Ditembak Gegara Menulis Cerpen Di Mading Sekolah

Ditembak Gegara Menulis Cerpen Di  Mading Sekolah



Ada dua majalah dinding yang kukerjakan bersama teman-teman semasa kami duduk di bangku sekolah menengah atas. Yang satu adalah mading untuk Rohis (Rohanis Islam). Satunya lagi mading OSIS. Aku jadi pimred keduanya. .

Dan yang terburuk dari pengalaman menangani mading adalah  aku pernah Ditembak Gegara Menulis Cerpen Di  Mading Sekolah.

Begini critanya:




Mayana tengah membaca sebuah majalah remaja di dalam kelas ketika tiba–tiba terjadi kehebohan kecil dalam kelasnya. Tepatnya oleh gerombolan Sarva dan kelompok bangku cowok tengil itu.

“Sarva!”

Eko berteriak dari depan pintu kelas 3 A1.1
Jantung Mayana seakan ikut melompat mendengar teriakan itu. Dia merasa ada yang tidak beres. Apalagi demi melihat raut Eko yang meliriknya, Mayana jadi bertambah kecut.

“Apaan, ko?”

Sarva bangkit dari tempat duduknya dan berjalan ke arah pintu karena Eko memberi isyarat agar cowok itu mendekat kepadanya, seperti hendak menunjukkan sesuatu.

“Ada kejutan buat lo! “ kata Eko sambil sekali lagi melirik kea rah Mayana yang jadi salah tingkah dan menebak – nebak.

“Apaan?” Sarva pun jadi ikut melirik Mayana lalu pindah memandangi Eko.

“ayuk toh ! “ Eko menarik lengan Sarva, mengajaknya setengah berlari ke arah selatan.

DEG!
Mayana langsung sadar

“astaganaga… ini pasti karena cerpen yang aku buat kemarin buat mading nih”

Gadis itu menyeret kaki dari tempat duduknya, berjalan perlahan kea rah pintu kelas. Dari sana, kepalanya yang mungil setengah berada di dalam kelas, setengah berada di luar kelas. Pandangannya terlempar jauh ke arah selatan. Benar saja, kedua teman lelakinya itu pergi ke sana. Ke sebuah papan yang selalu diperbarui isinya setiap hari Kamis. Papan Majalah Dinding sekolah. Sudah terlambat untuk menyesal, Mayana pun segera kembali ke tempat duduknya.

“Matik, aku !” keluhnya.

Dengan kepala tertunduk siap diplonco  gerombolan Sarva, sengaja Mayana berpura–pura membaca buku. Agustin seperti biasa akan datang nanti mepet sebelum bel berbunyi.  Untuk sementara Mayana benar–benar akan sendirian menerima serangan entah seperti apa–apa. Dia hanya bersiap–siap.
Mayana lupa–lupa ingat apa yang dia ceritakan tentang Sarva yang menginspirasi cerpennya. Hanya saja gadis itu menulis karakter Sarva sebagai cowok item keeling, tanpa nama. Bagi yang tidak mengenal Sarva, mungkin cerpen itu tidak berarti apa–apa. Tetapi buat yang mengenal Sarva, bisa saja cerpen itu dianggap melecehkan, menghinakan dan mencemarkan.

Wuoahhh !!
Mayana tidak habis pikir kalau nantinya badannya yang kecil dikepung segerombolan cowok yang badannya besar–besar itu.
Langkah–langkah tegap sedikit berlari dari arah selatan kelas. Satu, dua, tiga… tiga orang. Mayana memperkirakan tiga orang yang datang. Pasti Eko dan Sarva, satu lagi entah siapa yang sudah bergabung. Mungkin Roy. Kalau benar Roy, Mayana masih bisa bersyukur. Roy sangat menghargai perempuan, dia pasti tidak akan sewenang–wenang dengan Mayana. Tapi meski demikian, hatinya lumayan ciut juga.
Benar saja. Eko, Sarva dan … oemji…. Taufik– anggota gerombolan yang paling sangar-  ketiganya berdiri di dekat tempat duduk Mayana.

“Oh. Jadi gitu caranya?” Laka masih diinginkan.

Eko melancarkan serangan pertama.

Terpaksa Mayana mendongakkan kepalanya ke arah mereka yang berposisi lima belas derajat searah jarum jam dari tempatnya duduk.

“Kamu nggak tahu siapa yang kamu hadapi atau bagaimana?” kali ini Taufik yang berkacak pinggang.
Mayana  agak melirik ke arah samping kanan dan serong ke belakang sedikit. Semua teman agaknya sedang sibuk sendiri atau pura–pura sibuk. Setengah takut, sudut mata Mayana melirik ke arah jendela kelas di sebelah kirinya.

“Mana sih, Agustin. Kenapa belum datang juga,” gerutunya dalam hati.
Mayana bukannya takut dengan ketiga cowok di dekatnya ini, tetapi dia sesungguhnya jeri jika harus mempertahankan apa yang ditulisnya tanpa sadar kemarin. Seperti biasa, jika sedang penat justru kemampuan autowriting-nya itu keluar tetapi hasilnya kadang tidak terduga, dan itu bisa positif dan bisa negative tergantung asupan yang masuk dalam kepalanya, baik itu referensi ataupun pengalaman yang dialami.
Di tengah kekuatiran yang mencengkeramnya, Sarva tampil sebagai pahlawan.

“Sudah teman–teman. Tidak perlu emosi. Tentu saja Mayana tidak bermaksud memperolok aku di tempat umum. Itu justru menunjukkan bahwa aku mulai menempati ruang hatinya. Bukankah demikian, Mayana?” retorika Sarva memaksa gadis itu mengangguk demi keamanan dirinya.

Lalu kedua teman cowok yang sempat menggojloknya itu pun bubar. Sesaat Sarva menatapnya, kemudian turut berjalan meninggalkan Mayana sendirian menekuri keisengan yang tidak disengajanya.

**

Insiden cerpen item keling itu ternyata memicu Sarva semakin berani dan semakin mendesak Mayana.

“May, kamu mau menutupi apa lagi? “ tanya Sarva sepulang sekolah hari Kamis naas itu.

“Kamu marah Sarva?” tanya Mayana.

“Tidak. Aku tidak marah, aku malah suka. Tapi ada syarat untuk membuatmu terlepas dari kesalahan ini,” Sarva tersenyum – senyum.

“Apa itu?” kening Mayana berkerut.

“Aku boleh bertandang ke rumahmu, kamu tidak lagi menolak jika kuantar pulang, dan buang wajah masam kamu jika bertemu aku.”

Mayana mengangguk – angguk, “oke”

Syarat terakhirnya, cowok itu  minta diperbolehkan mengaku ke teman-temannya bahwa  Mayana adalah kekasihnya.
Gadis itu tidak lagi bisa bilang tidak. Apalagi dirinya menyadari Sofyan tidak bisa diharapkan lagi. Cowok model yang ditaksirnya itu terang – terangan bilang pada Prasojo pada beberapa waktu lalu. Bahwa dia hanya menganggap Mayana sebagai adiknya saja. Anggaplah kehadiran Sarva ini sebagai obat pelipur laranya saat ini.
Mayana menghela napas panjang.

“Deal,” ujarnya pendek, menanggapi persyaratan Sarva yang terakhir.

Cowok itu tak bisa menutupi kegembiraannya. Seketika melunjak–lunjak. Mayana terkejut setengah mati lalu meletakkan telunjuk di depan bibirnya.

“ssssttt.. tapi tidak usah teriak – teriak ya. Nggak usah norak,” pesannya dan segera menutup kedua telinganya dengan kedua telunjuknya.

Kuatir akan mendengar maklumat Sarva yang diperdengarkan ke seluruh kelas.

Untunglah cowok itu menurut pesan Mayana, dan menghentikan lunjakannya. Ganti tersenyum lebar lalu melangkah lambat-lambat ke tempat duduknya sendiri. Dengan senyum yang terus menghias wajahnya yang tampak bercahaya.
Sebagai kekasih yang mencoba bijaksana, tentu saja Sarva akan memberikan ruang yang dibutuhkan Mayana. Dia hanya akan setia menunggu dan mengikuti titah sang kekasih. Tiga tahun bukan waktu yang pendek untuk memenangkan hati Mayana. Kebersamaan mereka akan sangat berarti. Sarva telah belajar tentang betapa berharganya pencapaian ini. Mayana dan dirinya sendiri pantas untuk saling menghargai. Untuk sebuah hubungan yang sangat berharga ini.

gambar sumber dari internet

Komentar

  1. awal baca judulnya, aku pikir ditembak beneran loh mbak :D.. Penasaran baca cerpennya, sampe ga kerasa udh di akhir cerita ;)..

    BalasHapus
  2. Cerita ini mengingatkanku semasa SMA dulu... ah kenangan itu muncul lagi... terima kasih (bung-ilham.blogspot.com)

    BalasHapus
    Balasan
    1. terima kasih kembali. tapi jangan nyepam plis. suwun

      Hapus

Posting Komentar