Rindu Dendam Bojonegoro

Rindu Dendam Bojonegoro

Yang sebenarnya kalau mendengar kata Bojonegoro, api yang dulu pernah singgah seperti meletup lagi. Seorang mahasiswi kedokteran cantik asal Bojonegoro waktu itu sempat membuatku cemburu, karena pacarku semasa kuliah pernah meliriknya.  Ahay. Itu masa lalu.

Mengunjungi semua kota di Indonesia adalah salah satu impianku. Bojonegoro, membuatku rindu dendam. Seolah tak terima bahwa ada seorang istimewa pernah lahir di rahimnya.

Namun rupanya Bojonegoro memang istimewa. Adalah masyarakat Samin yang sedemikian terkenalnya justru karena kesederhanaannya. Masyarakat Samin tinggal di dusun Jepang, salah satu dari sembilan dusun di desa Margomulyo yang berada di kawasan hutan seluas 74,733 Ha. Butuh sekitar dua jam untuk sampai ke sana  dengan kendaraan, jika kita berangkat dari ibu kota Kabupaten Brojonegoro.

Masyarakat Samin terdiri dari kebanyakan orang-orang tua yang gigih berjuang melawan pemerintah colonial Belanda. Dulu ada gerakan yang dikenal dengan nama Gerakan Saminisme yang dipelopori oleh Ki Samin Surosentiko. Mereka menolak membayar pajak kepada pemerintah Belanda, tidak mau bekerja sama, dan tidak mau menjual serta memberikan hasil bumi kepada pemerintah penjajah.

Prinsip dasar gerakannya adalah sami-sami amin (bersama-sama) yang dilandasi oleh kekuatan, kejujuran, kebersamaan, dan kederhanaan. Sampai saat ini rupanya  sikap hidup tersebut berhasil diwariskan kepada anak keturunannya. Gaya hidup mereka sederhana, suka bekerja keras, rajin berdoa, berpuasa, dan berderma kepada sesama. Seiring dalam sikap lahir dan batin, sabar, nrimo, rilo (rela) dan trokal (kerja keras). Sikap tidak mau merugikan orang lain diungkapkan dengan sepi ing pamrih, rame ing gawe. Mereka juga berhati-hati dalam berbicara yang dituangkan dalam ajaran ojo waton ngomong, ning ngomong kang maton.

Dusun Jepang sesungguhnya punya prospek untuk dijadikan Objek Wisata Budaya, melalui paket Wisata Homestay. Di mana pesertanya bisa mengikuti dan menikmati suasana dan gaya hidup masyarakat Samin.


Keturunan Ki Samin yang masih hidup bernama Mbah Hardjo Kardi, yang hidup bersama istri dan tujuh anaknya. Ia merupakan cicit dari R Surontiko yang bergelar R. Suryowijoyo. Mbah Hardjo Kardi  dianggap sebagai pemimpin oleh masyarakat Dusun Jepang. Asal muasal Samin bermula dari masa R. Surontiko. yang sejak kecil dididik oleh orang tuanya, RMA Brotoningrat yang masih keturunan raja, untuk mengenal lingkungan kerajaan. Ia merasa prihatin melihat penderitaan rakyat yang dijajah Belanda. Dalam hatinya ia ingin sekali meninggalkan kerajaan dan berbaur dengan rakyat jelata untuk berjuang melawan penjajah. Setelah dirasa cukup waktunya, ia benar-benar pergi meninggalkan semua kemewahan kerajaan.

Dia merampok harta orang-orang kaya untuk dibagikan kepada rakyat miskin. Jadi ingat Robin Hood ya.  Pada tahun 1840, ia mendirikan perkumpulan pergerakan pemuda yang dinamai Tiyang Sami Amin, yang artinya bersama-sama membela Negara. Dia mengajari anggotanya sikap luhur yang kemudian terus diwariskan kepada seluruh keturunannya. Suryowijoyo memperluas daerah kekuasaannya hingga ke perbatasan Jawa Timur dan Jawa Tengah sekarang, yaitu desa Ploso kabupaten Blora. Di Blora ini pergerakan dipimpin oleh putranya yaitu Ki Samin Anom.

Ajaran inti Ki Samin mengandung lima saran:
Kehendak yang didasari usaha pengendalian diri.
Dalam beribadah kepada yang Maha Kuasa, harus menghormati sesama makhluk.
Selalu mawas diri, melihat ke dalam batin dan menyelaraskan dengan lingkungan.
Sikap dalam menghadapi bahaya atau bencana adalah yakin bahwa itu merupakan cobaan dari Yang Maha Kuasa.
Berpegang kepada budi pekerti.

Ki Samin Anom memiliki seorang putri bernama Paniyah yang dinikahkan dengan Suro Kidin. Mereka memiliki 9 putra, salah satunya bernama Ki Suro Kamidin, yang memiliki 4 anak, yang salah satunya adalah Mbah Hardjo Kardi.

Hingga tahun 1970, masyarakat Samin hidup terisolasi dan bahkan mereka baru tahu kalau Indonesia sudah merdeka. Mereka sendiri lebih suka disebut wong sikep, karena samin kadang memiliki konotasi negative. Di luar masyarakatnya, mereka dikenal sebagai orang-orang yang polos, jujur, dan menolak pajak, sayangnya pula, mereka sering dijadikan bahan lelucon.

Pada umumnya masyarakat Samin tidak mewajibkan sekolah, mereka tidak memakai peci, hanya memakai iket seperti semacam kain yang diikatkan di kepala, mengenakan celana selutut, tidak mau berdagang (karena mereka menilai berdagang masih memiliki unsur ketidakjujuran), tidak mau mencatatkan nikahnya di KUA dan tidak berpoligami, perempuannya mengenakan kebaya lengan panjang dengan sarung hingga betis atau mata kaki, dan mereka anti terhadap segala bentuk kapitalisme.

Agama bagi mereka merupakan  senjata atau pegangan hidup. Mereka tidak membenci agama apapun, karena yang penting bagi mereka adalah tabiat atau sikap. Mereka juga yakin jika orang yang sudah meninggal itu tidak meninggal, hanya sekedar ganti baju saja. Dalam mata pencaharian, mereka menolak berdagang karena ada unsur ketidakjujuran, sama seperti halnya mereka juga menolak menerima sumbangan dalam bentuk uang. Mereka juga memiliki ‘kitab suci’ yang bernama Serat Jamus Kalimasada yang isinya adalah petuah dalam bentuk puisi dalam bahasa Jawa.

Orang Samin tidak mengenal tingkatan bahasa seperti masyarakat Jawa pada umumnya, mereka hanya menggunakan bahasa ngoko. Namun seperti halnya masyarakat tradisional Indonesia, masyarakat Samin sangat senang saling berkunjung meskipun letak rumahnya berjauhan. Menurut mereka, pernikahan dianggap sah meski yang menikahkan hanya orang tua pengantin.

Orang Samin bertani dan  memanfaatkan alam, seperti kayu, secukupnya saja. Mereka menganggap tanah sebagai ibu mereka, yang memberi mereka penghidupan dan kehidupan. Mereka mengolah lahan berdasarkan musim yang ada.

Pemukiman mereka berada dalam deretan rumah-rumah yang terbuat dari kayu jati dan bambu dengan luas yang relatif besar berbentuk joglo atau limasan. Ruang tamu menempati porsi yang luas, sementara kamar mandi dan sumur terletak agak jauh dan biasanya digunakan untuk beberapa keluarga. Penempatan hewan ternak di luar atau di samping rumah.

Mereka biasa melakukan upacara nyadran (bersih desa) yang dilakukan sekaligus dengan menguras sumber air pada sebuah sumur tua. Masyarakat Samin juga sudah mulai tersentuh perkembangan zaman, yang ditandai dengan mulai menggunakan pupuk kimia, dan peralatan rumah tangga dari plastic dan logam.

Banyak nilai kearifan local mereka  yang bisa kita pelajari dan teladani dari orang Samin dengan cara  menikmati kehidupan bersama mereka selama beberapa waktu.

<a href='http://www.bloggerbojonegoro.com/lomba-ngeblog-hari-jadi-bojonegoro-ke-338-experience-bojonegoro-the-origin-of-java-the-real-indonesia.html' target='_blank'><img alt="Lomba Ngeblog Bojonegoro 2014" src="http://www.bloggerbojonegoro.com/wp-content/uploads/2014/11/Lomba-ngeBlog-Bojonegoro-2014.gif" height="250" width="300"border="0" /></a>

Referensi :
Id.wikipedia.org/wiki/Kabupaten_Bojonegoro
Id.wikipedia.org/wiki/Ajaran_Samin


Komentar