Recent Posts

Minder Setelah Baca Buku Bagus? Kenapa abis baca naskah referensi yg bagus bukan semangat malah minder? Jawabannya sederhananya: C...

Minder Setelah Baca Buku Bagus?

Minder Setelah Baca Buku Bagus?


Kenapa abis baca naskah referensi yg bagus bukan semangat malah minder?
Jawabannya sederhananya: Cara membacanya keliru. Penulis perlu membaca naskah lain sebagai Penulis juga, BUKAN sbg pembaca murni.

Apa sih yg membedakan antara Penulis membaca dengan Pembaca membaca? Dasar perbedaannya adalah MOTIF ketika mendekati bacaan. Motif Penulis ketika membaca BUKAN cuma untuk menikmati bacaan, melainkan BELAJAR. Otak HARUS dalam setting belajar ketika akan mendekati naskah lain.

Ini sama seperti alasan seorang Chef makan di sebuah restoran. BUKAN utk sekadar menikmati makanan, melainkan mendapat jawaban dari 2 pertanyaan ini: 1. Kalau enak: Apa yg membuatnya enak? 2. Kalau tidak enak: Apa yg membuatnya tidak enak? Berbeda dr penikmat makanan.

Apakah sy pernah jadi minder setelah baca buku? PERNAH. Laksmi Pamoentjak - Amba. Saya baca di awal2 sy belajar nulis, baru nulis cerpen2 sambil mencoba menulis novel (yg semuanya gagal, walau selesai). Saya: Bagaimana bisa kalimat2 dlm novel ini begini? Tulisan sy jelek

Untungnya, sy reflektif, sy sensitif sama perubahan mood/emosi saya sendiri. Jadi: pertanyaan pertama yg muncul: Kenapa saya harus merasa terserang gara2 Amba? Laksmi Pamoentjak tidak mungkin menulis ini dg kesengajaan bikin pbacanya minder. Jawabannya karena karena (waktu itu) saya merasa tidak mampu bikin kalimat2 sebagus cara Laksmi Pamoentjak menyusunnya.
Dari situ, sy jadi ngeh: Kalimat2 ini bagus karena cara semua kata2 ini DISUSUN! Bagaimana cara Laksmi Pamoentjak menyusun kata2 ini sehingga kalimat panjang ttp nyaman?

Singkat cerita, saya menemukan satu hal penting: Kalimat2 dalam Amba menjadi seperti itu karena Laksmi punya kemampuan minimal atas 3 hal: Beliau ahli dalam menggunakan tanda koma, titik, dan kata sambung! Is it that simple? Yess! (Almost) That simple.

Tingkat bagus atau jeleknya sebuah bacaan TIDAK berkorelasi secara langsung dg ilmu yg bisa kita pelajari dr situ. Kita bisa belajar dr naskah bagus, tapi juga bisa belajar dr naskah jelek. Syaratnya: Objektivitas dan tidak berhenti sampai pada penghakiman ttg bagus/jelek.

Apa yg penting diperhatikan saat membaca untuk belajar? POLA. Belajar pada dasarnya adalah proses kesadaran, pemahaman, dan PENIRUAN POLA. Ini yg seharusnya terjadi saat seorang Penulis membaca. Syaratnya: Mampu membaca secara netral kritis.

Kritis TIDAK SAMA dg cari2 kesalahan. Kritis adlh menganalisis, menyimpulkan, dan mengapreasisi karya. Tunda penghakiman sampai kita mendapat pola-pola. Dg cara ini kita bisa menyaring pola mana yang kelak akan produktif dlm proses belajar, atau sebaliknya cukup kita tahu saja.

Trade-off-nya? Ada yg cenderung hilang ketika seorang jadi penulis, yaitu kenikmatan membaca. Tapi, kita dpt kenikmatan belajar menulis. Saya rasa ini impas. Toh, kita ttp bisa membaca utk menikmati saja. Caranya: Setting sikap saat akan membaca. Mau belajar atau menikmati?

ini jg alasan saya akan membaca karya lain dari penulis yg sama JIKA menemukan karyanya menarik. BUKAN karena jadi nge-fans (sy tidak pernah ngefans sm nyaris siapa pun), melainkan (lagi2) utk melihat POLA antar tulisan. Dari sana saya bisa belajar ttg gaya penulisan.

Saya bisa mempelajari tentang apa yang diyakini oleh seorang penulis dan melihat gmn keyakinannya menjadi garis merah dari karya2nya. Sy juga jd bisa mempelajari bagaimana penulis itu belajar & berkembang seiring waktu. Apa yg dipelajari seorang pnulis bisa terlihat dr sini.

FANDOM IS TOXIN FOR A WRITER. Kagumi kemampuan kepengrajinannya, tapi jangan ngefans sama siapa pun. Kita mempelajari mereka ya untuk belajar, bukan utk ngefans. Knp? Dalam Fandom ada relasi kuasa, dan pasti kita yg terkuasai. Ini buruk utk proses menemukan gaya tulisan kita.



Aturan dibuat untuk dilanggar
taken from wisnucuit

0 komentar: