah, melainkan terjadi DI DALAM KEPALA PEMBACA. Penulis cuma bisa sampai pada usaha utk membuat clue n cue yg halus, subtil, & tidak terlalu tampak. Apakah akan berhasil jd Plot Twist? Ini tergantung pd pembaca.

Buat pembaca2 yg 'pasrah', plot-twist sulit utk bekerja. Mengapa? Krn tanpa dugaan, pikiran mereka jadi tidak diskriminatif trhdp informasi. Informasi2 yg halus pun bisa tertangkap. Memuaskan pembaca model ini jd sulit. Krn, mereka butuh keseluruhan badan cerita yg solid.

Jadi, walau PLOT-TWIST bisa signifikan meningkatkan kepuasan saat membaca, alangkah baiknya jika Kita tidak terlalu fokus utk mengukur kualitas buku HANYA berdasarkan plot-twist. Melainkan, menikmati cerita sbg keseluruhan pengalaman pembacaannya.

Kalau kita bisa menikmati bacaan tanpa berharap plot-twist. InsyaaAllah, akan tampak bahwa sebenarnya banyak buku yg di-crafting secara luar biasa dr ujung ke ujung. Dan, cerita2 yg dg sengaja diplot-twit-plot-twist-kan trnyta biasa saja. Anggaplah Plot-twist bonus.

Tambahan: Gm pun Plot Twist harus MASUK AKAL. 1. Orang males, lulus ujian: Ini BUKAN plot-twist, ini namanya memgada2.
Tanda silang
2. Orang Pinter, IQ 150, demen main PS, cuma bikin cateten kecil, yg ditunjukkan scr jelss ke pembaca cuma main PS-nya. Lulus: INI plot-twist.

Plot-twist adalah menunjukkan sebagian petunjuk dg cara sangat nyata (sehingga pembaca keliru menebak), dan menyembunyikan petunjuk yg sebenarnya dg membuatnya tidak kentara (tapi tetap ada). Jgn sampai niatan bikin plottwist malah jd adegan gak logis.
Btw, jangan berharap plot-twist bermanfaat klo ketemu pbaca2 kek sy yg nggak menebak2 ending (n nyari spoiler).
Wajah tersenyum dengan mulut terbuka dan keringat dingin





Sengaja nge-plot-twist akan totally useless di hadapan pembaca yg tidak menebak2
Tangan melipat
Saran: Nggak usah kelewat pngen plot-twist. Cukup bikin cerita yg sreg aja.

Yg hrsnga bingung sama keputusan tokoh adlh pbaca, bukan penulis. Penulis TIDAK dlm posisi memilih keputusan sprti tokoh. Penulis SUDAH menentukan keputusan tokoh, lalu bikin sekian pilihan semu, biar pbaca merasa seru aja—tokohnya punya bnyk pilihan. Pdhl mah nggak.

Buat penulis, tokoh cuma punya satu pilihan, satu tindakan, satu nasib, dan satu hasil. Semua percabangan yg muncul di naskah semuanya ILUSIF utk bikin pbaca excited n bersemangat baca. Jadiiii. TIDAK BOLEH ada plot-twist di kepala penulis. Semua harus jelas n terencana.

sumber wisnucuit
September 11, 2022

ELWVATE 4 by Dian Nafi

by , in

 ELWVATE 4 by Dian Nafi



Menyusul 3 seri buku Elwvate karya Dian Nafi yang sudah terbit sebelumnya, berikut buku ELWVATE 4.

Beberapa tulisan di dalamnya adalah sebagai berikut:

Women Resilience in Demak Coastal Area

Collaboration of Literacy Communities for Creative City

Green Technology Policies and Campaign For Sustainable Development

Good, Effective and Succesful Public Policy

Handling Garbage for Social Welfare and Earth Sustainaibility

Suspending Classes Without Stopping Learning: China's Education Emergency Managmenet Policy in Covid-19 Outbreak

Indonesia Enterpreneurship Narrative Development for Autonomy, World Peace & Sustainability

Phenomenon of Deglobalization, Reglobalization, Slowbalization

Resilience of Small and Medium Enterpreneurship

Narrative Story Telling of Country Branding and Its Products & Services

Adaptation With Grassroot Culture and Protection in Favor of People's WelfareHow Technological Innovation could Boost Sustainable DevelopmentThe Fiscal Policy

Versi digital/ebook Elwvate 4 bisa dibeli via

Google Play

Google Books 



Berikut info buku Elwvate 1


Judul: Elwvate 1

Penulis: Dian Nafi

Jumlah halaman: 165 hlm

Harga: 42rb

ini link pendeknya biar gampang kalau teman-teman mau ikut share ke kolega lainnya:) bit.ly/elwvate

Berikut link buku di Google Play https://play.google.com/store/books/details?id=2itBEAAAQBAJ atau versi link pendeknya  bit.ly/elwvate1


Berikut info buku Elwvate 2


Judul: Elwvate 2

Penulis: Dian Nafi

Jumlah halaman: 100 hlm

Harga: 35 rb


LINK buku elwvate seri 2 di google play: https://play.google.com/store/books/details?id=ZAJTEAAAQBAJ



LINK buku elwvate seri 2 di google books: https://books.google.co.id/books/about?id=ZAJTEAAAQBAJ&redir_esc=y



Link pendeknya: bit.ly/elwvate2


Berikut info buku Elwvate 3

Judul: Elwvate 3

Penulis: Dian Nafi

Jumlah halaman: 106 hlm

Harga: 35 rb


Google Books Elwvate 3


Google Play Elwvate 3



Kalau teman-teman  mau membeli versi cetak buku Elwvate (baik seri 1, seri 2, seri 3 ataupun seri 4), bisa pesan ke wa.me/6281328767574

Post Top Ad