Indonesia di Mata Penyair

Indonesia di Mata Penyair


penulis: dian nafi dkk

Buku Online Antologi Puisi Indonesia Di Mata Penyair adalah Buku Online yang ditulis beberapa penyair dari Indonesia, Malaysia juga putri Indonesia penyuka puisi yang di tinggal di Taiwan. 

Awalnya terbit di evolitera, 2011 dan diterbitkan kembali di Jakartabeat.net,2011 
agar manfaatnya lebih bisa dirasakan seluruh umat. 

Kumpulan puisi ini muatannya adalah pandangan para penyair tentang Indonesia, berisi kenangan, harapan, gugatan dan semacamnya. 

Paling tidak buku online sederhana ini, bisa menjadi kado Istimewa bagi Indonesia. 
Bertepatan dengan perayaan Hari Bumi 22 April ini, Jakartabeat.Net merilis buku elektronik (e-book) Antologi Puisi berjudul Indonesia di Mata Penyair. E-book berisi kumpulan puisi karya sejumlah penyair Indonesia, semisal Acep Zamzam Noor, Soni Farid Maulana, Kirana Kejora dan lainnya ini, secara khusus mengangkat pengalaman ke-Indonesiaan para penyairnya yang berangkat dari berbagai latar belakang profesi dan suku di Indonesia.
Tersedia untuk diakses publik, diunduh dan disebarluaskan lewat situs Jakartabeat.Net, rilisan buku ini juga terselenggara berkat kerjasama dengan Komunitas Penulis Imajinasi Sastra, atau lebih dikenal sebagai KOPI Sastra. Menggunakan lisensi Creative Commons, Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License, buku ini menjadi bagian dari kegiatan Festival KOPI Sastra 2011 yang bertajuk PerpustaKOPI.
Dalam keterangan resmi di situs festival ini, disebutkan bahwa PerpustaKOPI sendiri merupakan perpustakaan terbuka secara online yang nantinya akan terus diisi oleh siapa saja yang ingin mendokumentasikan e-book buatannya di sana.
"Siapapun berhak menerbitkan karyanya sendiri tanpa terkungkung mitos bahwa pengarang belumlah pengarang bila karyanya tidak masuk media massa dan diterbitkan buku. Ini sejalan dengan pandangan bahwa karya sastra seharusnya dibebaskan dari bayang-bayang komoditi dan persentase untung rugi," demikian pernyataan resminya.
Meski begitu, kehadiran e-book tak lepas dari kritik. Bentuknya yang virtual membuat banyak pecinta buku yang merasa kehilangan momen khas membaca buku fisik, seperti berat dan wangi kertasnya saat dibawa, menurunnya fokus membaca hingga aspek nostalgis lainnya.
Namun tak bisa dipungkiri, kehadiran teknologi digital semisal e-book, mailing-list dan blogsendiri di kalangan sastrawan Indonesia memang cukup penting, mengingat ranah digital kian menjadi media produksi dan konsumsi alternatif yang murah dan ramah lingkungan. Terlebih lagi, peta sastra Indonesia dalam 10 tahun belakangan ini memang disemaraki oleh menguatnya fenomena sastra di situs jejaring sosial semisal kemudian.com, mediasastra.com hingga fiksimini.com.

Buku ini bisa didownload gratis di Jakartabeat.net.


Komentar