Recent Posts

4 Apr 2020

Tips Menulis Novel: PREMIS

Tips Menulis Novel



PREMIS
peng-ide-an. Kenapa Pengidean? Karena ide juga hasil proses. Jadi "Ide" adlh hal terbuka yang bisa berubah seiring proses. Salah satu hal penting yang harus dikuasai adalah membedakan, mana yg disebut ide, bibit-ide, atau malah nyampah doang.

Contoh: Ah, gue mau cerita tentang cowok patah hati yang mo nyelesaiin skripsi. Buat gue, itu
Punggung tangan dengan jari telunjuk mengarah ke atas
BUKAN ide. Itu cuma celetukan yang BISA jadi ide. Nah! Celetukan itu harus diuji feasibility-nya utk jadi Ide. Caranya?

Masukkan celetukan itu ke dalam kerangka Premis Cerita. Kalau celetukan itu nggak bisa jadi Premis, celetukan itu bakal gw buang ke tong sampah. It's almost useless!


Ide Cerita harus selesai. Like, SELESAI. Cerita utuh dari awal sampe akhir cuma dengan 1 (satu) kalimat Premis. Percayalah, kalau kita gagal menjelaskan cerita kita dalam satu kalimat singkat, 50ribu kata nggak akan ada gunanya buat bikin ide itu jadi jelas

Celetukan yg gagal masuk premis jangan dilulusin. Catet aja di mana kek, kali aja kelak berguna. Kalaupun celetukan itu 'Selesai' hasilnya paling2 cuma cerita ngalor-ngidul ke sana kemari yang nggak ngiket n gak jelas arahnya


Kalimat premis sesederhana ini: Ada tokoh (dg karakterisasi xxx mengalami initial occurance) ingin mencapai (tujuan tertentu) tapi terhalang (sesuatu) sehingga akhirnya dia (berhasil/tidak-berhasil mencapai tujuannya dalam keadaan xxx).

Kalau celetukan itu tidak berhasil jadi kalimat, saran saya jangan coba2 mulai nulis. Bukan nakut2in. Tapi, kemungkinan besar mampet di tengah jalan. Trus? Gw buat beberapa keputusan utama tokoh yg bikin dia sampai (atau tidak sampai) ke tujuan. Ini namanya Key Moments.

Keputusan2 itu tergantung pada Halangan tokoh yg ada dalam premis yg sblmnya ud dibuat. Keputusan2 ini berisi rencana TINDAKAN NYATA yg dilakukan tokoh untuk menyingkirkan halangannya. Jumlahnya palingan 5-6 keputusan. Bahkan bisa lebih sedikit. Sya bikinnya urutan.

Stlh dapet Key Moments, trus? Saya akan mulai membuat 2 (dua) tiang pertama cerita. Apa itu? Opening dan Closing cerita.

Protagonis yg ada di premis langsung gw masukin ke dalam SETTING. Jadi di proses ini gw belum bener2 tahu karakterisasi si Protagonis akan macam apa kecuali hal yg mendasar (jenis kelamin, umur, pekerjaan/posisi dalam cerita).

Bentuk Opening n Closing ini adalah adegan bermasalah; BUKAN cuma deskripsi2 pemandangan, apalagi adegan dia bangun tidur sambil goler2. Melainkan, Protagonis langsung saya hadapkan sama masalah yang harus dipecahkan.

Ending juga bentuknya adegan setelah tokoh menghilangkan HALANGAN-nya (either dia berhasil ato nggak). Di akhir cerita HALANGAN pasti hilang. Bukan berarti karena dia brhasil. Bisa aja krn dia gagal atau malah mati. Orang mati gak bakal punya halangan lagi, kan?


Catat: Menghilangkan halangan tokoh TIDAK SAMA dengan doi berhasil mencapai tujuan.

Dari nulis Opening dan Ending, saya akan dapet KARAKTERISASI protagonis secara psikologis. Apa yang sy cari? Cara tokoh merespon masalah. Catat: Karakterisasi adalah totalitas respon karakter atas masalah dan kejadian yang muncul di dunianya.

HAPUS tuh ide2 yg bilang karakterisasi kek serangkaian ajektif (baik, ramah, senang membantu ibu, blablabla) plus hobi, potongan rambut, zodiak, makanan favorit, blublublu. Nyaris ga ada gunanya bikin begituan.

Sama kek manusia, KARAKTER harus dialami, karakterisasi muncul sebagai keputusan dan tindakan. Dari proses penulisan Opening dan Ending saya jg mulai merencanakan STILISTIKA, alias gaya tulisan yang akan saya pake (pertimbangan lain: pangsa pembaca).

Habis itu gw akan membuat LANDMARK cerita. Apa itu Landmark? Landmark adalah titik2 poin perjalanan tokoh ke arah tujuan. Ada 6 landmarks utama: 1. Impetus 2. Dramatic Question 3. Midpoint 4. Lowpoint 5. Climax 6. New World

IMPETUS: Kejadian awal yg menimpa tokoh; mendorong doi utk keluar dari hidup monoton sblmnya. Bentuknya bisa ancaman atau kesempatan. Misal: Diancam DO kalo skripsi gak selesai dalam 2 bulan. Kesempatan Beasiswa ke luar negeri. Dsb.

Impetus pada dasarnya adalah dorongan yang membuat protagonis memiliki TUJUAN (sudah dibuat sejak premis). Tp, Kesempatan/Ancaman gak berguna kalo tokohnya gak mau menyambut, kan? Mau diancam DO kek, klo tokohnya gak mau ngerjain skripsi ya cerita selesai!

Maka, muncullah: DRAMATIC QUESTION: Tokoh menyambut ancaman/kesempatan yang datang walau dia tidak tahu pasti apakah dia sanggup atau nggak. Pokoknya, tokoh pede aja buat lanjut. Harus. Harus. Harus.

MIDPOINT: Tokoh yang awalnya merasa kalo dia mampu melewati halangan malah menemui kegagalan. Perasaan kalo dia akan berhasil ternyta cuma harapan palsu. Hiks. Midpoint bisa dimanfaatkan utk menunjukkan bhw masalah kecil yang dia lihat ternyata menyembunyikan masalah besar!

Like: tokoh awalnya penelitian buat nyelesaiin skripsi biar nggak kena DO, tapi TERNYATA penelitian itu menunjukkan bahwa ada KORUPSI di kantor itu! Wataw! Tokoh dikejar2 buat dibunuh!

Intinya: Midpoint membuat cerita belok dan mendorong tokoh utk mengganti strateginya. Strategi awal yg cuma buat nyelesaiin skripsi berubah jadi strategi menyelamatkan hidup. Bangkek, kan? Tapi gimanaaa? Dia terjebak!

LOWPOINT: Tokoh yang sudah mengganti strateginya malah makin hancur lebur. Dihajar sana-sini. Sampai ... si tokoh kehilangan semuanya. Muncul pertanyaan: Gue lanjut apa nyerah aja, ya???? Intinya: dia kehilangan semuaaanya.

Boro2 lulus sidang skripsi, keluar dari situ dalam keadaan hidup aja udah syukur! Njrit! Mati gue! Di titik inilah tokoh menjalankan strategi hidup-mati. Like: ya udah deh. Gimana lagi? Nyerah atau nggak nyerah, kemungkinan matinya gede banget! Mari kita bertaruh segalanya!

CLIMAX: ini adalah pertarungan terakhir tokoh alias konflik terbesar yang akan menutup cerita. The Final Battle. Penentu apakah tokoh berhasil atau gagal. Ingat! Climax tidak terjadi dadakan. Intensitasnya harus dibangun sejak awal. Like? Sejak mulai ngetik.

Hati2! Di Climax sering terjadi deus-ex-machina. Apa itu: KEAJAIBAN mbantu tokoh yg putus asa utk keluar dari masalah. Keajaiban mungkin ada di dunia nyata, tapi di dunia fiksi, deus-ex-machina BISA merusak cerita.

Sering, Alih2 menunjukkan karakter yg putus asa, deus ex machina malah yg lebih memperlihatkan kalo si penulis putus asa n gak nemu akhir cerita.

Contoh deus-ex-machina: entah dari mana datangnya TIBA-TIBA dateng petugas KPK menyelamatkan dia! Wedezig! Kalo mau ngelibatin petugas KPK, harus dari awal dikasih tanda2nya. Jangan makjreng turun dari langit!

NEW WORLD: Halangan tokoh hilang. Tokoh masuk ke hidupnya yang baru, entah dalam keadaan berhasil atau gagal. Misal: Tokoh gagal skripsi n di-DO, TAPI dia direkrut jadi agen KPK!
Wajah dengan air mata bahagia

Nah! Pola di atas adalah pola yg dimiliki hampir semuaaaaaaaa cerita di permukaaan bumi. Entah kenapa bisa begitu.
Wajah berpikir
Akhirnya, yg mbedakan satu cerita dg cerita lain adalah: STILISTIKA dan VOICE pribadi milik penulis. Being Authentic is bloody important.





Aturan dibuat untuk dilanggar
taken from wisnucuit

    Choose :
  • OR
  • To comment
Tidak ada komentar:
Write komentar