Recent Posts

Tips Menulis Novel: WRITER'S BLOCK Tindakan manusia selalu terkait motif. Pun, ketika kita tidak bisa meneruskan tulisan. Apa...

Tips Menulis Novel: WRITER'S BLOCK

Tips Menulis Novel: WRITER'S BLOCK



Tindakan manusia selalu terkait motif. Pun, ketika kita tidak bisa meneruskan tulisan. Apa yg disebut writer's block ada kemiripan dg malas. Bedanya: dlm posisi so-called 'writer's block' seorang penulis melakukan perlawanan. Karena? Karena dia merasa dirinya penulis.
Penulis adalah label. Pekerjaan menulis adalah apa yang direpresentasikan oleh label. Inilah yang menimbulkan Disonansi Kognitif. Otak jadi bingung sama fakta "Saya penulis tapi nggak nulis". Apa yg disebut writer's block sbnrnya adalah usaha otak utk keluar dr situasi disonan.

Disonansi itulah yg kemudian disebut sbg writer's block. Kita bertindak berdasarkan self-identity alias cara mengindentifikasi diri. Saat perilaku bertentangan sama identitas, otak akan pusing sendiri. Lalu, menganggap bahwa masalahnya adalah "Tidak bisa nulis'. Pdhl bukan

Mistifikasi yang terjadi dalam kata 'writer's block' malah membuat penulis semakin bingung karena otak jadi gak liat masalahnya ada di mana, kecuali dia sedang tidak bisa menulis. Tidak mampu menulis adalah hal yg nyaris tidak mungkin terjadi pada penulis, karena?

Karena bahasa seperti program yg diinstall n sifatnya menetap kecuali ada kejadian khusus (benturan, stroke, n berbagai trauma otak yg lain). Kemampuan berbahasa terinstall di otak seperti cara naik sepeda. Shingga, bhkn stlh 10 tahun gak nulis, kalau balik lagi, ya bisa lagi

Ada bagian otak yg mengatur ini. Memori ttg bahasa (jg ttg cara naik sepeda) diingat otak dg cara yg berbeda dg cara kita mengingat kejadian. Ada bbrp bagian otak yg bekerja. Risetnya ada

Artinya? Sesungguhnya, writer's block (kalaupun fenomena ini ada) TIDAK TERKAIT dengan kemampuan berbahasa (to be precised, menulis). Ada faktor lain yang lebih nyata. Apa? Buat saya MOTIF. Kita sedang kehilangan motif menulis krn satu atau hal lain.

Kita MAU melakukan sesuatu sesungguhnya karena otak kita yang ngomong kalo sesuatu itu MUNGKIN dilakukan. Kita tidak akan melakukan sesuatu yang kita sendiri merasa tidak mungkin melakukan itu (masalah, orng lain melihatnya gmn, lain perkara).

Jadi? Ada SUATU MASALAH yg bikin otak menganggap kita (sedang) tidak mungkin menulis. Nah! Masalah itu tidak tunggal. Menyatukan masalah ke dalam satu terminologi "writer's block" jadi berpotensi mengaburkan masalah. Pdhl, masalahnya yg harus dipecahkan. BUKAN writer's block.

Kalopun ada, "writer's block' adalah semacam DEMAM—gejala akibat infeksi lain. Demam perlu diturunkan, TAPI tidak akn sembuh sbelum INFEKSI-nya disembuhkan. Cari apa motif yg bikin kita merasa tidak mungkin meneruskan menulis. So-called writer's block akan hilang dg sendirinya.

Duduk di depan laptop sambil menatap nanar ke layar BUKAN cara yang efektif utk menyembuhkan "writer's block" sbg gejala infeksi kehilangan motif. Kalau diteruskan ini jdi kek Denial. Lakukan refleksi dan pemeriksaan, baik atas materi tulisan maupun kondisi mental kita.

Otak cuma ingin merasa konsonan. Alias, keluar dari "penulis yang gak nulis" menuju ke "penulis yang tetap terus menulis". Bisa jadi, so-called writer's block ini malah bagus. Ini bukti bahwa kita memang punya dorongan utk terus menulis.

Btw, saya BUKAN sedang bilang bahwa balik menulis adalah hal yg mudah, ya. Bahkan, ini adalah bagian dr evolusi kita sbg penulis. Kita berkembang bersama segala keraguan2 dan permasalahan yang berhasil dijawab. Buat sy penting: bikin semua permasalahan jadi jelas dan logis

Salah satu langkah saya adalah menghapus kata "writer's block" dr kamus karena kata ini TIDAK operasional untuk bisa diselesaikan. Buat saya: ini mitos.

Lapar >>> Makan Haus >>> Minum Ngantuk >>> Tidur Gatau maucerita k mana >>> Perbaiki plot. Capek nulis >>> Istirahat Takut karya jelek >>> Belajar biar gajelek Writer's Block >>> ?????? Jadi, gak usah heran klo abis melabeli diri kena writer's block, malah mkin gak bisa nulis.

Laper bisa bikin so-called writer's block? BISA. Coba aja nulis pas lagi lapar2nya. Solusinya: Makan dulu

Ada sih penulis yang malah bikin "lapar" jadi motivasi nulis. Bahkan, menjadikan nulis sebagai "penahan lapar".
Wajah menangis kencang
Tapi, percaya, butuh determinasi sangat kuat utk melakukan itu. Kalau kehidupan kita masih baik2 saja, jgn lakukan itu.

Dan jangan lupakan bahwa ada penulis2 yg harus berjuang keras karena tidak berada dalam situasi senyaman kita.


Aturan dibuat untuk dilanggar
taken from wisnucuit

0 komentar: