Masjid Tua, Pantai Sampai Makam Tionghoa

Masjid Tua, Pantai Sampai Makam Tionghoa



Jalan-jalan di sela-sela melakukan roadshow promo buku maupun mengisi sesi sharing kepenulisan merupakan salah satu hobi yang semakin lama semakin bikin ketagihan. Dan semuanya seringkali dimulai dari sebuah mimpi. Ketika saudaraku bertugas dinas di Medan, aku langsung punya keinginan untuk pergi mengunjunginya. Eh ndilalah aku dapat tugas untuk mengisi seminar di Medan. Bahkan dua kali dalam dua bulan berturut-turut. Pada perjalanan yang kedua saat pesawat transit sebentar di bandara Hang Nadim, tercetus dalam khayalanku semoga suatu saat bisa turun ke tanah Batam. Dan subhanallah mimpi pun terwujud. Begitu seterusnya juga terjadi pada beberapa kota lain yang akhirnya aku singgahi. Termasuk Singapura.


Saat mendengar tentang kota Pangkal Pinang, benak pun mengawang dan mulai bercita-cita. Semoga suatu saat kaki inipun bisa menapaki sudut-sudutnya.

Populasi Kota Pangkalpinang kebanyakan dibentuk oleh etnis Melayu dan Tionghoa suku Hakka yang datang dari Guangzhou. Ditambah sejumlah suku pendatang seperti Batak, Minangkabau, Palembang, Sunda, Jawa, Madura, Banjar, Bugis, Manado, Flores dan Ambon.
Kota Pangkalpinang merupakan pusat pemerintahan, pusat pemerintahan kota di Kelurahan Bukit Intan, dan pusat pemerintahan provinsi dan instansi vertikal di Kelurahan Air Itam. Kantor pusat PT. Timah Tbk. juga berada di sini. Pangkalpinang juga merupakan pusat aktivitas bisnis/perdagangan dan industri di Bangka Belitung.


Pangkalpinang merupakan bagian dari Provinsi Kepulauan Bangka Belitung yang merupakan ibukota provinsi. Kota Pangkalpinang terbagi menjadi 7 kecamatan, antara lain: Taman Sari, Bukit Intan, Rangkui, Pangkalbalam, Gabek, Girimaya dan Gerunggang. Tepatnya terletak di bagian timur Pulau Bangka.

Pangkalpinang. Katanya, pangkal dalam bahasa melayu artinya pusat atau awal. Tidak lain karena Pangkalpinang berperan sebagai pusat industri pertambangan timah. Sedangkan kata pinang merujuk pada tempat yang ditumbuhi banyak pohon palem. Pangkalpinang menjadi kota terbesar di Bangka yang menjadi gerbang untuk menikmati seluruh keindahan Bangka Belitung.


Beberapa objek wisata yang ada di Pangkalpinang:
  1. Taman Sari
  2. Taman Merdeka
  3. Museum Timah
  4. Masjid Jami'
  5. Gereja Maranatha
  6. Gereja Katedral Pangkalpinang
  7. Vihara Citra Maitreya
  8. Klenteng Konghucu
  9. Pantai Pasir Padi
  10. Pantai Sampur
  11. Pantai telapak kaki dewa
  12. Pantai batu belubang
  13. Lapangan Golf Girimaya
  14. Chinatown
  15. Makam Belanda (Keerkhof)

Untuk bisa sampai ke Pangkal Pinang kita bisa menggunakan transportasi udara.
Bandar Udara Depati Amir melayani penerbangan 13 kali sehari dari/ke Jakarta yang dilayani oleh Sriwijaya Air 6x, Lion Air 4x,Garuda Indonesia 2x. Sedangkan penerbangan dari/ke Palembang sebanyak 1 kali setiap hari yang dilayani oleh Sriwijaya air. Serta Rute Batam - Pangkalpinang- Tanjung Pandan dilayani oleh 2 maskapai yaitu Sky Aviation dan Wings Air.







Bisa  juga lewat laut. Pelabuhan Pangkalbalam melayani angkutan barang seperti ekspor/impor dan perdagangan antar pulau dan angkutan penumpang dengan tujuan Jakarta melalui Kapal Ferry/Roro dan tujuan Tanjungpandan melalui Jet Foil/Kapal Cepat setiap hari. Pelabuhan Muntok melayani kapal cepat dengan tujuan Palembang. Sedangkan pelabuhan Belinyu hanya disinggahi oleh kapal-kapal Pelni. Masih ada lagi pelabuhan di bagian selatan pulau Bangka, yaitu Sadai yang melayani kapal fery dari Pelabuhan Cigading, Banten.

Dari beberapa destinasi wisata di Pangkal Pinang, berikut pilihan prioritas saya jika mendapatkan kesempatan ke sana.

Masjid Jamik merupakan salah satu masjid terbesar di Pangkalpinang, dibangun pada tanggal 3 Syawal 1355 H atau bertepatan dengan tanggal 18 Desember 1936 M,terletak di jalan Masjid Jamik, pada 02°07'47² LS – 106°06'44² BT (48 M 0623692 mU – 9764561 mT).
Masjid didirikan oleh penduduk Kampung Dalam dan Kampung Tengah Tuatunu yang pindah ke wilayah Pangkalpinang dan mendirikan kampung dengan nama atau toponim yang sama dengan kampung asalnya di Tuatunu yaitu Kampung Tengah dan Kampung Dalam. Bentuk fisik awal masjid semi permanen, berlantai semen berdinding papan, beratap genteng, bila dilihat dari atas berbentuk seperti piramida. Bangunannya bertingkat tiga, pada bagian bawah dipergunakan untuk sholat dan pengajian. Di bagian tingkat tengah berfungsi sebagai tempat menyimpan kitab-kitab kuning, buku-buku agama, tikar dan alat perlengkapan masjid lainnya, sedangkan di bagian tingkatan atas berfungsi sebagai menara untuk Muazin mengumandangkan azan.

Salah satu keunikan masjid Jamik adalah antara tangga depan (berbentuk setengah lingkaran) dengan atapnya dihiasi oleh tiang penyangga kecil sebanyak 6 tiang (3 tiang di sebelah kanan dan 3 tiang di sebelah kiri) dapat diartikan sebagai Rukun Iman. Masjid memiliki 4 tiang utama sesuai jumlah khalifaturrasyidin, memiliki 5 pintu masuk, 3 di depan dan 1 disamping kiri dan 1 di samping kanan serta terdiri atas 3 undakan atau tingkatan dengan 1 kubah. Masjid Jamik adalah salah satu Cagar Budaya Kota Pangkalpinang






Kemudian yang eksotis yang perlu dikunjungi juga adalah masjid tua ini. 

Masjid Kayu Tua Tunu terletak di kawasan hutan di Desa Tua Tunu, Pangkalpinang. Kawasan Masjid ini masih berupa kawasan hutan dan kebun masyarakat, namun dilengkapi dengan galeri dan model kampong Bangka di masa lalu. Kawasan ini dirintis dan dikelola Kelekak Community.
 
Untuk menuju kawasan Masjid, dapat mengikuti papan petunjuk arah yang dipasang dari sebuah gang kecil di sebelah Masjid Raya Tua Tunu, Pangkalpinang. Jalan menuju kawasan ini masih berupa jalan kampong yang tidak di aspal dan di beberapa bagian lebarnya hanya cukup untuk 1 kendaraan mobil penumpang. Sepanjang jalan kampong tersebut dapat dilihat kebun-kebun warga seperti kebun sayuran, kebun lada dan kebun nanas, serta melewati sungai yang airnya masih jernih dan sering digunakan penduduk warga untuk mencuci dan mandi.
 
Masjid Kayu Tua Tunu baru dibangun di akhir tahun 2012. Dinamakan Masjid Kayu karena memang bangunan ini seluruhnya terbuat dari kayu. Kayu yang digunakan adalah kayu Cempedak dan Meranti yang diharapkan tahan rayap. Masjid ini mengambil bentuk awal Masjid Jami’ Pangkalpinang yang memiliki 5 tiang kayu di dalamnya.
Suasana yang masih asri dan jauh dari hiruk pikuk kota menjadikan kawasan ini tempat beristirahat yang nyaman. Meskipun demikian, pada hari libur, kawasan ini akan ramai dikunjungi orang serta para pesepeda yang menjelajah alam disekitar Kawasan Masjid.
 
Di dalam kawasan Masjid terdapat galeri yang memuat benda-benda antik dan alat permainan yang sering dimainkan anak-anak Bangka di masa lalu. Terdapat pula contoh rumah panggung yang menjadi ciri rumah-rumah di kebun-kebun di Bangka yang juga dilengkapi dengan Dapuk (tungku berkaki yang sering ditemui di rumah-rumah orang Bangka di masa lalu). Di halaman terdapat sebuah miniature perahu orang Sekak. Untuk menuju rumah, harus menyeberangi kali kecil dengan jembatan bambu yang dililiti oleh sulur rotan.
 
 

 

 Yang tak boleh dilewatkan pula adalah wisata alamnya. Pilihan jatuh pada  Kawasan Pantai Tanjung Bunga.
Kawasan Pantai Tanjung Bunga unik dengan adanya bebatuan pantai yang tersusun indah. Bagi para pecinta wisata minat khusus, lokasi Tanjung Bunga sangat cocok untuk petualangan dengan menyusuri pantai dan alam perbukitan.


Pada bagian arah ke darat Tanjung Bunga memiliki satu kawasan berbukit dengan panorama yang sangat indah kearah laut. Lengkap dengan pemandangan hilir mudik kapal penumpang dan barang, yang keluar masuk pelabuhan Pangkal Balam


Obyek wisata peribadatan terpadu tanjung bunga terletak tidak jauh dari pusat kota Pangkalpinang. Dapat dijangkau dengan durasi waktu tidak lebih dari 30 menit dari pusat kota Pangkalpinang. Sedangkan kendaraan yang bisa dipakai untuk menuju lokasi yaitu dengan taksi atau mobil rental.

Pada saat akhir pekan, banyak warga setempat beserta keluarga mereka datang ke pantai ini untuk menikmati keindahan pantai. Pantai Tanjung Bunga menawarkan keindahan panorama pantai dan bebatuan karang berwarna kemerahannya.




Ada lagi destinasi  wisata yang unik di Pangkal Pinang, yaitu makam Tionghoa berikut rangkaian upacaranya.





Cheng Beng adalah sebuah ritual/sembahyang tahunan sebagai bentuk cinta dan menghormati leluhur. Sangat ramai dan meriah karena seluruh masyarakat tionghoa baik yang ada di Pangkalpinang maupun di perantauan berbondong-bondong untuk berupaya pulang melaksanakan ritual. Ini merupakan bagian dari tradisi masyarakat tionghoa yang menjadi mayoritas masyarakat di kota Pangkalpinang.

Ramainya manusia dan pernak-pernik termasuk persembahan (sesajian) banyak disajikan berkolaborasi. Aneka buah-buahan, ayam/babi, aneka kue, arak, makanan vegetarian, hio/dupa juga lautan uang kertas palsu ada di ritual.

Lembaran kertas yang ditaruh di atas kuburan tersebut menjadi salah satu hal yang menyita perhatian saat puncak perayaan Cheng Beng berlangsung. Serangkaian kegiatan ritual Cheng Beng diawali dengan membersihkan makam di pemakaman tionghoa Sentosa. Kompleks Pemakaman China Sentosa adalah kompleks pemakaman mewah warga Tionghoa yang sudah ada sejak tahun 1935. Pemakaman memiliki luas 27 hektar dan terdapat 11.000 makam di dalamnya.

Makam-makam dibuat dalam bentuk yang berbeda-beda, bahkan ada salah satu makam yang menggunakan batu granit seharga ratusan juta rupiah. Ada juga salah satu Makam yang katanya tertua di kompleks pemakaman tersebut. Makam tersebut adalah milik keluarga Boen Pit Liem yang diperkirakan sudah ada dari tahun 1915.
Pembersihan makam merupakan kegiatan pre-ritual ritual cheng beng. Dilakukan 10 hari sebelum pelaksanaan Cheng Beng dilaksanakan. Sedangkan puncak dari kegiatan Cheng Beng dilaksanakan pada setiap tanggal 5 april (kalender masehi).

Semakin semarak, ritual Cheng Beng dilengkapi dengan banyak lampion, kembang api dan iringan alunan musik Belaz Band atau Tanjidor plus pelepasan lampion bersama. Menurut masyarakat tionghoa sendiri, ritual ini juga momentum reuni. Mempererat tali silaturahmi antar keluarga dan para sahabat. Terlebih mereka datang dari berbagai wilayah, baik dari tanah air maupun mancanegara. Mereka pulang ke Pangkalpinang untuk berziarah ke makam leluhur. Ritual cheng beng bisa di temukan di pemakaman Sentosa yang berada di Jl. Soekarno Hatta, Pangkalpinang.

Seru dan keren ya wisata Pangkal Pinang. Sekarang sih mimpi dulu. Semoga suatu saat benar-benar kesampaian jalan-jalan ke sana. Aamiiin.

Komentar