Hawnah Pi

Hawnah PI

Keempat anak muda itu telah selesai mendirikan dua tenda mereka. Bersebelahan di bawah pohon-pohon rindang di tengah hutan. Tadinya mereka kira tak akan kemalaman dan sampai di ujung hutan sebelum senja. Tetapi perkiraan bisa meleset. Daripada memaksakan diri untuk menembus gelapnya malam dan ganasnya hutan yang tak mereka kenali, Nero mengusulkan agar mereka tinggal. Untuk sementara. Dan yang lain sepakat dengannya.
Malam merangkak cepat. Nero, Mayana, Laras dan Sarva duduk berdekatan di depan api unggun. Dari kejauhan terdengar lolongan entah anjing atau serigala yang bersahutan. Membuat bulu kuduk berdiri.
Mayana mengangkat wajahnya dan menatap langit. Laras mengikuti aksi sahabatnya. Purnama yang semestinya terang tertutupi awan, menjadikan gelap hutan makin pekat. Semakin merindingkan bulu kuduk. Tidak ada satupun dari mereka yang bergelagat hendak mengistirahatkan diri di dalam tenda.

“Kita mau gini terus sampai pagi?” Laras membuka suara.

“Kamu aja yang tidur di tenda. Aku mending duduk bareng cowok-cowok ini di sini. Ngeri tahu!” Mayana menyahut setengah berbisik. Wajahnya pias. Ketakutan.

“Duh aku nggak tahan dinginnya,” Laras beringsut dari duduknya. berdiri dan melangkah menuju tendanya.
Tapi baru dua tapak kakinya melangkah, suara Nero melengking membelah malam.

“Awas!”

Membuat semua terkejut dan spontan menoleh pada arah telunjuknya. Menyusul Nero yang mulutnya menganga, ketiga sahabatnya tak kuasa berkata-kata.

“Hawhna pi…” desis Sarva.

Di balik bayangan dedaunan deretan pohon seperti jemari yang menari, tersembul sesuatu itu. Sebuah kepala saja. Sebuah sosok yang tak berbadan. Rambut panjangnya membuat kepala itu semakin tampak mengerikan.
Laras mundur cepat. Nero dengan cepat pula menangkap punggungnya dan menundukkan tubuh sahabatnya itu demi melihat sosok kepala tak bertubuh melayang ke arah mereka.
Mayana hampir saja terkena tapi dia beruntung karena Sarva sempat mendorong tubuhnya. Hingga jatuh tersungkur mencium tanah. Sakit. Tapi itu lebih baik daripada..

“Aaarggh..” jeritan Sarva menyayat hati.
“Oh my God! Oh my God!” suara Mayana tercekat di tenggorokan.

Kepala tanpa tubuh yang melayang cepat itu berhasil menggigit leher Sarva.  Lelaki yang baru saja merayakan ulang tahunnya yang kedua puluh empat beberapa hari lalu itu berteriak-teriak. Tangannya berusaha mencekal kepala tanpa tubuh itu. Melakukan perlawanan dengan sisa tenaganya. Namun dia jelas kewalahan. Usahanya tampaknya akan sia-sia. Gigi-gigi kepala itu makin amblas ke dalam urat-urat leher Sarva.
Dua pasang mata memandanginya iba. Nero sempat ragu untuk maju memberikan pertolongan. Tapi dia sempat melihat dan menyambar sebatang kayu di antara onggokan dalam api unggun.
Tangannya mengayun hendak menombak Hawnah pi keparat itu. Hantu kepala ini adalah makhluk jadi-jadian. Orang-orang Ayutthaya memiliki ilmu hitam yang menciptakannya.

“Aaaah!!!!!”

Teriakan Mayana dan Laras berbarengan ayunan tombak kayunya Nero membuat Hawnah pi itu melepaskan gigitannya. Sarva tampak sekarat. Lelaki naas itu melotot matanya seakan telah mendekati masa sekarat. Darah segarnya mengalir dari leher yang terkena gigitan. Hawnah pi melayang terbang kembali ke pepohonan setelah memuaskan dahaganya. Mayana mundur ketakutan. Ngeri melihat mulut dan gigi Hawnah pi merah oleh darah segar.
Nero melemparkan tombak kayunya kea rah Hawnah pi tapi tidak kena. Laras yang ingat mereka punya lembing sebagai peralatan mencari ikan di sungai, segera berlari mengambil lembing-lembing itu. Menyerahkannya pada Nero yang menerima satu lembing tanpa menatapnya. Perhatiannya sepenuhnya tertuju pada Hawnah Pi yang melotot galak.
Setelah tak berhasil dengan tombak kayunya, Nero mengerahkan kekuatannya lebih besar lagi kali ini. Ketakutannya kalah oleh hasrat membalaskan dendam bagi Sarva yang terkapar tak berdaya.

“Rasakan ini!” teriaknya seperti siraman bensin yang dia tumpahkan untuk membakar apinya sendiri, selagi tangannya melempar lembing pertama.

Tampak hawnah pi melotot dengan matanya yang mengerikan. Dia sama sekali bergeming. Tapi lembing itu tak mengenainya sama sekali. Nero buru-buru mengacungkan tangan pada Laras yang langsung paham, dan menyerahkan lembing kedua.

“Mati kau!” seru Nero kalap.

Hawnah pi bergerak menghindar. Dia menyeringai. Sesaat kemudian kepala tanpa tubuh itu melayang hendak menyambar Nero. Mayana berteriak ketakutan tapi sempat mendorong tubuh Nero sehingga lelaki itu bisa berkelit dan terhindar dari gigitan Hawnah pi. Dia sempat bergulingan di tanah. Hampir saja pundaknyakena. Tapi kemudian dia sadar dan memanfaatkan kesempatan dekat kepala tanpa badan itu dengan melemparkan lembing berikutnya. Saat hawnah pi melintas dekat sekali dengan kepalanya tadi ada hawa panas aneh yang menyambarnya. 

“Hati-hati, Nero!” teriakan Mayana justru membuat hawnah pi itu menyadari serangan yang dilakukan musuhnya.

Kepala tanpa tubuh itu  berhasil menghindar lagi kali ini. Bahkan dia berhasil menukik ke bawah dan sempat menggigit lengan Nero. Sebelum akhirnya kembali melayang terbang ke pepohonan.

“Aaarrgggh!!!” jeritan dan lengkingan Nero yang panjang membelah senyap hutan dan pekatnya malam.

“Sialan! Hawnah pi sialan!” Mayana dan Laras turut mengumpat dan marah pada makhluk jadi-jadian itu.

Teriakan Nero dan keributan dua gadis remaja itu akhirnya juga membangunkan Sarva yang sempat sekarat. Lelaki yang punya daya tahan tubuh luar biasa tersebut menyeret tubuhnya mendekat ke arah Nero yang masih memegangi lengannya yang tergigit.

“Awwh!” jeritnya kesakitan saat kepala Sarva justru terantuk lengan Nero ketika dia berhasil mendekat.

“Sorry. Kamu harus menghabisinya, Nero,” bisik Sarva, “ atau dia akan menghabisi kita semua sekarang.”

“Aku tahu, aku tahu!’ bentak Nero kesal.

Bukannya dia sudah mencobanya berkali-kali. Sarva saja yang tidak melihatnya karena dia sibuk pingsan atau entah berjalan-jalan ke mana ruhnya tadi.

“Kamu harus pakai mantra tertentu selain mengenai bagian kepalanya yang paling mematikan,” Sarva memberi petunjuk.

Membuat Nero sedikit kesal, tapi tak mungkin juga menyerah dan membiarkan Sarva menghadapi sendiri hawnah pi kejam itu. Dia tak mau sekejam musuh mereka.

“Berikan padaku mantranya!” Nero meminta Sarva melakukan sesuatu.

Sahabatnya sejak kecil itu mengeluarkan sesuatu dari dalam sakunya. Sebuah patung kecil. Mulut Sarva komat kamit mengucap mantra. Lalu dia menggosok lembing yang masih tertinggal dengan patung itu.

“Apa? Aku tak dengar,” Nero berusaha keras mencerna kalimat-kalimat mantra itu tapi tak berhasil.

Dia hanya menangkap sepotong-sepotong. Dia kira dengan memberi isyarat pada Sarva, mantra itu akan bisa ditirukannya. Tapi suara Sarva terlalu lirih. Mungkin dia terlalu lemas. Dari belakang mereka,  Mayana dan Laras juga melantunkan doa-doa dan surat-surat pendek yang mereka bisa.

“Lemparkan sekarang, Nero! Lempar yang keras!” Sarva sudah menyerahkan lembing itu kembali pada Nero.

Semua berdebar menunggu perburuannya kali ini. Sarva makin kencang mengucapkan mantranya sehingga seolah seisi hutan turut bergetar mendengarnya.

“Oh yes!” sekuat tenaga Nero melemparkan lembingnya.

Dan lembing itu melesat kea rah hawnah pi. Tepat! Ujungnya menancap pada jidatnya. Begitu lembing menancap, mendadak terdengar ledakan dahsyat yang diiringi dengan percikan api. Semua bertiarap menyelamatkan diri dari bahaya apapun yang bisa terjadi.

“Minggir!” teriak Sarva.

Dia yang tak puas dan masih  takut kalau-kalau hawnah pi itu hidup lagi, menyambar satu lembing yang tadi sempat lusut. Dirinya mengucap mantra sekali lagi dan doa-doa sembari melemparkannya.

“Semua berlari! Cepat!” teriaknya lagi memberi aba-aba.

Semuanya tak terkecuali dirinya lari tunggang langgang meninggalkan arena api unggun dan tenda-tenda mereka. Meski sebenarnya hawnah pi itu akhirnya hancur meledak.

Kepala tanpa tubuh itu terburai. Kepingan-kepingannya jatuh ke tanah. Mengerikan.

“Cukup! Aku capek,” Mayana jatuh tersungkur.

Laras tiarap di sisinya. Sarva yang berlari menyeret badannya turut berhenti.

“Kita nggak mungkin lari lagi. Kita butuh tenda dan perlengkapan yang kita tinggal di sana,” telunjuk Mayana mengarah pada tempat mengerikan yang baru saja mereka tinggalkan.

“Kita pasti akan kembali ke sana, May. Kita akan ambil lagi barang-barang kita,” sergah Nero sembari mengatur napas.

Untuk sesaat keempat manusia itu bertiarap tak berdaya. Suara hutan telah kembali seperti sedia kala. Tapi hawa menakutkan dan mengerikan itu masih mengambang di udara.

“Aku yang akan mengambilnya sendiri,” usul Nero.

Semua kepala terkejut dan mendongak padanya.

“Sarva tak akan cukup kuat. Dia terluka parah. Aku tak akan tega membiarkan kalian melihat hawnah pi yang hancur itu,” sambung Nero.

Pijaran api yang berasal dari ledakan kepala tanpa tubuh tadi sekarang perlahan telah reda. Bahkan liukan api unggun mereka turut mengecil pancarannya.

“Hati-hati,” bisik Mayana dan pesan Laras hampir bersamaan.

“Kalian tunggu sini ya. Aku akan cepat kembali,” Nero berlari dengan kaki-kaki panjangnya menerjang rerumputan dan tetumbuhan perdu.

Ketiga sahabatnya seolah menahan napas dengan tak sabar menunggu. Sarva terperanjat saat melihat sesuatu terjatuh dari saku Nero ketika sahabatnya itu berlari. Patung kecil itu.

“Aaargggh!!!!” jeritan Nero membahana.

Hanya sekejap. Lalu sunyi.
“Apa yang terjadi?” Sarva, Mayana dan Laras saling berpandangan.

Dari arah jeritan Nero, serombongan hawnah pi yang lain melayang berkejaran menuju ke arah mereka.

Komentar