improving writerpreneurship

Post Top Ad

Tampilkan postingan dengan label endorsment. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label endorsment. Tampilkan semua postingan
April 18, 2016

Life Style Dan Fashion Blogger

by , in
Life Style Dan Fashion Blogger




Beberapa kali saya  sempat menemukan status ataupun cuitan yang mengumumkan rekruitmen blogger dengan niche life style dan fashion. Meskipun sudah mulai iseng membuat semacam blog OOTD alias Outfit Of The Day di hasfashion.blogspot.co,id tapi masih belum cukup punya keberanian untuk ikutan mengajukan diri. 

Kenapa eh kenapa?

Karena oh karena ya belum merasa cukup fashionable. hehe...

Namun tetap iseng terus untuk mendokumentasikan dan mengarsipkan tampilan OOTD terutama kalau sedang mengisi sharing kepenulisan di berbagai tempat dan kota. Juga saat menghadiri berbagai event. Sayang kan sudah  berfoto, selfie dan bernarsis ria tapi tidak didokumentasikan. Hahaha...Alamaaak kepedean :D

Coba cek beberapa postingannya ya, cekidot ^_^

Merah


Jingga/Oranye


Kuning


Biru




Nila



Ungu


Pink


Colourful


Abu-abu



Hitam



Emas



Coklat


Kalau kamu, siapa life style dan fashion blogger favoritmu?




Februari 03, 2016

Sama-sama komoditi, apa bedanya?

by , in
Sama-sama komoditi, apa bedanya?


Beberapa waktu padha ribut-ribut masalah menurunnya daya serap pembelian buku cetak, harga bahan pokok cetak yang makin mahal, toko buku yang kurang mendukung dan seterusnya. Beberapa majalah cetak gulung tikar membuat para penulis makin galau. Alamaaak.

Mau nggak mau bisik-bisik sampai yang terang-terangan dalam bentuk artikel ataupun catatan di fesbuk, cuitan di twitter ataupun postingan di blog itupun cukup membuat kethar kethir juga.

Tapi saat berkendara suatu sore dari  arah rumah ke arah rumah ibu, dan melewati perumahan baru yang sudah mulai tertata,  banyak kedai yang masih ramai, juga beberapa toko roti yang baru dibuka di sebelah toko roti lama, mobil bak yang nge-drop barang-barang (dagangan mestinya)  di depan swalayan, toko busana yang juga makin menjamur, tiba-tiba saja sebuah pikiran melintas,

Lha yo, lha wong ya sama-sama komoditas. Rumah, makanan, jajanan, busana, dan lainnya saja masih dibutuhkan sehingga terus berjalan  meski keadaan perekonomian konon katanya amburadul. Kan buku kan sama juga, masih dibutuhkan. Apalagi buku dan membaca adalah investasi. Iya kan?

Sama-sama komoditas, jadi ya masih lah, masih akan jalan. Insya Allah.



Februari 03, 2016

Resolusi Sehat Musti Diwujudkan

by , in


 Resolusi Sehat Musti Diwujudkan



Berhubung diriku (bersama teman-teman) sedang dalam program untuk mewujudkan resolusi sehat , maka berikut ini barang-barang yang ingin kudapatkan.

1. Aku cari jaket untuk lari kayak gini nggak ada  di kota kecilku. Padahal aku sudah muter-muter ke beberapa toko di seluruh sudut kota dan juga kios-kios di pasar. Konon katanya kalau kita lari-lari pakai jaket ini, keringat akan lebih mudah keluar  sehingga cocok banget sama program untuk merampingkan tubuh. Hehehe:D



2.  Setiap pagi aku sama anak perempuanku (karena anak laki-lakiku masih belum sembuh dari khitannya) lari-lari keliling alun-alun yang lokasinya depan rumah. Target seharusnya sih lima putaran ya, tapi seringnya hanya dua putaran. Kadang malah cuma sekali. karena anak perempuanku keburu nonton film kartun lovely Juju. Nah, sepatu yang nyaman akan bikin kita enjoy larinya. Dan pastinya hasil fotonya akan instagrammable kayak mbak Dian Sastro yang jjuga hobi banget lari tuh. 



3.  Selain lari atau jalan sehat, renang juga menjadi salah satu acara yang diagendakan. karena di samping menyehatkan dan membuat bugar, juga seru kan kalau main-main air. Ahaha :D


Baju Renang Diving Dewasa Wanita (Panjang) Ungu




4.
Pasangannya baju olah raga ya jilbab. Pas  kebetulan lihat kerudung ini ciamik nih, ada motif bunga-bunganya gitu. Siiip. 



5.

Setiap  harinya, meski kadang malas dan capek,  harus meluangkan waktu satu jam untuk senam atau pillates. Gurunya? Oh ada rekaman Youtube kok, tenang aja. Nah, mat alias landasan ini  penting banget supaya tidak terantuk ke lantai langsung. Nggak mungkin pakai sajadah kan ya? :D

Terus berguna juga kalau nanti akhirnya gabung sama teman-teman lain yang berminat untuk Yoga. Karena Yoga seems sexier deh :D



Januari 25, 2016

Review Novel Ayah, Lelaki Itu Mengkhianatiku

by , in
Review Novel Ayah, Lelaki Itu Mengkhianatiku




Nemu review novel terbitan Divapress ini di blog pembaca, jadi kita bagikan di sini ya.
ditulis oleh Dini. terima kasih Dini, semoga sukses selalu juga untukmu :)

Penulis: Dian Nafi
Penerbit: DIVA Press
Jumlah Halaman: 208 halaman
Cetakan Pertama: Mei 2013

Aku baru saja selesai membaca bukunya mba Dian Nafi "Ayah, Lelaki Itu Mengkhianatiku...: Kenapa Kau Menikamku, Sayang?!" Meskipun agak telat karena novel ini  terbit Mei 2013 silam. Yah, namanya juga baru nemu di Perpustakaan Kota. Termasuk buku baru di sini, hehehe...

Novel ini bercerita tentang Ratri, seorang Ibu Rumah Tangga muda. Ia baru saja lulus SMA saat menikah. Setelah aku hitung-hitung usianya sekitar 33 tahun, mengetahui usia pernikahannya saja hampir 15 tahun.

Ratri seorang wanita Jawa dengan kekhasan sifat lembut dan nrimonya itu suatu saat terluluhlantakkan hatinya demi mendengar kabar bahwa suaminya, Mas Ir yang polos itu, berselingkuh. Dia dibalas perselingkuhan sang Suami setelah pengorbanannya yang telah begitu besar selama lima belas tahun pernikahan.
Siapa yang bisa tenang dengan keadaan sepertiku? Susah payah merawat anak-anaknya, rumahnya, ayahnya, ibunya, keluarga besarnya yang dari luar tampak terhormat tetapi sebenarnya kacau. Sedemikian besar pengorbananku, dan inikah balasannya?!
**aku membayangkan betapa menderitanya sosok Ratri ini**

Padahal suaminya adalah sosok lelaki yang baik, dididik dengan ajaran agama yang cukup, berpendidikan, dan sukses dalam karir. Sosok lelaki yang tidak neko-neko, bahkan sangat tak berpengalaman dengan perempuan. Lalu bagaimanakah lelaki polos itu bisa berselingkuh?

Aku setuju kalau waktu itu dia memang sedang apes. Apes yang didapat karena rasa kasihannya. Atau mungkin karena kebodohannya, seperti kata-kata Ratri saat dia sedang berada di puncak amarahnya. Ya, aku juga setuju kalau dia memang bodoh. Lagipula kucing mana yang tak akan memakan ikan yang dengan sengaja disediakan? Ini lagi-lagi katanya Ratri, hehehe...

Saat Ratri baru saja mengetahui kelakuan suaminya, saat-saat dia sedang mengamuk membadai pada suaminya yang menciut itu, di sanalah justru aku membaca dengan tertawa-tawa, geli. Kupikir aku akan bisa merasakan apa yang Ratri rasakan saat itu. Tapi dia justru sukses membuatku tertawa. Adegan itu sangat lucu.
"Kenapa tidak kau usir saja? Kasih uang dan suruh dia pergi. Beres!" Belum lagi pesakitan di depanku menjawab, telah kuberondong dengan pertanyaan dan tuduhan-tuduhan berikutnya.
"Dia mengaku kemalaman dan kehabisan uang. Tidak punya tempat tinggal karena terusir dari rumah kos yang belum dibayar." Lelaki pengkhianat itu kembali bicara.
"Lha, memangnya kamu Dinas Sosial?" Kata sapaan "mas" entah ke mana, hilang ditelan kemarahanku yang memuncak.
"Dia meminta diizinkan menginap semalam saja."
"Tapi kamu kan laki-laki!" sahutku, cepat dan pedas.
Dia terdiam lagi. Berpikir keras, kurasa.
Memang, laki-laki yang tergoda perempuan hampir pasti sudah tidak punya otak lagi. 
Hahaha... Itu salah satu yang bikin aku ngakak. Ada di Bab 7: Mengguntur halaman 75. Aku bisa membayangkan betapa bersemangatnya Ratri yang biasanya lemah lembut itu memuntahkan lahar panas dari mulutnya. Kasihan juga mas Ir itu, hehe...

 Aku sempat mengira novel ini akan happy ending. Sempat di-PHP-in saat membaca kalau mas Ir itu tiba-tiba senang berdendang, lagunya Jason Mraz "I Won't Give Up." Si mas Ir sedikit berubah dari lelaki kaku dan pendiam menjadi lelaki menampakkan kesungguhan cintanya pada sang Istri terang-terangan. Kukira keduanya bakalan menyadari bahwa mereka memang saling mencintai beneran, bukan lagi bersama karena dulunya dijodohkan, tapi benar-benar cinta! Tapiiiii.... ternyata lumayan menggantung, bahkan siap-siap untuk penderitaan selanjutnya: Ratri tertular penyakit kelamin dari suaminya yang sudah selingkuh itu. Ampun deh, kasian amat yaaa...

Tapi itu mungkin hanya pandangan orang awam sepertiku saja. Inilah sisi menarik dari dunia tulis-menulis yang belum kuketahui. Penulis adalah Tuhan bagi tulisannya. Ia berhak membuatnya begini dan begitu. Dan mungkin aku ini masih terlalu idealis, maunya akhir yang bahagia saja, hehehe...

Tema Rumah Tangga dan Perselingkuhan seperti ini selalu menarik. Karena realitanya juga tak selalu bahagia, jadi bijak juga mba Dian Nafi menyuguhkan realita ini juga ke dalam tulisannya. Biar kita-kita para pembaca apalagi yang masih single, bisa lebih berhati-hati nantinya. Daaaan... Peringatan juga nih buat para Istri dan calon Istri, bahwa pasangan kita itu bukan sepenuhnya milik kita. Selayaknya anak dan segala sesuatu yang ada di muka bumi ini, pasangan juga hanya titipan Tuhan. Dia bisa diambil kapan saja, bisa membuat kesalahan-kesalahan yang membuatmu tak habis pikir, maka karenanya serahkan saja dia pada Tuhan. Dan pada Tuhanlah seharusnya cinta yang paling purna kita persembahkan...

Tiga Bintang deh buat Ayah, Lelaki Itu Mengkhianatiku... Sukses dan terus berkarya, mba Dian Nafi ^_^

sumber : http://asyiknya-menulis.blogspot.co.id/2014/10/pendapatku-tentang-novel-ayah-lelaki.html

Post Top Ad