Recent Posts

Tips Menulis Novel: Manajemen Kepenulisan Tidak ada cara menulis yg bisa berlaku buat semua orang. Tiap penulis selalu punya cara send...

Tips Menulis Novel: Manajemen Kepenulisan

Tips Menulis Novel: Manajemen Kepenulisan



Tidak ada cara menulis yg bisa berlaku buat semua orang. Tiap penulis selalu punya cara sendiri yg semuanya benar.

Pertama. Kita prlu menyadari dulu apa sih "menulis fiksi". Menulis fiksi adlh kegiatan seni menggunakan alat2 linguistik dan nonlinguistik yaang SARAT perkara teknik. Buat gw, lebih dari 90% pekerjaan menulis fiksi adalah teknis. Hal nonteknis (apalagi baper2an) nyaris ga ada.

Buat gw perkara nonteknis di fiksi cuma terkait satu hal: IDE. Dan, di sinilah semua masalah mampet berasal, gakbisa selesai dg manggil tukang sedot WC. Walaupun, IDE cuma faktor "kecil" tapi punya peran besar.

IDE adlh sesuatu yang tidak tampak di struktur permukaan cerita. Bahkan, seiring pengerjaaalnnya, IDE awal seringkali berubah ke dalam bentuk lain. Yg muncul: STRUKTUR PERMUKAAN cerita. Sederhananya adalah semua hal yg muncul secara empiris (bisa diindrai) di atas medium tulis.
Faktor yg sulit dimanajemeni justru si IDE. Soalnya, IDE ada di level mental si penulis, alias lebih banyak dipengaruhi sama faktor internal psikologis si penulis sendiri. Malas, bete, gak mood, capek, dsb, adlh bbrp hal yg pengaruh, selain: tujuan si penulis menulis.

Proses PENG-IDE-AN ini tidak berhenti saat kita dapat IDE CERITA. Proses ber-ide terus berjalan SAMPAI kita sendiri menganggap proses menulis sudah selesai. Jadi, NGGAK usah kegeeran dg menganggap bahwa setelah dpt IDE CERITA maka nulisnya pasti lancar jaya.

Nah! IDE di dalam fiksi secara teknis terdiri dari 2 lapis. 1. IDE CERITA 2. IDE PENCERITAAN Yg pertama terkait yaaa ceritanya. Yg kedua terkait CARA cerita itu diceritakan Pisahkah keduanya.


Walaupun, pas proses nulis IDE CERITA muncul duluan (dlm benak penulis), TAPI yg kelak pertama ditangkap oleh pembaca adalah IDE PENCERITAAN-nya. Mostly Pembaca berhenti membaca BUKAN karena IDE CERITA-nya buruk, tapi karena cerita itu DICERITAKAN dengan cara yg buruk.


kemampetan2 menulis sering terjadi karena proses IDE CERITA dan IDE PENCERITAAN dilakukan secara berbarengan.
Alias, dicampur jadi satu. Sambil mikirin ide cerita, riset, nulis, mikir apa yg ditulis, dsb. Klo sambil ngejar deadline lomba ya bisa amsyong. Otak bisa ngambek.

Kalau CARA penulis bercerita tidak bisa ditangkap oleh pembaca, jangan mimpi pembaca akan bisa menangkap IDE CERITA-nya. IDE CERITA baru bisa ditangkap dan dianalisis oleh pembaca setelah IDE PENCERITAAN-nya bisa dipahami.


IDE CERITA harus & pasti KRONOLOGIS sesuai hukum absolut waktu yg sllu jalan ke masa depan Protagonis (kalaupun si Protogonis pindah ke masa lalu kek Film Back To The Future). IDE PENCERITAAN yg bikin ide cerita bisa punya naratif yg pindah2 waktu

IDE CERITA sulit diatur krn sangat tergantung faktor personal ketika si penulis sedang menulis. Tapi, JUSTRU ITU maka HARUS diatur, jauuuh2 sebelum ikut kompetisi

Prinsip dasar semua seni (termasuk seni kepenulisan) adalah IMAJINASI. TAPI, ini tidak sama dengan KEBEBASAN dan seenak2nya karena imajinasi kita dibatasi minimal oleh dua hal: PENGETAHUAN dan KEMAMPUAN kita sendiri.

Karena menyangkut pengetahuan dan kemampuan si Penulis sendiri, maka menulis BUKAN kegiatan yang bisa dilakukan secara dadakan. Kita akan kesulitan kalau: hari ini ada pengumuman kompetisi nulis lalu gitu aja ikut dengan modal nol kosong (tanpa pengetahuan dan kemampuan).


Menulis adalah kegiatan yang mempersyaratkan perubahan gaya hidup dan pola pikir. Bukan kegiatan yang bisa dilakukan secara murni impulsif.

Nggak gara2 kita mau nulis maka kita bisa menulis. Iya. Kalau mau nulis "Ini Budi. Ini bapak Budi" memang gampang TAPI, menulis fiksi gak cukup bermodal nggak buta huruf dan punya cerita. Nggak gitu cara kerjannya. Fiksi berdiri di atas CRAFTING sebagai fondasi

Kecuali mau bikin karya asal2an. Dan, supaya hasilnya gak terlihat asal2an perlu direncanakan alias dimanajemeni.

Langkah pertama utk melakukan manajemen kepenulisan adalah MEMISAHKAN proses menghasilkan IDE CERITA, IDE PENCERITAAN dan PROSES AKTUAL menulis.

Klo ikut kompetisi menulis SEBISA-BISA-nya, proses yg perlu dilakukan slma periode lomba blangsung HANYA: Proses Aktual Menulis. KECUALI: durasi lomba itu sgt panjang; 6 bln atau setahun misalnya. Kita akan terbirit2 klo durasi lomba sebulan n semua proses dilakukan sekaligus

Btw, saat Proses Aktual Menulis, BUKAN BERARTI proses pengidean berhenti, yaaaa. Proses Beride tetep jalan. CUMA, saat Proses Aktual Menulis ide yang diperlukan (seharusnya) hanya ide MIKRO—ide ttg bagaimana struktur kalimat n paragraf.

Bisa kebayang, kan, betapa pusingnya kalau saat aktual menulis (alias: ngetik) otak kita juga masih harus mikir: Habis ini ke mana??? Otak gak boleh diperas sampai pol. Kalau diperas sampe pol, hasilnya: OTAK MINTA ISTIRAHAT. Kita malah di-hack sama otak kita sendiri.

Untuk bisa mengerjakan sesuatu dg lancar, Otak butuh petunjuk2. Otak gak bakal mau diajak kerja kalo gak jelas apa yg sedang dikerjakan. Menulis itu hampir murni kerja otak, secara terus menerus. Beda sama nyetir mobil yg di satu titik bisa kerja gak sadar, tau2 sampe rumah.

Kita bisa makan, minum, bhkn nyetir sepeda sambil mengenang2 mantan. Menulis fiksi gak memungkinkan itu. Kita cuma bisa memikirkan: Habis ini kata n kalimat apa yg kita tulis. Begitu ada pikiran lain: Tulisan bisa bubar. Bhkn, mikir: Abis ini cerita kmna, bisa bikin bubar!

Menulis butuh kesadaran penuh. Manajemen menulis (fiksi) = manajemen kesadaran. Kalo kita gak bisa ngatur apa yg boleh masuk ke kesadaran, menulis akan terasa berat sekali.

Artinya: saat menulis, kita tidak boleh memikirkan hal apapun SELAIN setelah ini kalimat apa yang kita tulis. Segitunya? Iya, segitunya. Siapa bilang menulis gak segitunya? Menulis itu berat dan memang segitunya.

Balik lagi ke IDE. IDE itu hewan liar yang susah dikendalikan. Punya ide bisa jadi hal baik, tapi bisa sangaaaat buruk. Berapa banyak penulis yg gagal menulis malah gara2 kebanyakan ide? Ide2 bisa menganggu kalau gak diatur.

adi, Ide JUGA harus diatur. Jangan kemakan MITOS bahwa menulis butuh beride LIAR dan BEBAS. SEBALIKNYA, menulis adalah proses MENGERANGKENG IDE agar hanya ide yang produktif pada cerita yang kita tulis. Writing is an act of giving an order to the chaotic mind.

Cara paling sederhana utk mengatur IDE adalah memisahkannya dari memori dalam otak kita. Caranya: BIASAKAN membawa BUKU IDE. Bisa berupa buku catatan, atau lewat gadget aja. Intinya: Ide TIDAK BOLEH disimpan sbg ingatan dalam kepala. IDE HARUS DITULIS.

Jangan pernah membiasakan diri mencari ide dadakan pas ada kompetisi nulis. Ini penyebab awal kemacetan cerita, karena yg kita butuh BUKAN cuma ide cerita, tapi juga: ide plot, karakter, kata, kalimat, dan sebagainya.

apakah IDE cerita harus diwujudkan jadi naskah novel atau cerpen beneran? TIDAK. Bahkan, ide juga boleh dibuang.

Kedua: Biasakan membuat ide secara utuh. Bukan cuma Ide cerita yang masih sangat konseptual. IDE CERITA harus tercatat mininimal sebagai sebuah PREMIS. Lebih bagus lagi kalo langsung dijadiin LANDMARK CERITA. Tulis dlm BUKU IDE sbg tabungan






Aturan dibuat untuk dilanggar
taken from wisnucuit

0 komentar: