Kita Sering Cemas Dan Dibatasi Bayang-Bayang

Kita Sering Cemas Dan Dibatasi Bayang-Bayang



Kita Sering Cemas Dan Dibatasi Bayang-Bayang. Betul nggak? Tak jarang kita juga tidak melakukan sesuatu karena menghindari marah dan pandangan-pandangan yang menghina.

Apa aja tuh contoh bayang-bayang, batasan-batasan dan semacamnya yang kadang bikin kita malah kebonsai, padam sebelum nyala. Akhirnya potensi yang kita sesungguhnya miliki jadi tidak berkembang dengan optimal.

Ini beberapa di antaranya
(disclaimer: ini mungkin hanya terjadi di beberapa keluarga tertentu, sedangkan di sebagian keluarga lain hal tersebut bukanlah masalah)

1. Jangan jualan matengan
Alias jualan warungan dianggap kurang mriyayeni. Padahal lihat saja sekarang justru yang menghebat, sukses, kaya raya dan mengentaskan kemiskinan serta menanggung hajat hidup orang banyak justru para pengusaha restoran.

2. Musik itu loghow, sia-sia. Bahkan ada yang bilang haram.
Akibatnya energi kreatifitas kurang, mengerjakan segala sesuatu tidak pakai seni. Adanya  mungkin marah-marah  dan hanya berbau teknis.
Yang sebenarnya ya tergantung musiknya. kalau kayak punya Zayn atau Habib Syeikh atau Hadad Alwi kan ya malah bisa menambah ketakwaan kita pada Allah dan kecintaan pada Rasulullah.

3. Seni kuwi opo?
Masih berkaitan dengan poin yang sebelumnya, jadi bermacam seni seperti tari, melukis dan sebagainya dianggap bisa membawa kita ke jurang kehinaan, bisa menyerempet ke jalan syetan dan seterusnya.

Memang benar ada kasus-kasus demikian seperti mentor alias seniman senior yang mengelabui dan berbuat asusila dengan mentee-nya dan semacamnya. Tapi itu kan kasuistik.

Menghindari seni membuat hidup garing. Padahal kalau seni dipakai dengan baik, kan ada tuh seni membaca Alquran alias qoriah, meski ini buat sebagian yang lain masih dipandang kurang baik utamanya bagi perempuan. Sebab suara perempuan kan aurat. Iya sih, yach yang perempuan diperdengarkan untuk dirinya sendiri saja dan muhrimya.

4. Perempuan nggak usah terlalu hebat, nanti tidak ada pria yang berani mendekati.
Yach, biar pria yang hebat sajalah yang mendekat. Ya kan? Gitu aja kok repot?:p

5. Yang penting itu ukhrowi.
Yups, betul banget. Tapi jangan sampai melupakan duniawinya juga. Musti jalan semuanya biar seimbang dan kaffah alias sempurna.


Bayangkan kalau Zaha Hadid masih mengikuti aturan kolot bahwa perempuan itu konco wingking dan semacamnya, Dia tak mungkin akan menjadi arsitek hebat yang menjadi kebanggaan dunia. Allahummaghfir lahaa warhamhaa wa aafihaa wa'fu anhaa.


Apalagi ya batasan-batasan yang semestinya tidak kita telan mentah-mentah?




Komentar

  1. Dulu sering ada yang bilang "cah wedok sekolah duwur2 arep ngopo"

    Setuju banget sama tulisan ini :)

    BalasHapus

Posting Komentar