Behind the scene penjurian naskah

Behind the scene penjurian naskah

Kalau biasanya nulis behind the scene dari buku-buku yang sedang kutulis, kayaknya seru juga kalau nulis behind the scene penjurian naskah nih.

Berhubung wifi rumah lagi macet, karena gabungan ama sepupu, dan dia ada trouble dengan listrik warungnya karena belum nambah pulsanya lagi, so aku beli kartu 3. Terpaksa. Ya iyalah, hidup tanpa internet itu cotho. Ce o the o.

Hatapi sayangnya saat kita butuh nge download, 3 nggak bisa kenceng. Dus, aki terpaksa pergi keluar, ke area dekat sungai yang berseberangan dengan kantor dprd. Ada wifi gratis, tanpa password. So aku duduk tenang di salah satu bangku di sana, mendownload satu per satu naskah lomba tersebut.

Agak malu hati ya sebenarnya.

Ini anak ngapain nongkrong di situ, mungkin begitu pikiran orang-orang yang lihat.

Halagh, tapi peduli amat. Amat aja nggak peduli. Eh maksudnya, kan aku penulis, penulis kan kadang-kadang butuh mood, muse, suasana lain untuk membangkitkan inspirasi. Anggap saja begitu. Duduk dekat sungai itu juga bagian dari pekerjaan penulis. Ahaha.
Begitulah akhirnya meski masuk angin dan keringat mengucur deras karena badan lagi nggak sehat, aku berhasil mendownload semuanya. Sekarang tinggal marathon baca nih. Cemungudh

Komentar