Menanam Hari Ini, Menuai Esok Hari

Menanam Hari Ini, Menuai Esok Hari

Tuhan maha tahu, betapa dalam susah payah dan kesakitanku tadi sudah berupaya menulis beberapa paragraf untuk postingan blog ini. Tapi selagi belum selesai, tiba-tiba saat aku sedang menerima kedatangan bulikku, anakku tahu-tahu sudah mengambil ponsel dari tanganku untuk dia pakai main games. Pas bulikku pulang dan aku nyadar lalu minta balik ponselku, semua paragraf yang sudah kutulis hilang sudah. Hadeuh.

Tuhan maha tahu, betapa dalam kerisauan dan kegundahan sebab anak perempuanku sakit waktu itu, aku tetap berusaha menepati janji datang ke acara bincang reksa dana manulife yang diselenggarakan komunitas blogger.  Mengebut berkendara menempuh jarak jauh dan bergegas pulang agar tetap dapat menunaikan dua-duanya, tugas sebagai teman yang mendukung dan tugas sebagai orang tua.

Tuhan maha tahu atas apa saja yang kita kerjakan. Apa yang kita niatkan. Pun Tuhan maha tahu keterbatasan-keterbatasan kita. So selayaknya kita percaya pada apa yang Dia janjikan. Bahwa jika kita menanam, insya Allah kita akan menuai.

Kadang kala bukan kita sendiri yang akan langsung menuainya karena waktu tidak memungkinkan. Tetapi anak-anak atau cucu-cucu kita.

Itu juga yang bisa kami rasakan dan kami tangkap saat pakdhenya anak-anakku menanam puluhan pohon jati. Beliau dengan tangan dinginnya melakukan itu semua dengan sukarela padahal tahu bahwa belum tentu beliau sempat menikmati hasilnya. Kita tahu butuh waktu puluhan tahun bagi pohon jati untuk tumbuh besar dan bisa ditebang serta dinikmati hasilnya. Beliau melakukan itu untuk keponakan-keponakannya.

Orang-orang tua yang rajin bersilaturahim sesungguhnya juga menanam persahabatan dan persaudaraan yang hasilnya tidak saja berakibat pada diri mereka sendiri, tetapi juga pada anak-anak dan cucu-cucu mereka. Betapa sering kita mendapatkan penerimaan yang baik dari orang lain tersebab mereka paham dengan keramahan dan keluasan persaudaraan orang-orang tua kita.

Dalam hal-hal yang intangible, tak kasat mata saja sedemikian jelas panen akan didapat atas apa yang ditanam, apalah lagi yang berbentuk tangible dan fisik.

Kesadaran dan keinsyafan inilah yang mendorong kita gigih mencari cara-cara untuk bertanam. Kalau bisa mengembangkan sendiri melalui kewirausahaan misalnya tentulah hebat. Tapi jika karena keterbatasan-keterbatasan menyebabkan kita hanya bisa menanamkan sedikit yang kita miliki ke unit usaha teman atau saudara atau kenalan yang terpercaya. Atau untuk lebih mudahnya ditanamkan di lembaga yang teruji, yang tentu saja harus tetap terjaga kesyar'iannya. Karena Syirkah alias bagi hasil sudah ada aturan mainnya dalam fiqh muamalah kita. Kehati-hatian kita memilih tempat dan cara menanam, akan membawa keberkahan tersendiri pada panen yang dihasilkan nantinya.

Komentar

  1. Makasih Mba Dian udah datang jauh2 dari Demak :) Fatimah udah sehat kan mba?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah sudah mulai mendingan. Gantian aku yang tepar :D

      Hapus

Posting Komentar