TIGA HAL YANG BIKIN AKU HISTERIS

TIGA HAL YANG BIKIN AKU HISTERIS




KETEMU DAN SALAMAN DENGAN EROS SO7
kalian harusnya melihat caraku mencuri kesempatan agar bisa mencerap energi kreatif eross
aku berdiri pura-pura cuek di sisi berseberangan dengan barisan para menwa yang rapat menjadi pagar antara audience dengan jalur sirkulasi tempat Eross akan lewat.
sempat diingatkan untuk berdiri di belakang pagar menwa itu bersama audience lain, tapi aku menolak

pas Eross mau lewat, aku pura - pura santai. biasa saja. tetapi begitu Eross hampir di depanku. aku berbisik, Eross. dia menoleh ke arahku, memberi senyum terbaiknya dan menjabat tangan erat tanganku. lama sekali. sampai terayun ke depan dengan langkahnya yang terus melaju. dia baru melepaskannya ketika aku merenggangkan jemariku.

oh oh.
kalian harusnya melihat aku jejingkrakan setelah itu. sampai memukul punggung seorang penonton yang ada di sebelahku. sebegitu hebohnya sampai kaosnya hampir tertarik tanganku. dan aku yakin teriakan hebohku bersamaan jejibgkrakanku itu pasti membuat senyum Eross semakin lebar. masih ada orang seumuran dia yang heboh ketemu dia :D

oh my god. oh ghost..oh ghost..
itu tadi benar - benar eross. dan aku berhasil ketemu langsung dan berjabat tangan dengannya.

1996 - 2012
setelah  enam belas tahun  cuma jadi fans dari jauh.

KETEMU DAN SALAMAN DENGAN SABRANG NOE LETTO PANULUH
Hati kecilku tahu, jika aku tertarik dengan panggung dan pertunjukan, ini bukan semata karena bintangnya di sana. Tetapi dunia entertainment show dan event organizer adalah salah satu bidang yang pernah dijalani lelaki itu yang kusebut sebagai Mentari, setelah dulu pernah kusebut sebagai Gerhana karena gelapnya pernah melintasi hidupku.
Berada di backstage, mengingatkanku padanya, aktifitasnya. Aku membayangkan dirinya di  tempat ini, di belakang panggung. Aku menjadi seolah dirinya di sini. Aku merasakan situasi yang biasanya melingkupinya, meresapi suasananya, sibuknya, asyiknya, tegangnya. Jadi bukan semata Letto atau Noe-nya yang menarikku berdekatan dengan panggung, tetapi sebab kisah mentariku yang sekarang entah di mana itu yang memicuku. aku serasa berjumpa dengannya di ruang rindu ini, di kesibukan persiapan pertunjukan, di gegap gempita perayaan dan antusiasme pengunjung dan sibuknya para kru.
Tapi bertemu Noe Letto juga jadi tujuanku kali ini. Aku selalu mengagumi orang-orang kreatif seperti Gerhana eh Mentari. Gelisah mengintip ke arah backstage dari balik pagar besi bercat hitam setinggi tubuhku, aku mencari cara bagaimana agar bisa masuk ke sana.
Tiba-tiba seorang pria berkaos hitam berwajah bersih keluar dari pintu pagar besi. Tergesa aku mendekatinya. Aku mengira dia pasti salah satu kru Letto.
“Letto datang, mas?”
“Iya” jawabnya sambil tersenyum ramah.
“Mas Noe juga datang? Mas Sabrang?”
“Iya”
“bisa bantu saya masuk mas? Saya pingin ketemu mas Noe”
“Bisa. Tapi sebentar ya, saya masih ada urusan. Nanti saya kembali’
Pria itu bergegas pergi dan benar saja ketika dia melintas aku melihat tulisan CREW besar di punggung kaosnya. Oke, semantara waktu aku lega. Aku ada peluang untuk bisa masuk. Mas  yang tadi itu sudah menjanjikannya kan?
Sambil menunggu aku menjajal memotret dengan kameraku wajah-wajah orang di dekatku. Karena jika malam hari aku tidak yakin hasil kameranya akan bagus. Tetapi setelah kucoba beberapa settingan, hasilnya lumayanlah. Aku siap berfoto ria bersama dengan mas Noe yang anak seorang Emha Ainun Najib, salah satu idolaku yang lain. Budayawan yang egalitair dan relijius.

**

Padahal aku di sana dengan kamera tergenggam di tanganku, tapi belum berhasil foto dengannya. Karena aku terlupa, termangu. Sibuk menyambutnya yang datang tiba-tiba dari arah yang sama sekali tak kuduga. Karena kupikir mas Noe sudah di dalam pagar besi itu. Tapi ternyata ia baru datang setelah aku berdiri di pintu itu beberapa menit ini. Tuhan memang sayang padaku, memberikan rejeki ini untukku. Wajahku pasti berseri, aku yakin itu. Aliran kebahagiaan pelan merayap memasuki relung sanubari.
 “Mas Sabrang….”
Seruku lirih menyebut nama kecilnya.. Sabrang Mowo Damar Panuluh.
Dia pun ramah tersenyum, tersadar bahwa aku pastilah penggemarnya. , Ia menggenggam erat tanganku.
“Siapa ya?” 
Oh, dia sempat menanyakan itu. Dan aku bodohnya tidak menyebutkan namaku dengan jelas.
“Eh, nanti bisa minta fotonya ya mas. Saya juga mau memberikan buku saya”
“Iya..iya” jawabnya sambil tersenyum ramah.
Matanya menyiratkan kesediaan untuk berbincang denganku lebih lama.  Sayangnya karena didorong polisi yang mengawal dari belakang, kakinya pun melangkah masuk melalui pintu pagar besi itu. Namun karena tangannya masih menggenggam telapak tanganku, otomatis aku tergerak untuk ikut masuk. Lagipula itu juga yang kuinginkan. Namun seorang tentara galak dari dalam pagar itu menghadangku. Tanganku dilepaskannya dari genggaman tangan mas Sabrang.
“Ini siapa?”
Tidak ada yang bisa menjawab. Karena memang tidak ada seorangpun yang mengenalku. Mas Sabrang menatapku gamang. Aku berharap ia mengucapkan sesuatu dan meminta tentara itu mengijinkan aku masuk. Tapi aku kemudian memakluminya ketika ia tak berucap sepatah katapun kemudian berlalu. Ia baru saja mengenalku tadi. Jika tidak ada yang mengenalku di sini apalagi dia yang orang jauh.
Dan aku termangu di luar pagar menyadari kebodohanku. Kenapa aku tadi tidak segera saja menyerahkan bukuku padanya. Tidak minta foto bersamanya segera. Tidak perlu masuk ke pagar itu kan? Semuanya juga bisa dikerjakan di luar pagar, tadi itu, waktu kami bertemu hanya berdua karena sepertinya memang tidak orang lain selain aku yang menyadari kehadiran dan keberadaannya. Iya kan? Tadi itu kesempatanku, peluangku, tapi aku melewatkannya begitu saja. Bodohnya aku. Sialan. Ops. Menyesal sekali jadinya. Aku seketika teringat pameo yang mengatakan bahwa keberuntungan adalah ketika persiapan bertemu dengan peluang. Luck is when preparation meets opportunity. Mentalku saja tadi yang belum siap karena tak segera tangkas mengambil peluang dan bertindak cepat. Iya kan?
Uh oh. Mudah-mudahan nanti masih ada peluang melakukan apa-apa yang belum sempat kudapatkan, foto, menyerahkan buku, minta tanda tangan dan foto bersama. Aku tolah toleh mencari seorang kru yang tadi berjanji untuk mengantarku.
Wah! Tapi tadi aku beneran ketemu langsung dan salaman dengan Noe ya? Ngobrol lagi! Beneran kan? Memikirkan anugrah itu kudapatkan barusan, langsung tubuhku jingkrak-jingkrak kegirangan. Tidak memperdulikan pandangan heran yang mungkin datang dari orang-orang di sekitarku. Aku jingkrak – jingkrak lagi.
Oh yes! Yes!
 
KETEMU DAN SALAMAN DENGAN RIZAL ARMADA
Aku buru-buru  lari ke lantai atas untuk menyelesaikan tugas pagi ini. Menjemur cucian dengan tergesa-gesa sembari meneriaki anak-anak supaya bergegas mandi. "Kenapa mi. Ini kan hari libur," protes si bungsu yang malas mandi. 
"Mau ada Armada datang ke masjid. Ayo buruan, Jangan sampai telat!"
"Armada ki sopo?" dengan polosnya si bungsu bertanya pada sang kakak yang juga masih malas-malasan selonjoran nonton tv. Sementara dari atas, aku melotot gemas. Yang sbnrnya tadinya aku juga gak kenal Armada. Adalah seorang sahabat maya sekaligus guru menulisku yang pertama2, yang membawa nama vokalis itu. Perusahaan ahensi tempatnya bekerja dulu pernah kerjasama dengan brand rokok yang mengusung band ini kelilingan sumatera. Suatu ketika saat nelpon
Dia pamer kalau sedang duduk sebelahan dengan Rizal, vokalis band, di arena konser di Sumatra. Yang mana sih?pikirku saat itu karena aku belum begitu ngeh
Tapi karena yang pamer ini guru yang notabene aku kagumi, aku sadar vokalis band yang ia maksud pasti bukan sembarangan orang. "Mau nitip salam,gak?"
Yach,nitip salam gimana,kenal aja nggak, batinku. Tapi dari promosi guruku itu aku jadi memperhatikan si vokalis itu kalau pas muncul videoklip tv
Di kemudian hari aku juga baru nyadar kalau ada postingan guruku di fb yang menggambarkan bgm antusiasme,terutama cewek2 saat nonton konsernya
Kusambar baju terbaruku yang sedianya akan kupakai lebaran nanti. Peduli amat dengan komentar ibu atau adikku nanti kalau lihat kelebay-anku ini
"Wah,pagi2 amat datang padahal hari libur. Eh baju baru?" benar saja dugaanku. Tanpa berhenti dari keasyikannya berkebun,ibu menyambut kdtgnku
"Ada band Armada mau dtg konser ntar malam,siang ini rombongannya mau ke masjid dulu," jelasku singkat. "katanya mrk mau bakso ik,di mana y?"
"Oh pantes pake baju baru,mau ada tamu dari jakarta," ibu yang terbiasa dengan kegiatanku liputan sana sini jadi manggut2.
"Coba hubungi sepupumu aja,
Kan kedai baksonya msh gres," usul ibu,"harus pastikan dia buka kedainya ntar sore atau nggak.soalnya semalam kok gak buka."
Aku langsung telpon. Tapi nggak diangkat.
Sementara itu mataku juga bolak balik mengamati WA,menunggu kabar teman2 yang jalan dari semarang untuk liputan&city tour
Kayaknya sepupuku kelelahan sejak beberapa hari ini semangat dengan kedai barunya. Duh,padahal aku sempat mention Rizal(yang baru saja kufollow)
Aku nawarin siapa tahu dia mau makan bakso di kedai sepupuku. Kabar anak2 band Armada pengen bakso kudpt dari teman yang ikut meetup semalam.
"Bu,ke masjid dulu y," pamitku sembari nitipin si sulung yang sudah langsung ngejogrok dpn tv.Si bungsu nggak mau ditinggal,ia juga mau ketemu Armada
"Kok lama,mi?" keluh si bungsu padahal aku sudah bawakan buku buat dia baca selagi menunggu. 
"Ya,namanya juga rombongan banyak org."
Padahal mataku...
..pun bolak balik lihat WA. 
Aku nunggu di masjid aja ya,tulisku td ke teman koordinator.Sembari membyangkan spt apa pertemuanku ntar dengan Rizal
Aku slalu excited untuk ketemu org2 hebat. Kuanggap mrk ini punya energi yang sgt besar,yang bisa kuserap energi&daya kreatifitasnya,berharap bisa ..ketularan kreatifitasnya,magnitude,magnificentnya. Seketika berkelebat gambar2 di kepalaku mengingat memori perjuanganku untuk bertemu..
..neo letto alias sabrang lor putra emha ainun najib. Juga gitarisnya sheila on seven aka SO7, Eross Candra. Kuingat betapa besar energi mrk
"Mrk sampai!" aku histeris saat baca WA terbaru. Si bungsu bergegas bgn&mengikuti langkah2 pjgku ke arah parkiran masjid. 
"Mana Armadanya?"
Pertanyaan si bungsu sbnrnya mewakili pertanyaanku juga.Kutekan penasaran,sampai akhirnya si mbak dari konsultan PR menjelaskan ttg citytour
Rupanya city tour ini cuma diikuti para jurnalis. si mas2 Armadanya entah di mana. Intinya kita baru ketemu mrk ntar malam jelang mrk konser.
"Dan kyknya si adik gak bisa ikut ke tenda pers karena ada di dalam arena konser&hy yang 17 thn ke atas yang boleh masuk,"jelas si mbak konsultan PR 
Terpaksalah aku menenangkan si bungsu yang kecewa karena kemungkinan gak akan ketemu Armada&membujuknya untuk tinggal di rumah saja. #MBTM
Seharian itu aku&tim ke bbrp destinasi,meliput tempat2 wisata&destinasi di kota kecilku. Yang berkesan tentu saja saat ke tempat pembuatan bedug
Temen,tekun,jujur,sabar,narimo,ikhlas. Prinsip2 tirakat pengrajin bedug ini kemudian kucuitkan di twitter&mention Rizal,juga rokok sponsorny
Sampai sore kami tiba di lokasi konser,ternyata msh blum jlas di mana keberadaan anak2 Armada ini.Aku sudah mau putus asa saja saat maghrib dtg
Nggak enak sama ibu karena nitip anak2 kelamaan,sama capek juga nggak jelas kpn org yang ditunggu2 ini akan dtg, membuatku nggak jenak. 
Sedang nggak sholat jadi agak gak.kemrungsung pas maghrib benar2 dtg. Tapi gak doyan makan karena keinget anak2 di rmh. Sialnya malah digodain tmn2
Katanya aku gak doyan makan karena resah nungguin Rizal yang gak dtg2 juga. alamak. Ya itu juga sih,tapi yang lbh merisaukan sbnrnya aku gak enak.
kalau pulang kemalaman. Siapa yang antar nanti sementara tmn2 baliknya ke semarang,dan gmn menjelaskannya ke ibu meski beliau pasti mengerti
Lha wong dulu aku mau ketemu neo letto aja pakai nyebrang bbrp kali dari rumah ke sebrang alun2. Sampai pulang&tidur dulu,lalu kembali lagi..
tengah malam nyebrang alun2 lagi setelah di-sms korlap konser kalau neo letto on the way ke lokasi konser. Dus aku bergegas nyegat&alhm ketemu


Tapi neo letto kan anaknya emha,jadi ibuku setuiu aja. Sedang rizal ini siapa. Btw,ini kan urusan kerjaan yang hrs tuntas,jadi mudah2an ibu is fine lah
Bakda maghrib terhibur dengan konferensi pers yang mendtgkan pakar etnomusicologi&pemenang kompetisi bedug thn ini&thn lalu yang mirip kecenganku..
akhir2 ini.kecengan yang bikin aku sesaat lupa usia. Dia 15 thn lbh muda dari aku&kami terlibat crush. It's embarassing actually,but it's so.
ifficult to just erase him from.my mind. Kami sbnrnya sudah lama saling mengagumi dari jarak jauh.&pertemuan darat yang kedua bbrp bln lalu..
malah memercikkan api2 dalam jiwa kami,aku ingin lepas dari situasi itu karena merasa tak pantas tapi tak tahu caranya.Eh ini di dpn mata malah.
ada yang mirip wajah,postur,gestur dan kenaifannya. Gmn gak naif,ia bilang ama EO supaya diberi kesempatan manggung brg Armada. What?! Hey!
How dare him! Dream on!Don't dare! Nggak sengaja aku ngejerit guyon gitu tapi dengan ekspresi serius,sementara yang lain padha ketawa2 denganr yang naïf
"Langkahi dulu mayatku,mbak ya?"seloroh salah seorg tmn. Hampir semua org di tenda pers skrg tahu kalau aku ngebet bgt pengen ketemu Rizal
Hahaha. Ben wae lah. Biarin aja. Mungkin seruangan itu cuma aku yang (tiba2) ngefans Rizal. Teman2 satu tim bahkan terang2an bilang gak kenal
Sampai jam 9 malam yang dijanjikan bhw akan ada konferensi pers dengan Armada,tak juga tampak tanda2 akan dimulainya sesi plg kutunggu ini. Duh.
Aku hampir balik kanan, nyaris putus asa. "Aku pulang aja ya," desisku. Beberapa teman2/jurnalis bhkn sudah ada yang hengkang,keluar dari arena.balik. Bentar lagi,tanggung,sisi hatiku yang lain bicara. "Nah! Ini yang ditunggu2 datang!" si mbak konsultan PR spt memberi kode padaku. Ufh!akhirnya! Dan bisa ditebak bahwa  aku histeris ketika akhirnya bertemu!


SIAPA LAGI YANG BISA BIKIN AKU HISTERIS?
Orang setipe mereka yang ingin kutemui juga adalah Piyu-nya Padi dan mas Budjana-nya Gigi. Meskipun dengan Budjana aku sudah beberapa kali bertemu dalam mimpi, tapi kalau ketemu langsung pasti deh energinya lebih dahsyat.

Aku selalu terpukau dengan orang-orang kreatif macam mereka. Dulunya dengan Ariel juga, tapi sejak kasus itu memang jadi agak ilfil ya. hehe. Bukan sok suci lho. Cuma karena jadi ketahuan kalau dari mana dia dapat energi kreatifnya, jadi kepikiran 'halagh yo wae'. Gitchu :D

Dan belakangan aku juga ingin ketemu Maher Zain dan Humood. 

Komentar