Photo Quote Novel Matahari Mata Hati

Photo Quote Novel Matahari Mata Hati


Ini dia beberapa photo quote novel Matahari Mata Hati yang dikirimkan teman-teman. Bisa buat inspirasi buat teman-teman yang mau kirim buat Kuis Photo Quote novel Mengejar Mukti.

Selamat berkreasi ya :)


























Alhamdulillah sebagai wujud syukur atas lahirnya novel Mengejar Mukti by Dian Nafi terbitan Bentang Pustaka diselenggarakan ‪#‎GiveAway‬

Simak baik-baik caranya ya...

Ketentuannya sebagai berikut :

1. Like FB page Mengejar Mukti dan https://www.facebook.com/DeeNafi/

2. Upload photo quote kreasimu berdasarkan quote atau kutipan dari novel Mengejar Mukti di akun fesbuk-mu.

(quote-quotenya bisa kamu intip di fb page,  atau https://www.goodreads.com/work/quotes/51549965atau twitter: @kejarmukti atau tentu saja kamu baca langsung novelnya. Bisa didapatkan di sini > https://play.google.com/store/books/details?id=2D3JDAAAQBAJ)

3. Tag Fb page https://www.facebook.com/DeeNafi/ dan https://www.facebook.com/mengejarmukti/ juga teman-temanmu.

4. Photo quote kreasimu ditunggu paling lambat tanggal 21 Agustus 2016.

5. Akan ada 3 pengirim photo quote terpilih yang masing-masing mendapatkan hadiah paket buku bernilai Rp. 250 ribu.

Selamat berkreasi ya:)


ini blurp/sinopsis  novel Mengejar Mukti:
Mukti resah karena kakaknya, Ayu, tak kunjung menikah. Ada saja yang membuatnya gagal mendapatkan calon suami. Karena itu, Ayu melontarkan pertanyaan yang bombastis. Jangan-jangan mereka masih keturunan sunan? Konon, keturunan sunan memang dapat ujian hidup yang lebih berat dan berliku.

Awalnya Mukti tak menggubris hal itu sampai dia mengalami sendiri nasib sialnya. Larasati, gadis pujaannya ternyata lebih memilih putra seorang kiai. Mukti merasa terbanting. Ia jadi berpikir seandainya benar keturunan wali, tentu harga dirinya akan naik di mata Larasati dan yang lainnya.

Demi mengejar sebuah mukti atau kemuliaan, akhirnya seorang Mukti pun pergi mencari tahu lebih jauh silsilah keluarganya. Ia berharap status kehormatan itu memang milik keluarganya. Dari kota ke kota, dari makam ke makam, hari-harinya dipenuhi pengalaman yang tak terbayangkan sebelumnya.

Komentar