Cinta tak mungkin salah alamat

Cinta tak mungkin salah alamat


Hampir sebulan ini hari-hari terasa berbeda warna. Ada rutinitas yang awalnya sebagai wujud pemenuhan janji saja pada itikad diri agar memenuhi persyaratan sebuah kompetisi, lomba menulis surat cinta. Lalu lambat laun, tiba-tiba ada jiwa yang tersentuh dan bergetar.
Kalau dalam keadaan biasa, kita pastilah kecewa dan kesal jika tukang pos ikut membaca surat-surat cinta kita pada seseorang. Tapi yang ini lain. Kami justru tersentuh dengan caranya memperlakukan surat-surat kami.
Komen-komen yang menyertai saat mengangkut surat kami, menunjukkan bahwa ia membaca sungguh-sungguh surat kami. Subhanallah. Betapa pedulinya ia, betapa empatinya. Sebuah perlakuan yang menganggap kami ada, manusia, berjiwa, punya ruh dan ia memanusiakannya, menghargai.
Seakan kami punya seorang konsultan pribadi yang siap menerima segala keluh kesah, cemas harap dan curhatan curhatan kami semua. Dengan dua tangan terbuka. Membuat perpisahan di depan mata ini terasa semakin berat saja rasanya. Kami akan segera kehilangan diri dan warnanya dalam hari-hari kami. Seorang sahabat yang mengerti. Yang tidak dibayar, tidak menggerutu dan tidak pernah ingkar janji untuk terus mengangkut surat-surat kami.
Apa yang lebih indah dan tulus daripada ucapan terima kasih dan doa berharap kebaikan melimpah kepadamu.
Smoga Allah membalas segala budi baik yang kang pos lakukan.
Aamiin ya robbal alamiin



Komentar