Demak Dan Film, Dari Kartini hingga Mengejar Cinta sampai ke negeri Cina


Demak Dan Film, Dari Kartini hingga Mengejar Cinta sampai ke negeri Cina

Kota Demak sebenarnya sarat dengan sejarah yang bisa diangkat ke kancah nasional dan internasional. Sayang sekali kota kecil kami ini belum lagi mendapatkan kesempatan yang pantas dan layak, terutama dalam per filman. Seingat saya, hanya dua kali kota Demak dengan masjid Agung Demaknya ini dishooting untuk film.

Yang pertama dulu pada tahun 1980-an saat saya masih duduk di bangku SD, ada shooting film Kartini. Karena Kartini pernah belajar membaca dan mendalami Alquran surat Al Fatihah dengan kyai sholeh Ndarat di masjid Agung Demak ini. Bulik saya alias adik dari ayah saya turut menjadi figuran dalam adegan ini, bersama teman-teman lainnya menjadi teman-temannya raden ajeng Kartini.

Tapi itupun menurut ibu saya, bintang film yang waktu itu memerankan tokoh Kartini (mbak Yenni Rachman) tidak sanpai selesai dengan sempurna shooting nya karena keburu pingsan.

Kabarnya film Kartini akan dibuat lagi dengan bintang film lebih baru, kekinian. Adalah poster yang memajang siluet bintang kenamaan Dian Sastro waktu.itu telah bersliweran di time line saya. Senang sekali rasanya bahwa film epik sejarah yang ada nuansa Demak di salah satu bagian kecilnya akan dimainkan oleh bintang sekelas Dian Sastro. Saya berharap ada di lokasi ketika nantinya pengambilan adegan.

Tapi sampai tengah Maret ini belum tampak ada proses atau progress apapun tentang film Kartini yang baru. Bukankah momen yang tepat untuk meluncurkannya adalah bulan April? Atau mungkin adegan di masjid Agung Demak ditiadakan?

Setelah puluhan tahun berlalu, baru pada tahun 2014 kemarin ada lagi shooting di masjid Agung Demak. Film Mengejar Cinta Sampai ke Negeri Cina ini dibintangi Adipati Dolken. Dan rasanya sungguh bangga tak terkatakan saat pengambilan adegan di masjid bisa kami saksikan langsung. Menampilkan persis betul apa yang biasanya terjadi di sini merupakan keberhasilan tim film meriset dan menangkap yang esensi dan khas dari lokasi ini.

Yang saya maksud antara lain ada banyak penjual buku tentang sejarah masjid Agung Demak, wali songo dan lainnya yang suka menawarkan dagangannya pada para peziarah. Di sinilah seorang pemain figuran melakukannya dengan apik saat menawarkan buku tuntunan sholat pada Eriska Rhein. Lalu Eriska dengan trampilnya menggunakan momen itu untuk menyentil Adipati Dolken yang memang tidak sholat, dan lebih memilih kongkow kongkow saja di teras serambi masjid Agung Demak.

Sebuah adegan yang singkat tapi manis dan mencakup banyak hal.

Waktu kami menyaksikan film besutan bang Fajar Bustomi ini baru sempat kami menyadari waduh ternyata penampakan fisik masjid Agung Demak itu sederhana sekali ya. Ya memang sederhana banget sih aslinya. Seolah gambaran tentang betapa low profilnya sultan fatah penguasa kerajaan Demak dan para sunan aka wali songo.

Tapi hebatnya kami tetap menangkap keagungan dan kemagisannya. Subhanallah.

Sayangnya kami bahkan tak bisa menyaksikan film itu dari kota kami sendiri, karena Demak tidak lagi punya bioskop. Duh.
Padahal dulu pada masa kejayaan dan masa keemasan kerajaan Demak, seni visual ini merupakan yang paling hits dan digemari masyarakat. Perwayangan menjadi media paling efektif yang dipilih oleh para wali songo utamanya Sunan Kalijogo untuk menyampaikan pesan-pesan moral dan menyisipkan nilai-nilai kebaikan serta ketauhidan kepada masyarakat. Baik rakyat jelata maupun para elit penguasa. Sehingga sungguh sangat disayangkan jika media visual yang terbukti sukses itu kini malah dikebiri bahkan disingkirkan dari kota kami.

Mungkin tadinya bisa dimengerti beberapa kekhawatiran yang menyelimuti banyak pihak. Bahwa bioskop bisa menjadi arena yang memancing pada kemaksiatan sehingga semestinya tidak ada di kota yang dijuluki sebagai kota wali dan kota santri. Tapi lihat saja sekarang, ketika bioskop sudah tidak ada tetap saja kemaksiatan itu meraja lela di kota kecil kami ini. Dengan hadirnya banyak warung remang-remang di sepanjang jalan lingkar, juga beberapa tempat karaoke-an yang yach begitulah. Jadi sebenarnya kalau mau jujur dan jernih memandang, bukan bioskopnya loh tetapi orang-orangnya, mentalnya.

Atau mungkin karena ada temuan bahwa bioskop di Demak tidak begitu laku, kurang penonton. Tentulah kurangnya animo ini disebabkan karena film-filmnya mungkin tidak layak dan pantas bagi warga Demak. Kalau saja pengelola bioskop cukup cerdas dan bijaksana tentulah memfilter film-film apa yang bisa menghibur sekaligus mendidik warga. Sayangnya yach memang tidak banyak film seperti itu di Indonesia.

Saat saya akhirnya berkesempatan berkolaborasi dengan mbak Gina S Noer (istri mas Salman Aristo) dengan dua cerpen saya menang di kompetisi yang diadakan penerbitnya waktu itu sehingga kemudian dibukukan, kami akhirnya sempat hendak akan me-filmkan cerita yang saya tulis dengan sebagian setting Demak ini.

Sayangnya kemudian penerbit mbak Gina tidak mulus perjalanannya sehingga kemudian tutup, sehingga rencana menovelkan dan me-filmkan kisah yang saya tulis itu belum kesampaian.

Terus terang seolah ada beban dan tanggung jawab moral yang saya rasakan di pundak saya sampai saat ini. Karena saya akhirnya terjun ke dunia kepenulisan (meski berlatar belakang arsitektur) sehingga semestinya saya turut memperjuangkan agar Demak ini semakin dikenal luas di kancah nasional dan internasional baik dalam bentuk literasi maupun visual. Baik dalam bentuk buku fiksi dan non fiksi, maupun film.

Beberapa waktu lalu ada juga penulis keturunan Tionghoa yang lahir di Indonesia tapi sekarang tinggal di Amerika, yang meminta saya untuk mengirimkan naskah novel dengan muatan lokalitas Demak yang kuat. Terus terang saya tertantang. Saya membayangkan bahwa jika novel ini berhasil masuk ke dalam fit and proper test.nya berarti layak juga difilmkan. Saya jadi punya harapan. Tapi terus terang saya juga khawatir dan takut. Saya butuh bantuan. Sehingga embrio dan ide yang berkecambah dalam kepala dan coretan coretan saya bisa benar-benar diejawantahkan dan dikemvangkan dalam.sebuah cerita yang layak, pantas dan mumpuni.
Saya tak ingin ketergesa-gesaan justru akan membuyarkan.

Kita semua tahu tahap development, pengembangan dan pembangunan cerita adalah bagian yang krusial serta memerlukan kerja extra.

Belum lagi nanti saat menerjemahkan novelnya ke dalam bentuk visual aka film. Akan ada tambahan kerja berat lagi.

Mungkin selagi menunggu itu semua berproses dan mewujud, semoga ada yang terketuk pintu hatinya untuk menghadirkan lagi layar bioskop ke kota kecil kami. Sehingga kami tidak perlu lari-lari atau engklek dulu ke Semarang kalau mau nonton film di bioskop. Aduuuh, capek dan boros. Ya kan? :D

Semoga impian saya tentang Demak dan film ini akan terwujud. Aamiin.

Komentar