segaris

segaris




aku berada satu garis dengan dia dan dengannya.  dia tak sadar ketika aku memperhatikan dia yang sedang memperhatikannya. dunia memang aneh, tapi di situlah letak asyiknya dunia.

aku bukan cemburu, bukan. sudah lama kutepikan rasa itu karena aku bebas. tapi mungkin juga iya, hanya aku tak mau mengakuinya.
dia bahkan bukan orang yang dipandang cukup pantas. tapi siapa aku, kenapa sombong?
yang jelas tertulis adalah lelaki tak bisa menutupi gejolaknya mengagumi perempuan cantik manapun. meski hati tadinya mungkin tertambat hati yang sebelumnya telah dia temui terlebih dulu.
tapi tentu saja tak ada hubungan antara hati, komitmen dan ketertarikan. ketiganya berbeda posisi meski berada dalam satu garis. seperti yang terjadi saat ini, antara aku, dia dan dia yang menarik perhatiannya.
lambaikan tangan dan ucapkan dag dag pada apa yang mungkin disebut cinta.  karena ternyata jatuh bisa di mana saja, kapan saja, dengan siapa saja dan untuk alasan apa saja atau tanpa alasan.  mata bicara, bahasa tubuh berkata. lelaki tetaplah lelaki. dan untuk kesetaraan, perempuan (mungkin) semestinya boleh poliandri.

Komentar