Recent Posts

Tips Menulis Novel: DIALOG Kunci pertama gw dlm bikin dialog: Nggak membiarkan ada tokoh menggunakan satu kalimat dialog panjang-lebar...

Tips Menulis Novel: DIALOG

Tips Menulis Novel: DIALOG

Kunci pertama gw dlm bikin dialog: Nggak membiarkan ada tokoh menggunakan satu kalimat dialog panjang-lebar dg tokoh lain. Gw mengutamakan proses pertukaran ide antar tokoh dibanding bikin satu tokoh berpidato. Tentu aja, ada pengecualian.


Satu yg jadi rel dialog adalah: rasa ingin tahu salah satu tokoh atas isi informasi yg disampaikan tokoh lain. Selalu ada tokoh yg mempertanyakan isi informasi. Jadi, informasi dalam satu rangkaian dialog ditampilkan dalam potongan-potongan yg lebih kecil

Contoh. Daripada pake model dialog ini: "Mau ke mana?" tanyaku. "Pulang. Aku capek dan mau tidur. Nanti malam harus mengerjakan tugas menumpuk yg belum dikerjakan. Kalau nanti malam nggak selesai, besok aku nggak bisa pergi jalan-jalan.

Gw lebih suka: "Mau ke mana?" tanyaku. "Pulang." "Ngapain?" "Capek. Mau tidur." "Tumben." "Iya. Ntar malem mau ngerjain tugas." "Dih? Kemaren gak jadi ngerjain?" Dia menggeleng, "Daripada besok gue gak bisa jalan ama elo." "Hmm, iya juga, ya," aku mengangguk.

Nah! Dialog di atas adalah tulang punggungnya. Biar natural. Obrolan itu gw masukin ke konteks. Dua tokoh digerakkan dalam sebuah konteks kejadian. Misal: mereka ngobrol sambil jalan keluar sekolah. Baru tuh di sela-selanya gw masukin gestur n lingkungan tokoh. Biar "hidup".

Cara ini akan membantu pembaca memahami apa sebenarnya inti dari dialog yang terjadi karena informasi tidak ditumpahkan secara sekaligus. Alias, memberi ruang dan waktu buat pembaca utk mengolah informasi satu per satu SESUAI dg train-of-thought tokoh yg berdialog.

Dialog berhenti, saat: 1. Tokoh yg mempertanyakan sudah mendapat kejelasan isi informasi. 2. Tokoh yg bertanya mnyimpulkan bahwa tokoh pemberi informasi tidak akan memberi jawaban memuaskan alias percuma bertanya lebih lanjut; atau 3. Muncul adegan yg memaksa dialog berhenti.

pengecualian (dialog dimunculkan dlm kalimat panjang):
1. Kalimat dialog berisi cerita di dalam cerita. Misal: tokoh detektif menyampaikan analisis kejadian 2. Tokoh mengalami kondisi khusus yg mengharuskannya pake dialog panjang, misal: tokoh sdg mengalami euforia.


Pun, klo cerita dlm dialog terasa trllu panjang, bisa diakalin: ubah jd pragraf eksposisi. Cth: "Jadi, apa yang terjadi?" tanyaku. Ia berpikir sebentar, lalu menjawab bahwa ia tidak sengaja melakukan hal itu. Sebenarnya, yang dia inginkan adalah ingin menolongnya, tetapi dst.

Alias: gw mengubah POVnya. Jawaban Tokoh diputar ke POV Tokoh Pendengar. Cara ini memungkinkan munculnya pernyataan BENAK. Cth: "Kok, elo gak dateng?" tanyaku. Ia menjawab kalau kemarin dilarang pergi oleh pacarnya dan ia juga sedang capek. NAMUN, kukira dia berbohong.

Tujuan: menjaga kelancaran arus informasi dg menghilangkan gaya bicara tokoh. Dg pakai paragraf eksposisi, gw bisa kembali pake gaya bahasa narator yg strukturnya bisa lebih rapih, runut, runtut, & struktural. Sering, ragam cakapan dialog mnyulitkan pbaca ngerti isi informasi.

Contoh dialog2 panjang yg produktif dlm membangun efek cerita adalah dialog tokoh LEO di Novel Penyap Leo punya kondisi kejiwaan tertentu yg bikin dia "nyerocos" panjang lebar. Leo mengalami sejenis euforia. Ini menarik. Model dialognya jd kontekstual.

Dalam #NovelPenyap, tokoh Leo bisa bicara panjang kali lebar kali tinggi dan mencelat ke sana kemari. Tapi, bisa dipahami knp dialog2 kek itu keluar dr mulutnya. Dia adalah tokoh dg mental disorder—bagian dr karakterisasinya. Bisa tebak, kira2 LEO kenapa?

Semua cerita bisa inspiratif utk pembaca. Mnrt saya, penulis cukup konsentrasi pada bangunan cerita


Aturan dibuat untuk dilanggar
taken from wisnucuit

0 komentar: