Banyuwangi Nan Eksotis Dan Relijius

Banyuwangi Nan Eksotis Dan Relijius

Alhamdulillah, aku dan anak-anak sudah pernah berkesempatan menghabiskan liburan akhir tahun di Banyuwangi waktu itu. Menurutku Banyuwangi merupakan salah satu kota yang eksotis di samping Jogja, Solo dan Cirebon. 

Kami tiba di Banyuwangi sekitar sejam sebelum dhuhur, sehingga kami putuskan untuk langsung check  in ke Hotel Ketapang yang punya special previlege,  view langsung ke selat Bali.




Siang itu usai istirahat sejenak dan makan siang, kami langsung lanjut perjalanan ziarah ke salah satu makam auliya di Banyuwangi yang terkenal. Maqom Waliyullah Datuk Abdurrahim bin Abu Bakar Bin Abdurrahman Bauzir ini berada di jalan Basuki Rahmat Keramat Banyuwangi.




Ada banyak sekali peziarah yang datang dari berbagai kota dan bahkan dari berbagai pulau. Semua  ingin melihat dari dekat dan meneladani sikap serta perjuangan beliau dalam berdakwah mensyiarkan ajaran rahmatan lil alamiin.



Sore selepas dari makam dan juga masjid Baiturrahman Banyuwangi, kami ke hotel untuk mandi, bebersih dan ganti baju. Lalu malam itu kami  habiskan waktu untuk makan malam bersama teman di salah satu tempat makan di sudut Banyuwangi yang juga kaya wisata kuliner. Tidak lupa selfie-selfie selagi menunggu pesanan makanan datang. Ahay :D




Alun-alun Banyuwangi penuh sesak oleh masyarakat yang datang dari  banyak tempat karena memperingati ulang tahun alias hari jadi Kota Banyuwangi. Berbagai hiburan baik lokal maupun artis nasional membuat malam jadi hangat dan meriah. Pak Bupati Azwar Anas pun memberikan sambutan juga penghargaan pada beberapa orang yang punya pencapaian serta kontribusi pada Banyuwangi sepanjang tahun itu.



Ahay, kami tak melewatkan kesempatan untuk naik-naik odong-odong wisata mengelilingi alun-alun banyuwangi, meskipun kami harus menggenjot becak berpenumpang empat itu sendiri. Hahaha. Ayo genjot, genjot terus.




Malamnya kami tepar di hotel karena kecapaian. hiks. Tapi pagi-pagi sekali anak-anakku langsung mengajak berenang di kolam hotel, karena mumpung gratis. Halagh.



Seusai berenang dan mandi pagi, kami sarapan bareng pak Bupati  dan beberapa pengusaha yang kebetulan juga sarapan di hotel ini. Waduh, kesempatan langka ya.

Setelahnya, tak lupa kami foto-foto di banyak spot bagus dalam kawasan hotel yang sejuk dan alami ini.



Sepanjang hari itu  kami menyewa trooper alias mobil  rail untuk mengunjungi banyak tempat di sudut-sudut Banyuwangi. Maksud hati ingin mengejar matahari terbit alias sun rise  di Muncar, tetapi karena tadi anak-anak mengajak berenang dulu sehingga  batal deh nggak lihat sun rise-nya. Tapi kami tetap dimanjakan oleh pemandangan perahu-perahu hias yang banyak sekali jumlahnya di tempat wisata ini.




Dari Muncar, kami lanjut mengunjungi sentra-sentra kerajinan yang ada di Banyuwangi. Lokasinya agak berjauhan satu dengan yang lainnya. Karena memang masing-masing daerah punya andalan kerajinannya masing-masing.

di sentra batik kami bisa lasngsung menyaksikan prose pembuatan batik, baik yang dibuat dengan tangan alias batik tulis ataupun batik printing, cetakan. Tak lupa kami membeli beberapa kain batik untuk oleh-oleh maupun untuk kami sendiri.



Tiba di  kampung dengan sentra kerajinan  bambu, kami disambut dengan hujan deras. Tapi tak menghalangi untuk turun dari mobil dan menikmati berbagai kerajinan serta prosesnya di sana.




Dari sentra-sentra itu kami lanjut perjalanan ke pojok timur kota Banyuwangi untuk bersilaturahim ke salah satu pesantren di  sana. Rasanya adeeem banget masuk kawasan  pesantren ini sebagaimana kalau kita masuk ke banyak pesantren lainnya. Terasa sekali hawa  dan aura Alquran yang sejuk menaungi kawasan ini.



Selepas bertangis-tangisan haru dan bertukar cerita serta bercengkerama dengan para penghuni pesantren, kami lanjut jalan ke Pura. Hebat tho Banyuwangi. Di situlah salah satu bentuk eksotismenya. Karena berbagai agama berdampingan dengan indah dan harmoni. 


Setelah meminta ijin dengan penjaga Pura, kami berfoto-foto di berbagai sudutnya juga menikmati upacara yang sedang diselenggarakan di sana. Para peserta upacara bahkan datang dari Bali selain juga para pemeluk agama Hindu di Banyuwangi.





Singgah ke pasar seni dan membeli oleh-oleh menjadi agenda selanjutnya. Tak lupa makan siang da juga sholat serta istirahat sebentar.

Sesudahnya kami jalan ke sebuah desa yang memiliki reruntuhan peninggalan kerajaan Majapahit. Inilah salah satu situs Blambangan yang selama ini hanya kami baca di koran maupun situs on line. Sayangnya kami susah mencapai lebih dekat lagi reruntuhan itu, karena letaknya di tengah-tengah persawahan.  sedangkan land  trooper hanya bisa sampai di jalan galengan saja.


Sore itu kami ke kafe untuk menikmati kopi dan jajanan khas Banyuwangi. Asyiik..



Kami menghabiskan malam terakhir di Banyuwangi dengan dinner di restauran Dapur Oesing. Menikmati makanan-makanan dan minuman khas Banyuwangi. Serta menikmati musik-musiknya yang eksotis.



Namun anak-anak juga mengajak ke KFC untuk membeli makanan kesukaan mereka. Hadeuh, baiklah. Jadi ke sanalah kami juga menikmati kudapan dan minuman serta kota Banyuwangi dari sisi lain.



Daaan.....sempat-sempatnya loh anak-anak main di Dream Zone di mall dekat KFC Banyuwangi tadi. Yach, dasarnya memang jalan-jalan sama anak-anak, ya mau nggak mau ngikutin maunya  mereka juga yach :D



Selepas berputar-putar lagi ke beberapa sudut Banyuwangi termasuk kawasan yang menuju Kawah Ijen menggunakan land  trooper  yang kami sewa, barulah kemudian kami ke Stasiun Karang Asem untuk melanjutkan perjalanan. Bisa ditebak deh, sepanjang perjalanan kereta itu kami tepar di bangku masing-masing.


Pengalaman tiga hari dua malam di kota eksotis itu telah mengguratkan kesan tersendiri dalam kehidupan kami. Meski demikian ada juga banyak tempat wisata di  Banyuwangi yang belum sempat kami kunjungi. Sehingga kalau memungkinkan, kami ingin sekali untuk bisa berkunjung ke sana lagi. Dan aku sudah pasti akan rajin jalan ke  http://www.traveloka.com/hotel/indonesia/city/banyuwangi-103299  untuk melihat pilihan akomodasi alternatif di kota eksotis ini.


Komentar