improving writerpreneurship

Post Top Ad

Tampilkan postingan dengan label abroad. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label abroad. Tampilkan semua postingan
Januari 13, 2017

#ngemilbaca Negeri Van Oranje

by , in
#ngemilbaca Negeri Van Oranje


Seru. Dapat values lokal sebab tokohnya dari  berbagai daerah yang berbeda di Indonesia, tapi setting cerita di Belanda

Gaya berceritanya lumayan asyik, ringan, lucu, tapi kita dapat tambahan wawasan tentang banyak  hal. Penokohan kuat. Setting detail. Alur maju mundur

Gimmick dan kemisteriusan Geri plus kecurigaan pada Jeroen bikin page turning. Lima karakter yang berbeda bikin cerita ini kaya. Persahabatan bikin envy

Meski beberapa halaman fast reading atau kadang skip karena terlalu teks (mungkin ambil dari referensi2) ssehingga sedikit membosankan. Kurang smooth aja nge-blend nya

Meski ditulis empat orang, tapi nggak terasa janggal. Jadi kayak ditulis orang yang sama. flashback diselipkan dengan asyik sehingga nggak terasa njeglek/canggung

Di setiap akhir bab dituliskan tips-tips, perjalanan, cari uang, gaul, dll termasuk event-event apa aja di Belanda yang bisa dikunjungi.

Ketegangan terasa saat mereka sama-sama mengejar agar bisa rampung tesisnya. Juga saat sama-sama berusaha mengejar tokoh ceweknya. Ahay...

 Wisuda di Belanda lalu menjadi pengalaman yang sungguh menjadi idaman bagi pembacanya sekarang. Hehehe...

Terus jalan-jalan keliling Eropa jadi penutup cerita ini. 


Makin bikin pengen sampai ke Belandaaaaaaaaa arrrrghh!!!


Juli 18, 2016

Ketika Bakat Ditemukan Selagi Muda

by , in

Ketika Bakat Ditemukan Selagi Muda




Keponakanku yang dulu masa kecilnya diasuh almarhum suamiku karena ayahnya banyak berlayar, kini telah tumbuh remaja dan berhasil ke berbagai negara utk presentasi berbagai hasil riset dan penemuannya. Beberapa kali ke Jepang, korea, Singapura, Malaysia, Thailand, dll. Hampir ke Paris kemarin tapi batal karena situasi tak kondusif (dekat waktunya dg peristiwa bom Paris)

Kesukaannya membaca buku-buku sains sejak kecil ternyata benar berpengaruh pada mindset dan passionnya di masa-masa berikutnya.
Semoga anak-anakku juga akan bertemu coach mereka, menemukan passion mereka dan bisa melejitkan potensi terbaik mereka. Bi idznillah wa bi syafaati Rasulillah.
And the most of all, semoga mereka (juga aku) bahagia dunia akhirat.
#passion #parenting #coach #kids #talent #vision #mindset #aim #sains #research #presentation #diaspora #goingabroad #instalike #instagood #like4like #hope #pray #ramadhan #waiting #happiness

 

 Siapa yang menyangka dia bisa bakal sukses memperoleh pencapaian seperti ini, mengingat saat dia duduk di bangku SMP sembari nyantri di pesantren milik neneknya sendiri aka mertuaku, justru dia sempat dikira menderita 'penyakit aneh'. 

 Ada yang menyangka bahwa dia 'ketemplokan' jin yang memang banyak di pesantren tersebut. Ada yang mengira bahwa ada kelainan dalam pikiran atau jiwanya. dan seterusnya dan sebagainya. 

 Dus, karena 'label gila' yang disangkakan padanya tersebut, yang membuatnya makin tertekan dan 'berbeda' dengan yang lainnya, kakak iparku alias orang tuanya menarik pulang keponakanku ini dari pesantren. Dan merawatnya dengan kasih sayang mereka, penerimaan yang tulus dan dukungan moril serta terus menerus mencarikan obat bagi 'jiwa dan pikirannya'. Alhamdulillah berkat kesabaran dan keyakinan mereka, keponakanku ini sembuh dan kembali 'normal'. 

 

Saat  bertahun-tahun kemudian dia ternyata memperoleh pencapaian ini, barulah kami kemudian menyadari bahwa dia memang 'berbeda'. Jadi apa yang dia lakukan, katakan, sampaikan saat di masa SMP itu sesungguhnya adalah bentuk kritis dan berbagai pemberontakannya terhadap apa-apa yang dia mungkin kurang setuju. Dia punya jalan pikiran yang jauh melompat dari yang lain, dan karenanya dianggap gila, aneh dan berbeda. 

Alhamdulillah, semua orang tidak melihat ke belakang dan menyalahkan siapapun. Namun dari rangkaian kejadian dan peristiwa tersebut, bolehlah kita mengambil ibroh dan pelajaran, bahwa sesuatu tidaklah selalu seperti apa yang kita sangkakan dengan 'kacamata kuda' kita. Selain juga bahwa pengasuhan dan gaya parenting tiap orang tidak selalu sama. Masing-masing khas sesuai dengan karakter anak dan kecenderungannya, serta banyak faktor lainnya yang akan sangat berpengaruh pada perkembangan dan pertumbuhan diri serta jiwa anak tersebut. 



Maret 31, 2016

PERAHU BLARAK UNTUK KELILING DUNIA

by , in
PERAHU BLARAK UNTUK KELILING DUNIA


            
Di samping rumahku ada sepetak halaman yang menjadi tempat favoritku di masa kecil. Karena aku bisa memanjat pohon mangga dan bertengger lama-lama di sana. Di atasnya aku menggambar apa saja yang aku lihat. Orang–orang yang berjalan di alun-alun depan rumahku, atau para bocah dan pemuda yang bermain bola disana. Dari atas pohon mangga ini pula,aku kadang mengintip film yang diputar di layer tancap yang hanya diputar untuk satu musim dalam setahun sekali, di grebeg besar. Dan kebetulan lokasinya di taman parkir di sebelah rumahku.
            Di samping pohon mangga dan tanaman bunga, di sini juga ada sebuah pohon kelapa hibrida. Pohonnya tidak terlalu tinggi seperti umumnya pohon kelapa, sehingga aku bisa dengan mudah menarik dan mengambil daun kelapa maupun batang kelapanya yang sudah tua atau biasa disebut  blarak . Yang selalu aku ingat dan tak terlupakan olehku adalah bermain di atas selembar bagian batang  kelapa atau yang disebut dengan blarak. Ukurannya yang besar, panjang dan lebar, menjadikan  aku dan adikku laki-laki dapat menaikinya seolah–olah kami menaiki perahu. Ada– ada saja peran yang kami mainkan di atas ‘perahu’ tersebut. Kadang kami berperan seolah menjadi nelayan dan memancing ikan-ikan yang kami buat dari dedaunan. Kadang kala aku menggunakan blarak sendiri, dan adikku menggunakan blarak yang lain. kadangkala kami menumpang dalam satu blarak besar. Sedangkan daun kelapanya kami gunakan sebagai dayung.
Bagai bajak laut dan putri  yang diculik pernah pula kami lakoni. Senang sekali bermain pura-pura, bermain peran. Kadangkala kami seperti  pencari mutiara dengan mengumpulkan biji-biji  buah kelapa yang berwarna kuning putih cerah.
‘Hei…kita dapat banyak mutiara. Lihat!.” teriakku.
“Ayo …kita kumpulkan!” adikl laki-lakiku satu-satunya menyahut.
Kami mengumpulkan semua mutiara itu dalam wadah batok kelapa dan menghitungnya bersama-sama.
“Satu..dua..tiga..empat…”
Secara tidak sadar ternyata kami bermain tapi sambil belajar matematika. Kami mengelompokkannya sepuluh– sepuluh.  Lalu menyimpannya dalam perahu kami yang terbuat dari daun kelapa itu. Seru sekali karena kami yang masih kecil, aku  masih duduk di  TK besar  dan adikku di TK kecil, kemudian berkhayal dan bermimpi keliling dunia.
“Aku akan ke Australia,” ujarku
“Aku akan ke Amerika,” adikku tak mau kalah.
“Ke Afrika!”
“Ke Singapura!”
“Kita akan keliling dunia!”
Bahkan mimpi- mimpi kami itu sampai sekarang menjadi seloroh di antara kami. Karena jangankan keliling dunia Negara luar yang kami kunjungi baru SaudiArabia waktu kami naik haji bersama beberapatahun lalu. Subhanallah Walhamdulillah, itu saja merupakan anugerah dan karunia yang sangat kami syukuri. Namun bagaimanapun, cita-cita sekolah ataupun melakukan perjalanan keluar negeri sampai dengan keliling dunia masih merupakan impian kami.
            Masih dengan blarak yang itu, aku kadang berpose seperti seorang Cleopatra yang sedang menaiki perahu kerajaan menyusuri sungai Nil.
Kami menciptakan alur cerita drama kami sendiri dengan gaya bahasa kami sendiri.
            Kadangkala pamanku yang rumahnya dekat dengan rumah kami datang dan membuatkan kami mainan senapan  dari tangkai pohon pisang yang ada di halaman belakang rumah kami. Daun pisangnya di hilangkan sehingga tinggal tangkainya kemudian dipisau diagonal diagonal sepanjang sisinya dengan jarak tertentu. Pada waktu dikibaskan berbunyilah tangkai itu mirip dengan suara senapan. Plethak plethak ! Ramai sekali dan kami menikmati selama pembuatannya dan juga permainan perang-perangan memakai senapan buatan itu.         Lagi- lagi blarak perahu kami gunakan juga sebagai kendaraan kami dalam berperang ini. Adikku menggunakan batok kelapa sebagai penutup  kepalanya layaknya seorang pejuang kemerdekaan di tahun empat lima.
            “Dar! Duar!”
            Pamanku  mengarahkan senapannya kepada kami berdua yang beraksi di atas perahu blarak kebanggaan kami.
“Duar! Dar!” Plethak ! Plethak!
Aku dan adikku bekerjasama membalas serangan paman.
            “Awas…..perahunya bocor kena tembakan senapan!” pamanku meneriaki. Dia seolah-olah jadi tentara Belanda yang menyerang kami.
Aku dan adikku action, perahu blarak yang kami tumpangi kami gerak-gerakkan sendiri seolah oleng karena bocor.

“Awas…perahunya hampir tenggelam. Sebaiknya kita meloncat!” aku memberi aba-aba.
Adikku dan aku pura –pura meloncat ke air, yang kami buat dengan menggunakan sabut kelapa yang kami serakkan ke mana–mana di sekitar perahu blarak kami.
Sampai sekarang kami masih suka tertawa dan tersenyum geli jika mengingat ;permainan yang menyenangkan ini. Betapa  imajinasi kami berkembang liar hanya dengan benda – benda yang terbatas dan apa adanya saja.
            

Post Top Ad