Recent Posts

Tips Menulis Novel: PLOT POLA 6 LANDMARK itu cuma berlaku utk cerita yg alur waktunya satu, satu protagonis, dan satu cerita linear. K...

Tips Menulis Novel: PLOT

Tips Menulis Novel: PLOT

POLA 6 LANDMARK itu cuma berlaku utk cerita yg alur waktunya satu, satu protagonis, dan satu cerita linear. Kayak film-film hollywood.

Menulis itu BISA sederhana (scr pola) tapi NGGAK sesederhana itu pas dilakukan.

Kita nggak bisa nulis cuma berpegang sama satu konsep, kita butuh banyaaaaak model pemikiran ttg penulisan

4 ACT STRUCTURE yg digagas oleh ADAM SKELTER dalam buku ANATOMY OF CHAOS.


Hampir semuaaaaaa pola2 fiksi yg ada (baik di fiksi tertulis atau film) punya satu ibu kandung yg sama
Punggung tangan dengan jari telunjuk mengarah ke kanan
3 ACT STRUCTURE yg digagas oleh ARISTOTELES ribuan tahun lalu. Termasuk gagasan Adam Skelter ini. Atau THE HERO'S JOURNEY-nya JOSEPH CAMPBELL. Dsb.
Gambar

dah liat 3 ACT STRUCTURE kek apa? Udah liat semacam grafik 3 ACT STRUCTURE yg bentuknya kek gunung yang puncaknya condong di sisi kanan?

Bnyk yg mikir klo eksposisi-rising action-falling action Aristoteles adlh urutan kejadian dlm kehidupan tokoh Gw rasa, maksud dr Aristoteles BUKAN ITU. Grafik itu bukan ttg urutan WAKTU scr linear, melainkan WAKTU NARATIF dan grafik itu adalah alur INTENSITAS EMOSIONAL TOKOH.

Apa itu Waktu Naratif? Waktu Naratif adlh urutan waktu yg muncul dlm naskah pas DIBACA. Jadi, WAKTU dlm grafiknya Aristoteles lebih ttg WAKTU UNTUK PEMBACA, bukan TOKOH cerita. Wlo, bisa aja Waktu Pembacaan n Waktu Tokoh sejalan (misal: dlm cerita2 yg alur waktunya cuma maju)

Apa hubungan Four Act-nya Adam Skelter dengan Three Act-nya Aristoteles? Gini
Punggung tangan dengan jari telunjuk mengarah ke kanan
Begitu kita dapet 6 Landmark cerita. Perhatiin baik2. Jadiin ADEGAN. Seperti apa momen itu berlangsung. Lalu .... perhatikan INTENSITAS EMOSIONAL yg ada dalam tiap adegan/kejadian itu.

Ada adegan/kejadian yg intensitasnya emosinya tinggi n rendah, kan? Kalo semuanya sama, yaaaa dibuat naik-turun. Itu tugas kita sbg penulis. Di proses ini, kamu bisa tukar2 posisi. Yg sebelumnya Klimaks dijadiin Impetus. Yg sblmnya Impetus jadi Klimaks, dsb. Kok bisa?

a, bisa. Krn CERITA adlh TENTANG INTENSITAS kek grafiknya Aristoteles. Jd, adegan APAPUN yg INTENSITAS-nya TINGGI berpotensi jd CLIMAX Ini yg bisa bikin: Tokoh mati di awal cerita, n klimaks cerita terjadi pas tokoh masih kecil. Seakan2 waktu berbalik. Catet: cuma seakan2.

kenapa waktu mundur itu cuma seakan2? Karena eh karena, hukum linieritas waktu berlaku absolut scr subjektif. BAHKAN, terhadap tokoh fiksi.
Mo kek gimana waktu dibolak-balik dalam fiksi, si Tokoh PASTI ngalamin waktunya lurus, maju, dan ke masa depan DIA.

ernah nonton Back To The Future? Apakah waktu mundur buat si tokoh? Tidak. Tokoh kembali ke masa lalu, tapi waktu PRIBADI dia ttp maju. Benjamin Button? Waktu tetep maju, fisiknya dia yg mundur jd muda seiring waktu yg maju.
Lagi2 klo kamu detail memperhatikan, ada 2 PLOT YANG TERJADI DI SEMUA CERITA. 1. PLOT KRONOLOGIS: Plot yg dialami oleh PROTAGONIS yang berurutan waktu secara linear; dan 2. PLOT NARATIF: Plot yg dialami oleh PEMBACA lewat naskah yang urutannya bisa ACAK (klo penulisnya mau).

Jadi, klo plot dalam naskah ada 2 (dua). BUKAN berarti dr awal perlu dibuat acak2an or ganti2an.
Wajah netral
Awal semua plot selalu KRONOLOGIS. Baru dijadiin PLOT NARATIF dg mempertimbangkan INTENSITAS EMOSI dalam kejadian/adegan yg ditulis.

Plotnya 10? Protagonisnya 20? Ada 30 alur waktu? Hukumnya selalu sama. Semua berawal dr plot kronologis yg berlaku secara masing2, untuk kemudian disatukan dalam Plot Naratif yng urutannya terkait intensitas emosional.
Patuhi grafik Aristoteles dr sisi emosional. Linieritas WAKTU boleh banget dilanggar. Akibatnya memang: 6 Landmark yg disusun jadi seperti NGGAK NYAMBUNG. Daaaaaaan Inilah gunanya SUBPLOT dan TRANSISI: membuat ketidaknyambungan itu jadi secara ILUSIF terasa nyambung.

Kalo urutan waktunya ACAK bagaimana pembaca bisa paham? Inilah dosa banyak penulis: "Meremehkan Kecerdasan Pembaca utk Memahami Cerita" apalagi kalo menganggap dirinya lebih cerdas dari pembaca. Segeralah bertobat.

Asal CLUE dan CUE-nya jelas, Pembaca akan selalu bisa memahami jalan cerita secara KRONOLOGIS, mau tuh cerita urutan waktunya diacak2 kek mana. SEMUA yg CHAOS akan dijadikan ORDER di dalam kepala pembaca.

Ttg gmn manusia mempersepsi kejadian chaos ini, sila googling: GESTALT PSYCHOLOGY yg digagas oleh Max Wertheimer, Kurt Koffka, n Wolfgang Kohler. Ini salah satu teori penting buat penulis yg mau CERITANYA MENGALIR.
Wajah dengan air mata bahagia
Percaya: mengalir2an ini cuma ilusi yg dibangun penulis.

Gw setuju ama Adam Skelter mengenai hubungan Chaos-Order dalam cerita. Tugas penulis adalah "Giving an anatomy to the chaotic incident(s) so it becomes order". Kurleb gitu lah.

Kok, cerita gue simpel banget? Gini doang? Weits! Jangan macem2 sama kesederhanaan. Old Man and The Sea-nya Ernest Hemingway sederhana juga plot-nya. TAPI, doi menang NOBEL, tuh! Sebaiknya, ide cerita bagus = tidak bisa ditebak = ide cerita rumit. Dihapuslah saja

Yoi! Bener! Cerita memang ttg si Protagonis. Tapiiiiii, tokoh dalam cerita bukan cuma doi. Ada tokoh2 lain yang kita sadar atau nggak sadar juga punya alurnya masing2.

protagonis adalah POV utama cerita yang gunanya sebagai saringan kejadian/adegan yg layak masuk ke dalam cerita.
Adegan/Kejadian yg nggak berhubungan sama Protagonis mending disimpen aja.

permasalahan Plot Kronologis Vs Plot Naratif inilah yang SERING dilewatin sama Penulis. Mereka ujug2 nulis cerita yang lompat ke sana kemari, tanpa paham KRONOLOGIS kejadian sbnrnya yg dialami si protagonis. Alias: keburu mengada-ada sblm bener2 paham ceritanya apa.

Jadi ... sebelum mulai bikin cerita yang alur waktunya acakan2 atau lebih dr satu protagonis. BUAT dulu PLOT KRONOLOGIS utk masing2 tokoh. Buat 6 Landmark utk tokoh2 kunci. Lalu, PILIH. Landmarks yg produktif utk ceritanya si Protagonis. Masukin hanya yg berguna.
Jadi, kita perlu bikin bbrp PLOT KRONOLOGIS seiring dg jumlah protagonis n tokoh kunci dalam cerita. PLOT NARATIF adalah tempat kita menyatukan semua plot kronologis itu jd satu ke dalam urutan tertentu yang kelak kita tulis jadi novel. Jangan lupa, perhatikan intensitasnya.

Ini sebabnya gw TIDAK PERCAYA klo ada PLOT Non-linier. PLOT PASTI LINIER (krn pembaca pasti bc scr linier dr hlmn ke hlmn). Yg bisa TIDAK LINIER adlh SETTING WAKTU. Gmn jg Plot Kronologisnya, hasil yg muncul di naskah PASTI Plot Naratif yg secara intensitas emosi ttp urutan.

Bisakah intensitas emosi adegan/kejadian dlm fiksi ini dibuat tidak urutan? Bisa dan BOLEH. Hasilnya kemungkinan besar Anti Klimaks dan kalau memang itu tujuan menulisnya, ya, terserah aja. Antiklimaks nggak berarti jelek, kok.


sederhananya: Kita sebagai penulis HARUS melihat dulu pola paling sederhana dari sebuah cerita, SEBELUM membuatnya jadi rumit.
Jangan merumit2kan cerita sebelumnya waktunya. Buat cerita jadi rumit kalo cerita memang butuh kerumitan alias perlu pake banyak argumen.

Argumen dalam cerita fiksi bakal banyak muncul lewat SUBPLOT

Dua pemahaman mendasar ttg PLOT CERITA yg kelak kita jadiin outline adalah cara kerja PLOT KRONOLOGIS dan PLOT NARATIF yang merupakan hubungan antara kejadian, emosi, dan waktu.


Tertawa berguling di lantai



Aturan dibuat untuk dilanggar
taken from wisnucuit


0 komentar: