Tangis Di Haflah Khotmil Quran



Tangis Di Haflah Khotmil Quran

Alhamdulillah, akhir Mei lalu taman pendidikan Alquran (TPQ) Sultan Fattah yang didirikan dan dirintis bulikku dua puluh dua tahun lampau sukses kembali menggelar acara khotmil quran.

Dan istimewanya pada tahun ini, anak sulungku menjadi salah satu peserta khataman.
Alhamdulillah.

Ibu, adikku dan anakku nomer dua pun turut hadir dalam perhelatan ini. Sedangkan aku wira-wiri dalam double peran sekaligus, sebagai orang tua aka wali santri dan juga guru TPQ. hehe.

Lebih heboh dan bikin deg-degannya adalah rupanya pada hari dan tanggal yang sama ini aku juga harus sharing kepenulisan di tempat lain.


Karena tak ingin membuat anakku risau, aku sengaja tidak memberitahukan double acara ini. Sebab sudah kuperkirakan aku bisa ada di dua tempat sekaligus pada saat yang dibutuhkan. Kepada panitia sharing kepenulisan, sudah kusampaikan keadaanku yang sebenarnya. Dan mereka memaklumi. Sehingga perkiraanku, aku akan tiba kembali di tempat prosesi khataman persis ketika mereka turun dari panggung dan salaman dengan dewan asatidz.

Tapi rupanya adikku keburu tahu kalau aku juga handle acara lain, dan dia marah-marah. hehehe...
Kok tega, katanya. Hadeuh, aku sudah ketar ketir aja, apalagi salah seorang ustadzah yang kebetulan juga sepupuku bilang kalau khataman sudah selesai. Sementara aku masih di tempat lain. Padahal setelah mereka turun dari panggung itu, ada acara cuci kaki orang tua masing-masing.

Bisa kubayangkan betapa masygul nantinya kalau ibuku aka sang nenek yang harus duduk di kursi untuk dicuci kakinya oleh anakku. Sebab mewakili diriku.

Alhamdulillah ternyata ketakutanku tak terjadi. Informasi sepupuku tadi ternyata keliru. Jadi setelah aku mengebut dari acara sharing kepenulisan di sekolah lain menuju tempat prosesi khataman, persis pas mereka mau turun dari panggung.

Leganyaaaa...puoool..
Aku langsung lari ke arah dewan asatidz yang berdiri berjejer di bawah dekat panggung. Tidak lupa mengirim pesan sms ke ibu dan adikku, memberitahu mereka kalau aku sudah standby di tempat.

Dus, ketika anakku turun dan bersalaman, tanganku di sana untuk dia cium.
Ketika prosesi basuhan, kakiku di sana untuk dia cuci.

Bisa dibayangkan seperti apa tangis yang mengalir dari sudut mata kami masing-masing. Dia, anak lelakiku itu, terbawa suasana yang diciptakan prosesi khataman.
Aku, tangisku double haru. Hampir saja aku melewatkan momen indah dan berkesan ini, dan mungkin saja akan menggores luka di hati anakku sepanjang masa. Tapi Allah menyayangi kami.
Adikku dan seorang pengunjung lain mengabadikan foto dan video prosesi ini, dan membuat anak lelakiku itu kembali menangis saat menyaksikan rekamannya.
Ummmmiiiiiiii...


Komentar