Ritual Mengundang Uang

Ritual Mengundang Uang

Kasak kusuk di sudut warung Mbah Karmi melibatkan empat pemuda tanggung menyita perhatian Ifan. Dua orang di antaranya ia sudah kenal beberapa bulan ini. Maklum sebagai pengangguran tak kentara, Ifan mulai menyukai warung mbah Karmi sebagai tempat kongkow sekaligus pelarian karena ada banyak pemuda dan juga pria sejenis dengannya. Suka bermimpi muluk-muluk tetapi kurang suka bekerja keras.
Malu? Ah kenapa malu? Kan sekarang bahkan menjadi tren bagaimana sedikit bekerja tapi banyak menghasilkan. Buku-buku tentan ini konon juga bertebaran di mana-mana, di toko buku tentu saja. Mengajarkan agar seseorang menjadi pemalas saja tetapi berpenghasilan. Tentu saja Ifan tidak membaca bukunya keseluruhan. Hanya baca judulnya tapi kan sudah cukup bisa ia membayangkan isinya. Malas kok diajarin sih. Sudah pinter banget. Malas mah gampang. Tapi bagaimana menghasikan..hmmm…empat pemuda ini sepertinya punya jawabnya. Lihat saja, matanya melebar dan mulutnya menganga semua. Seperti menemukan sesuatu yang hebih yang berkaitan dengan keuangan dan kemakmuran. Entah, mungkin Ifan sendiri yang terlalu pede menebak-nebak.

Eh, Ifan. Kenapa malu-malu gitu. Sini gabung saja”
Pranoto, cowok berambut gimbal yang mengaku sarjana peternakan itu menggerakkan tangannya, memanggil Ifan untuk mendekat. Ragu-ragu lelaki dua puluh dua tahun itu menyalami keempat lelaki lainnya yang sekarang berada di dekatnya.
Apa yang sedang dibahas? Pikirnya.
Mencurigakan.
Grandong 
Ifan terkejut setengah mati. Seram sekali nama itu. Seseorang yang duduk di tengahlah yang mengeluarkan suara berat dan dalam itu sambilmengulurkan tangan duluan. Wajahnya garang. Senyumnya nanggung. Ada luka di alis kanannya yang tebal. Ifan menerima uluran tangannya dengan sedikit senyum, kuatir berlebihan. Sambil menyebutkan namanya sendiri.
Nama aslinya Udin. Tapi semua orang memanggilnya dengan nama Grandong jelas Pranoto. Ibisa menangkap keterkejutan dan sedikit ketakutan di wajah Ifan.
Oh, hehe komentar Ifan pendek sambil menghela nafas.
Isegera mengalihkan pandangannya. Jatmiko yang duduk di sebelah kanan Udin atau Grandong sudah berkenalan dengan Ifan tiga bulan lalu. Meski tak akrab tetapi mereka berdua biasa saling bertegur sapa dan kadang mengobrol tentang musik atau burung. Bukan burung yang itu lho? Tapi yang benar-benar bisa berkicau.
Satunya lagi berkaca mata, kurus dan sayu menyambut uluran tangannya dengan gontai. Semoga bukan anak junkiesinsting Ifan menyelidik sambil harap - harap cemas.
Edi katanya singkat.
Ifan pun memperkenalkan diri sambil mengambil tempat duduk di dekat mereka. Memesan kopi dan mengambil cemilan.
Kamu mau ikutan nggak?” Tanya Jatmiko tiba-tiba membuat Ifan bengong karena memang tadi sama sekali tidak tahu apa yang sedang mereka bicarakan.
Ikut apaan?
Sudah pernah dengar ini belum, Fan?”
Pranoto dengan suara lirih setengah berbisik memaksa Ifan mempertajam pendengarannya. Jatmiko, Grandong dan Edi saling mengerling,membertanda satu sama lain, seperti meragukan sesuatu. Serahasia apakah yang akan kudengar, pikir Ifan.
Grandong baru saja dapat ilmu bagaimana mendapat uang dengan mudah. Biar Grandong yang menjelaskan. Silakan. Ifan bisa kita ajak. Kan kita butuh minimal lima orang
Ifan langsung duduk tegak. Informasi seperti ini yang selalu dicarinya.
Aku dapat informasi dari sumber terpercaya
Grandong membuka narasinya.
Ada jin atau makhluk halus yang suka memungut uang yang jatuh di jalan. Imenyimpannya. Dengan ritual tertentu, kita bisa meminta jin itu memberikan penemuan mereka kepada kita kata Grandong dengan nada serius.
Bulu kuduk Ifan perlahan meremang. Makhluk halus? Haduh!
Tapi apa itu bukan mencuri namanya? Kriminil? Mengambil yang bukan hak kita
Ifan menutupi ketakutannya dengan alibi lain.

Enggak dong. Kan jin itu menyerahkan sukarela kepada kita setelah kita melakukan ritual. Dan lagi dia mengambil sesuatu yang sudah jatuh di jalan. Bukan mencuri di lemari seperti tuyul sergah Grandong membela diri juga membeli jin yang entah siapa namanya dan bagaimana wajahnya.

Tapi ini jin lho, hati Ifan kecut sebenarnya, bagaimana kalau ia pingsan atau bahkan mati terkejut melihat jin itu nanti.
Bagaimana? Mau ikut nggak?  tanya Pranoto.
Ifan termangu-mangu. Belum menjawab.
Ini sudah Rabu sore. Kamis malam kita mau kumpul di rumah GrandongKalau kamu tidak mau ikut, kami terpaksa cari orang lain. Waktunya sudah mepet
Pranoto seperti memojokkan Ifan, memaksanya untuk segera mengambil keputusan.
Didorong oleh keingintahuannya yang tinggi, Ifan akhirnya mengangguk meski masih ragu-ragu. Seperti apa ritualnya? Apa benar menghasilkan uang?
Kita berlima akan memulai ritual ini jam dua belas malam. Duduk melingkar, telanjang, mengitari nampan berisi sesajen yang nanti kusiapkan Grandong melanjutkan petunjuknya.
Tanpa busana gitu? Hiiii….
Ifan bergidik. Keempat pemuda lainnya tertawa-tawa.
Telanjang dada, maksudku. Boleh pakai celana. Tapi kalau kamu mau udo blujut, bugil, juga nggak apa-apa
Goda Grandong membuat semua terbahak-bahak.
Sesajen? Kening Ifan berkerut-kerut.
Mata kita harus terpejam selama ritual itu. Setelah aku baca mantra-mantra yang sudah seminggu ini aku hafalkan, makhluk halus itu akan datang dan meletakkan uang hasil temuannya ke atas nampan di tengah area yang kita lingkari.
Mantra? Ini syirik pikir Ifan.
Isempat berpikir untuk mundur tapi jiwa petualangannya memanggil.
Ah, aku akan ikut dan membuktikan bahwa mereka salahDan aku bukannya ikut ritual syirik, aku hanya ingin ikut sedikit mencicipi pengalaman baruPikirnya mencoba mencari pembenaran atas keputusan yang diambilnya senja itu.

**

Bunyi ponsel yang melengking membangunkan lamunan Ifan di siang bolong itu. Badannya yang sedikit tambun bergerak mengambil ponsel bututnya di atas meja dalam kamarnya yang berantakan.

Jangan lupa nanti malam, Fan”
Pranoto yang menelponnya. Kamis yang akan menjadi sejarah dan legenda dalam jejak petualanganku, Ifan bersorak dalam hati.
Siap. Beres.”
Jawabnya mantap. Imerasa beruntung menjadi bagian dari sekelompok orang gila yang mau mencoba apa saja untuk mendapatkan uang.Mengalahkan ketakutan dan menembus batas.

Sudah, gih sana tidur. Ntar malam biar nggak ngantuk
Pranoto menyarankan sesuatu yang masuk akal. Benar, jangan sampai dia tertidur di tengah ritual nanti.
Oke!”
Mantap sekali dia menjawab.
Aku jemput kamu jam delapan bakda Isya
Pranoto mengingatkan sekali lagi sebelum mengakhiri percakapan mereka.
Ifan bersegera mengambil posisi berbaring di tempat tidur usai menutup telponnya.
Namun meski ia memaksakan diri, siang itu ia tak berhasil tidur. Ngeri membayangkan seperti apa makhluk halus yang akan datang itu.Bagaimana kalau ia lapar dan tidak makan sesajen tetapi malah mengambil korban salah satu dari mereka. Bagaimana kalau korbannya adalah Ifan. Cenatcenut sendiri ia memikirkan beberapa kemungkinan terburuk.

**

Rumah Grandong kecil saja. Sempit bahkan. Hanya ada satu ruang tamu sekaligus ruang makan tanpa meja kursi perabot. Satkamar tidur dan satu kamar mandi. Semuanya berdekatan posisinya. Tipe 21? Ya begitulah kira-kira. Dia tinggal sendiri sepertinya.
Berbagai aksesoris aneh memenuhi dinding-dinding rumah itu. Kebanyakan berwarna hitam, abu-abu dan merah darah yang menyeramkan. Adabeberapa tulisan seperti tulisan arab tapi Ifan ragu tak bisa membacanya dengan jelas. Mungkin itu yang disebut rajah. Sebuah tasbih besar dominanmenggantung di tengah dinding ruangan berseberangan dengan pintu masuk. Kelewang dan samurai tiruan pastinya bertengger di dinding lainnya.Gambar-gambar seram hampir mendominasi seluruh ruangan. Namun ada juga selembar kaligrafi terpajang di dinding. Gambar Kabah meski kecil. Adasetumpukan kitab di meja kecil di pojok ruangan.
Siapakah Grandong sesungguhnya? Pikir Ifan. Dukun? Pemuja setan? Tapi Pranoto tadi bilang Grandong ini dianggap agak kyai oleh teman-temannya. Kyai apa?
Ifan menyesal tak sempat mengenal lebih lama teman barunya ini terlebih dahulu sebelum dia memutuskan bergabung dengannya. Bagaimanakalau ada yang terbunuh malam ini? Bagaimana kalau sebenarnya Grandong membutuhkan dan ingin mengambil tumbal salah satu dari mereka?
Sudah makan semuanya kan? 
Tanya Grandong memecahkan hening yang tercipta di antara perasaan suram mencekam.
Sudah jawab Pranoto, Jatmiko dan Edi hampir bersamaan.
Ifan hanya mengangguk kecil. Apa Grandong sudah makan? Itak mau dimakan Grandong malam ini? Penampilannya menyeramkan. Baru malam ini Ifan memperhatikan bahwa ada gigi -gigi Grandong yang tampak lebih tajam dari gigi pada umumnya yang pernah ia lihat. Bibirnya terlalu merah untuk lelaki. Apakah ia minum darah? Apakah ia keturunan vampire?
Hiiii…..

**
Mereka berbasa - basi sebentar sambil mendengarkan kembali penjelasan Grandong. Tidak ada yang berani bergurau mala mini ternyata.Semuanya tampak tegang. Setidaknya begitulah perasaan Ifan.

Pukul dua belas malam kurang tujuh menit, semua bersiap di dekat nampan berisi sesaji di area lingkaran yang telah ditandai dengan kapur. Ifan bengong ketika keempat kawan lainnya dengan tenang membuka baju, bahkan celananya.
Celananya dilepas, Fan. Kan harus pakai celana dalam saja kata Pranoto.
 Duh. Beneran nih pake celana dalam doang?”
Ifan merasa keberatan sebenarnya. Ini tengah malam di rumah orangApakah Grandong ingin memastikan bahwa tak ada seorang pun di antara mereka yang membawa senjata? Ataukah dia semacam orang yang sakit jiwa dan hendak memperkosa?
Wah, Ifan semakin was was.
Fan?
Tegur Grandong dengan suara agak keras.   Beneran ya?
Gagap-gagap Ifan bertanya kembali. Ingimemastikan dan berharap ada sedikit keringanan untuknya.
Iya, beneran dong. Gimana sih. Bukannya sudah dibilangin kalau pake celana doang”
Jawab Pranoto yakin karena Grandong hanya diam melotot.
Ya iya sih. Tapi kupikir pakai celana tuh ya pakai celana ini. Bukan celana dalam”
Ifan tak ingat sama sekali tentang aturan yang ini. Tampaknya ia melewatkan keterangan Grandong atau Grandong lupa menerangkan ini padanya.
Yo wis lah. Sekarang sudah tahu kan. Cepetan lepas gih ujar Grandong sambil melirik jam dinding. Dia mulai tak sabar. Hampir jam dua belas malam.
Ifan tak punya pilihanDia terjebak dalam situasi ini. Tak bisa menghindar lagi.

**

Aduh. Dingin banget nih. Ini pasti gara-gara lubang atas dan bawah pintu yang terlalu lebar. Angin malam menerobos masuk dan Ifan yang duduk membelakangi pintu menjadi korban utamanya. Tapi untung juga dingin, jadi ia urung ngantuk. Karena menahan dingin, ia jadi tetap terjaga meski prosesi aneh ini mengharuskannya untuk merem, menutup mata.
Grandong yang memimpin upacara mulai mengeluarkan kemenyan, menyalakan dupa. Bau mistis segera menyebar ke seluruh ruangan. Bulu kuduk serasa berdiri atau memang benar-benar  berdiri. Mantra yang dibaca Grandong dengan irama naik turun juga bunyi-bunyian yang seram membawa seluruh penghuni ruangan dicengkram ketakutan dan kengerian. Sepertinya yang dikatakan Grandong bahwa ada makhluk halus yang turut hadir dalam upacara mereka ini akan segera datang.
Jantung semakin berdebar kencang ketika Grandong mulai melemahkan suaranya dan perlahan -lahan semakin rendah nada dan intonasinya. Lalu senyap. Sepi. Semua menunggu. Menunggu dalam diam. Dupa merasuk wangi anehnya ke dalam hidung. Asap mengabut di sekitar mereka. Bahkan menampar ringan wajah-wajah para pemuja duniawi tetapi mengaku spiritual ini.
Ada bau busuk tiba-tiba menerobos di antara wangi aneh kemenyan. Kengerian semakin terasa, horror. Mungkinkah ini artinya jin yang diharapkan datang itu sudah mulai memasuki arena?
Apakah upacara mereka ini akhirnya berhasil. Perasaan takut, ngeri dan juga harap-harap cemas menyelimuti mereka. Bau busuk itu semakinmerasuk.

Ifan curiga sedikit dengan bau busuk yang mencurigakan ini. Sepertinya bau ini sangat dikenalinya. Apa mungkin? Ah, masa sih? Oh. Sekarang ia mulai yakin. Ini….aduh!
Oh, pantesan. Tiba-tiba dirinya menyadari sesuatu. Makanya ia heran kenapa tadi setelah perutnya serasa kembung dan uh mules sekali, bahkan iakebat kebit menahan sakit perutnya, tiba-tiba ia merasa legaRupanya yang membuat perutnya mulas sudah keluar dengan bebasnya dan memenuhi ruangan ini.
Ada perasaan bersalah, tetapi melihat keempat kawannya kelihatannya begitu khusyu', ia tak ingin menggangguIa biarkan teman-temannya tetap menutup mata dalam posisi duduk melingkar. Diam-diam ia beringsut meninggalkan area lingkaran tersebut dan bergegas menuju kamar kecil. Ia sudah tak kuat lagi.
Selepas dari kamar mandi, ternyata teman-temannya masih bergeming. Karena perasaan bersalahnya, ia menaruh empat lembar lima ribuan ke atas nampan kayu di tengah - tengah lingkaran mereka berlima. Mengambil posisi duduk bersila kembali, Ifan melanjutkan tapanya.
Ufh, leganya. Ia berfikir sekarang aku tak berutang dengan siapapun karena telah mengeluarkan bau busuk dan membuat mereka tersiksa. Sudah kubayar.

**

Wah! Beneran! Aku tidak bohong, ris. Kami benar-benar berhasil. Setelah kami membuka mata, kami melihat ada uang dua puluh ribu di nampan bundar itu. Gila! Aku nggak nyangka, ternyata Grandong benar”
Berapi-api Ihsan menceritakan pengalaman tadi malamnya  kepada Aris. Mereka berdua tampak mojok di sudut warung. Kening Aris berkerut -kerut menyiratkan rasa antara percaya dan tidak kepada sahabatnya. Ia mungkin sedikit menyesal karena tidak mau diajak ke pertemuan semalam.
Sementara itu di balik pintu warung, Ifan tersenyum-senyum bahkan nyaris tertawa kecil.


Komentar